Dinilai Lecehkan Profesi Wartawan, Pena Batas Minta Bupati Belu Copot Camat Raihat

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Pernyataan Camat Raihat Raimundus Bele Bau yang menyebutkan media menginformasikan berita ecek-ecek menuai sorotan dari organisasi Persatuan Jurnalis Belu Perbatasan (Pena Batas) RI-RDTL.Ketua Pena Batas, Edy Bau dalam pernyataan pers yang diterima media, Selasa (16/4/2019) menyayangkan pernyataan
Raimundus Bele Bau selaku Camat Raihat seperti diberitakan beberapa media online maupun media televisi.

Disebutkan, dalam pemberitaan tersebut, Camat Raimundus mengatakan kasus penganiayaan terhadap pensiunan TNI penderita gangguan jiwa sebagai berita ecek-ecek. Kami sangat menyayangkan pernyataan Camat.

“Kami ingin pertanyakan maksud berita ecek-ecek itu yang seperti apa. Jika yang dimaksud Camat bahwa berita yang tidak berguna atau berita yang tak berarti maka saya ingin menyampaikan bahwa orang ini tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menjabat sebagai Camat,” tegas Edy.

Dikatakan, yang ingin kami soroti di sini adalah terkait pernyataan Camat Raihat dalam kasus penganiayaan ini. Bagi kami pernyataan Camat ini sangat melecehkan profesi wartawan dan masuk kategori menghalang-halangi kerja wartawan di wilayah Kecamatannya.

“Oknum Camat ini gagal paham namun sangat sok tahu akan pekerjaan wartawan, padahal dirinya tak paham apapun. Sangat memalukan sekali ketika oknum Camat ini mengaku pernah menjadi wartawan sehingga tahu berita yang layak publikasi dan menganggap berita penganiayaan ini sebagai hal lumrah yang tak perlu diberitakan,” ujar Edy.

Lanjut Ketua Pena Batas itu, bagi kami oknum Camat Raihat Raimundus Bele Bau ini sedang mempertontonkan kebodohan dengan membuat pernyataan-pernyataan ini.
“Kami meminta Bupati Belu untuk segera mencopot oknum pejabat bermental seperti ini,” tandas dia.

Masih menurut Edy, dirinya juga sangat menyayangkan pandangan Camat yang mengatakan korban penganiayaan terhadap pensiunan TNI tidak bisa disalahkan dengan menyebutnya sebagai orang gila. Sungguh heran, masih ada Pejabat publik yang tidak memiliki kepekaan sosial terhadap warganya sendiri dan bahkan dirinya sendiri menyuruh pegawainya memukuli dan mengusir korban.

“Sungguh di luar nalar jika Bupati Belu masih memelihara Pejabat tanpa rasa kemanusiaan seperti ini.
Kami minta agar oknum Camat segera meminta maaf kepada warga dan keluarga korban atas pernyataan ini. Termasuk pernyataan yang melecehkan profesi ini. Jika tidak maka akan kami bawa ke ranah hukum,” kata Edy.

Untuk diketahui, seperti berita yang dilansir beberapa media menyebutkan, tiga oknum Anggota Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif Raider 408/SBH diduga melakukan penganiayaan terhadap Pensiunan TNI Orlando Mau Soco (50) salah seorang warga mengalami gangguan jiwa di RT/RW 002/002, Desa Maumutin, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Kamis (11/04) lalu.

Camat Raihat Bele Bau saat tatap muka bersama Kodim 1605/Belu, Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif Raider 408/SBH, keluarga korban Orlando Mau Soco serta warga masyarakat setempat di kediaman korban, Desa Maumutin, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, Jumat (12/04/2019).

Dalam arahannya, Camat Bele Bau melarang keras masyarakatnya untuk membesar-besarkan masalah yang terjadi di wilayah Raihat, Perbatasan Negara RI-RDTL ke ranah luar termasuk ke media sosial sehingga tidak membias.

“Kalau ada kejadian begini, jangan langsung kita kirim kesana. Saya juga malu. Saya tadi pagi dengar ini kejadian su sampai surat kabar lagi. Berita apa ini. Ini namanya berita kecil. Jangan berita kecil dijadikan besar karena kita ini ada di Batas Negara, satu kali muat itu seluruh dunia tahu,” ujar dia.

Dikatakan, dirinya orang kerja sehingga sangat berhati-hati dengan kejadian di wilayahnya yang merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Timor Leste.

“Karena itu masyarakat dukung TNI supaya kita manunggal. Hanya masalah sepele kamu lapor-lapor semua,” ucap Bele Bau.

Lebih lanjut akui dia, dirinya dahulu orang penerangan dan juga mantan wartawan sebagai penulis berita sehingga perlu dikaji secara baik berita seperti apa yang perlu dimuat. Bukannya memuat berita ecek-ecek tapi berita pembangunan.

“Saya orang penerangan. Mantan wartawan juga. Kami penulis berita. Berita itu seperti apa dulu. Jadi jangan kita jual berita yang ecek-ecek. Berita pembangunan tidak pernah ada orang muat. Kalau berita seperti ini cepat sekali,” ungkap dia.