Kualitas Pelayanan Kepada Petani Harus Ditingkatkan

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Kualitas pelayanan kepada para petani terutama dalam mendapatkan pupuk bersubsidi harus ditingkatkan karena setiap tahun pada musim tanam, keluhan serupa pasti saja mencuat.

Wakil Ketua Komisi II DPRD NTT dari Fraksi PDIP, Patris Lali Wolo sampaikan ini melalui pesan singkatnya yang diterima media ini, Senin (8/4/2019).

Menurut Patris, sulitnya para petani mengakses pupuk bersubsidi menjadi kendala utama dalam kegiatan produksi pertanian. Kesulitan ini menjadi pemicu terhadap turunnya produksi padi dan jagung. Karena pupuk subsidi yang disiapkan pemerintah selalu datang setelah usia tanaman tidak lagi membutuhkan jenis pupuk dimaksud.

“Jika pemerintah memiliki komitmen yang tinggi terhadap petani, persoalan pupuk tidak menjadi keluhan tahunan karena siklus tanam setiap tahun hampir tidak mengalami pergeseran yang berarti,” kata Patris.

Wakil rakyat asal daerah pemilihan Ngada, Nagekeo, Ende dan Sikka ini, salah satu faktor yang menjadi penyebab sulitnya para petani mengakses pupuk bersubsidi adalah jumlah distributor pupuk. Dengan adanya distributor tunggal pada tiap kabupaten, terkesan acuh dalam pelayanan kepada petani dan seperti ada monopoli dalam hal ini. Hal ini sebagaimana dikeluhkan petani di Kecamatan Talibura dan Waigete, Kabupaten Sikka dan petani di Mbay, Kabupaten Nagekeo serta petani di Soa, Kabupaten Ngada.

Patris berpendapat, jika pemerintah tidak melakukan pembenahan terhadap tata niaga pupuk bersubsidi, pada tahun-tahun mendatang keluhan serupa akan datang lagi. Karena keluhan soal akses dan kelangkaan pupuk selalu dikeluhkan petani pada periode musim tanam.

“Pemerintah harus cepat cari solusi untuk tambah distributor pupuk di setiap kabupaten dan memperbaiki kualitas pelayanan kepada petani,” tandas Patris.

Dia mengungkapkan, dengan jumlah distributor yang sangat terbatas di setiap kabupaten, akses petani untuk mendapatkan pupuk bersubsidi menjadi mahal. Jika dikalikan dengan biaya transportasi yang harus dikeluarkan, harga pupuk yang disiapkan pemerintah itu hampir sama besarnya dengan pupuk non subsidi. Ditambah lagi dengan datangnya pupuk tidak sesuai dengan usia tanaman, sudah dipastikan berkonsekuensi pada kualitas dan kuantitas produksi padi dan jagung.

“Biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan kualitas produksi, tentu para petani akan mengalami kerugian yang sangat besar,” ujar Patris.