Bawaslu Nagekeo Gandeng GMNI dan REMAS Kampanye Tolak Politik Uang dan Ujaran Kebencian.

Bagikan Artikel ini

Laporan Peter Tenda
Nagekeo, NTTOnlinenow.com – Guna mewujudkan Pemilihan Umum yang demokratis, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Nagekeo mengadakan sosialisasi kerjasama pengembangan pengawasan partisipatif pada Pemilu 2019. Dalam sosialisasi yang melibatkan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Remaja Masjid (REMAS) Baiturahim Alorongga, Nagekeo dilaksanakan kampanye menolak politik uang (money politic) politisasi suku, agama dan ras (SARA), berita bohong (Hoax) serta ujaran kebencian di Aula Hotel Sinar Kasih-Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Sabtu (13/4).

Ketua Bawaslu Nagekeo Yohanes Nanga dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan tersebut menjelaskan bahwa, Bawaslu Nagekeo mulai dari Panwaslu Kabupaten, Panwaslu Kecamatan hingga pengawas Tempat Pemungutan Suara (TPS) sumber daya manusia telah siap. Untuk pengawas TPS telah dibekali dengan pelatihan-pelatihan dan berbagai Materi sebagai penguatan kapasitas pengawas TPS agar mereka mampu bekerja secara baik sesuai amanat Undang-Undang Pemilu 2019.

Akui dia, walaupun komposisi kepengurusan telah rampung untuk urusan pengawasan Pemilu namun semuanya belum cukup dan itu membutuhkan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat untuk mengawasi Pemilu 2019 serentak yang akan dilaksanakan pada 17 April mendatang.

“Dengan kompleksitas persoalan dan luasnya wilayah dan semuanya yang coba kita dalami selama ini, bahwa kalau kita tidak melibatkan semua komponen kita tidak dapat melaksanakan itu semua baik KPU maupun Bawaslu. Maka kegiatan kita hari ini ikhtia salah satunya adalah upaya kita agar bagaimana semua komponen untuk terlibat dan membantu sukseskan Pemilu 2019,” ujar Nanga.

Dijelaskan, Bawaslu Nagekeo telah berkoordinasi dengan aparat Kepolisian dan Kejaksaan setempat, dan telah berkomitmen untuk mengawasi politik uang dan tidak akan mentolerir serta akan bertindak tegas apabila ada laporan mengenai pelanggaran Pemilu dalam hal ini praktek money politic. “Soal money politic kami tidak akan tolerir, money politic adalah racun dari demokrasi,” tegas dia.

Selesai pembukaan dilanjutkan dengan kegiatan kampanye dimaksud dimana para peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut melakukan jalan kaki (long march) menuju tempat umum dengan lokasi sasaran yakni Pasar Danga. Aksi long march diwarnai dengan agitasi publik menolak politik uang, politisasi SARA, Hoax dan Ujaran Kebencian.

Sekretaris Cabang (Sekcab) GMNI Nagekeo, Adolfus Ame dalam orasinya saat aksi kampanye di Pasar Denga menyampaikan hal senada dengan Ketua Bawaslu Nagekeo yang mana mengajak seluruh warga masyarakat Nagekeo untuk menentukan pilihannya menggunakan hati Nurani pada Pemilu 17 April nanti. Diharapkan agar warga tidak terlibat dalam money politic karena harga diri masyarakat lebih tinggi dari pada uang atau materi.

“Saya tidak mau satu suara kita dibayar dengan uang, karena wibawa kita lebih tinggi dari uang,” teriak Adolfus dihadapan warga masyarakat yang menyaksikan kegiatan itu.

Lebih lanjut diingatkan kepada seluruh warga masyarakat Nagekeo bahwa, dalam Undang-Undang Pemilu setiap orang yang terlibat dalam politik uang, yang memberi uang maupun yang menerima uang sama-sama akan dikenakan hukuman.
“Ingat bapak ibu, bapak ibu perlu tau bahwa setiap orang yang memberi dan dan menerima uang akan dihukum sesuai undang-undang Yang berlaku. Bapa mama perlu ingat bahwa kita yang menerima juga akan dihukum bapa mama, maka mari kita wujudkan Pemilu yang demokratis,” terang Adolfus.

Berdasarkan pantuan Media ini, kegiatan jalan kaki dalam rangka mengkampayekan lawan politik uang, politisasi SARA, Hoax dan ujaran kebencian guna mewujudkan Pemilu yang aman, damai dan lancar mendapat pengawalan ekstra ketat dari aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Aesesa, Mbay Nagekeo.