P3A Pintu Air KM II4 Kanan Minta Pemda Nagekeo Tinjau Ulang Sistem Buka Tutup Air Irigasi Mbay

Bagikan Artikel ini

Laporan Peter Tenda
Nagekeo, NTTOnlinenow.com – Langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo melalui Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo Untuk melakukan tutup tanam pada irigasi Mbay dan merotasi pola tanam dari menanam padi menuju tanaman palawija mendapat tanggapan baik dari Masyarakat tani, Perkumpulan petani pemakai Air (P3A) Pintu Air KM II.4 kanan, desa Maropokot, kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Ketua P3A Pinti Air KM II.4 kanan, Wilibrodus Doy, saat di jumpai Media ini di kediamannya di RT 11, Dusun 3,Desa Maropokot Senin, (23/3/2019) menyampaikan, mereka telah mendengarkan sosialisasi Peraturan Bupati (Perbup) Nagekeo No.19 Tahun 2019 tentang pola tanam dan kalender tanam di irigasi Mbay tahun 2019 oleh tim dari Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo.

Masyrakat tani P3A KM24 kanan mendukung program tutup tanam yang bertujuan untuk merubah kalender tanam dan pola tanam yang dicanangkan pemerintah Kabupaten Nagekeo karena program ini dinilai baik untuk mengoptimalkan hasil produktifitas para petani namun mereka meminta kepada Pemkab Nagekeo untuk meninjau kembali sistem buka tutup air pada progaram menanam palawija karena dinilai berpotensi menimbulkan konflik ditengah masyrakat tani. Konflik yang dimaksudkan adalah ketika air dibuka petani yang berada didekat mulut air bisa memanfaatkannya untuk menanam padi. Hal ini bisa mengakibatkan keributan karena kecemburuan para petani lainnya.

“Beberapa waktu lalu kami sdah dengar sosialisasi Perbup dari dinas pertanian soal kalender tanam dan pola tanam, kami masyarakat tani sudah setuju tutup tanam untuk rubah pola tanam dan kalender tanam dengan tanam palawija karena kami rasa ini baik juga bagi kami petani supaya hasil pertanian kami lebih baik, tapi kami minta supaya airnya jangan sistem buka tutup karena ini bisa jadi masalah ditengah masyrakat karena saling cemburu, mereka yang dekat mulut air bisa tanam padi saat air buka ini bisa jadi masalah” tegasnya kepada media ini.

Lebih lanjut Wilybrodus meminta kepada pemerintah Nagekeo, untuk mengatasi potensi konflik ditengah para petani pengolah sawah akibat sistem buka tutup air sebaiknya diberlakukan sistem tutup total saja. Kalau dinilai perlu untuk buka tutup dengan alasan mengatasi kekeringan dan kebutuhan lainnya harus dengan pengawasan pemerintah yang ketat agar air tidak dimanfaatkan untuk kebutuhan lain melainkan dibiarkan mengalir pada parit saja.

“Untuk menghindari konflik ditengah masyrakat mendingan tutup total saja, kalau memang perlu untuk buka tutup untuk menjaga takut tanah kering atau untuk ternak, harus ada pengawasan pemerintah yang ketat supaya tidak Ada yang manfaatkan air buka untuk tanam padi, biar air mengalir ikut parit saja” demikian pintanya.

Yohanes Roga, tokoh muda Desa Maropokot ikut merespon soal rotasi pola tanam yang di programkan Pemerintah Nagekeo, dari tanaman padi menuju tanaman Palawija.

Dia menyatakan dukungannya terhadap program ini karena dinilai mampu mengendalikan hama secara terpadu, meningkatkan kesuburan tanah dan meningkatkan hasil panen petani. Menurutnya selama ini hasil produktifitas petani tidak memuaskan petani karena tingkat kesuburan tanah berkurang dan sulitnya pengendaliaan Hama dan penyakit yang diakibatkan karena pola tanam yang tidak serempak.

“Menurut saya program ini malah lebih bagus karena program ini menurut saya bisa mengendalikan hama secara terpadu dan meningkatkan kesuburan tanah. yang kita lihat selama ini hasil panen masyrakat begitu-begitu saja bahkan kadang tidak panen. Ini mungkin karena tingkat kesuburan tanah sudah kurang dan pengaruh hama yang sulit kita atasi karena memang pola tanam yang tidak serempak, hama bisa pindah-pindah, kita semprot disawah satu hama pindah kesawah sebelahnya lagi dan ini konyol sekali” ucapnya kepada media ini.

Selanjutnya Roga berharap program tanam palawija ini dapat dikordinasi secara baik oleh Pemda kabupaten Nagekeo. Untuk kesuksesan program ini masyrakat harus dibantu oleh pemerintah, bukan hanya benih saja melainkan pemda perlu intervensi soal kemudahan mendapatkan pupuk dan pemasaran hasil produksi petani nantinya.

“Selaku tokoh muda saya berharap pemerintah kabupaten Nagekeo perlu melakukan kordinasi untuk kesuksesan program ini. Pemerintah tidak hanya sebatas kasih benih tapi harus bantu masyarakat soal pupuk dan penjualan hasilnya karena pernah ada pengelaman masyarakat lebih memilih kasih jagung untuk babi dan ayam dari pada dijual karena harga jagung yang rendah” demikian keluhnya