ASN Diminta Giat Kerja Turunkan Angka Kemiskinan di NTT

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta untuk giat bekerja menurunkan angka kemiskinan dan menaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTT yang masih jauh di bawah angka nasional.

Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi sampaikan ini kepada para ASN saat apel kekuatan di halaman Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT, Senin (1/4/2019).

Menurut Wagub Nae Soi, secara nasional angka kemiskinan di NTT masih tinggi, bahkan di atas rata-rata nasional. Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia NTT juga masih berada di bawah angka nasional.

“Karena itu ASN harus giat bekerja dengan integritas tinggi  untuk mengejar ketertinggalan daerah ini. Anda boleh hebat, boleh terampil, tapi tanpa integritas anda zero (nol). Karen itu harus disiplin, punya ketulusan kerja, ada output dan outcome dalam kegiatan” ujar Nae Soi.

Pada kesempatan itu, Wagub Nae Soi mengkritisi sikap para ASN yang sempat berswafoto saat dihukum menggunakan rompi orange dua bulan lalu. “Karena itu mari kita rubah, mulai hari ini harus disiplin dan punya integritas yang tinggi. Kita tidak sedang bermain-main dengan menggunakan rompi” kata Wagub sambil menyuruh para ASN yang masih menggunakan rompi orange untuk tidak langsung masuk kantor. Mereka disuruh untuk memungut sampah di seputaran kantor gubernur.

Wagub mengaku, tidak menyapa para peserta apel dengan salam kebhinekaan karena melihat di kiri dan kanan masih ada ASN yang mengenakan rompi orange yang bertuliskan “Saya Tidak Disiplin”.

“Sengaja saya tidak menyapa dengan salam kebhinnekaan, karena hari ini saya lihat masih ada ASN yang kenakan rompi orange. Salam kebhinekaan itu belum mencerminkan sikap dan perilaku para ASN yang baik,” ucap Wagub serius.

Dia berharap, ASN di lingkup Pemprov NTT dapat menunjukan etos kerja yang tinggi. Menjadi tanggung-jawab atasan untuk membagi habis tugas agar tidak ada staf yang tidak bekerja.

“Datang dan pulang kantor harus tepat waktu. Jangan sampai di ruangan tidak tau mau buat apa. Saya minta kepada atasan untuk mendelegasikan tugas, membagi habis pekerjaan kepada staf,” katanya.