Pengacara Korban Lion Air Pantau Investigasi Ethiopian Airlines

Bagikan Artikel ini

Jakarta, Indonesia (17/03), NTTOnlinenow.com – Penyelidikan terhadap kotak hitam pesawat Boeing Max 8 milik Ethiopian Airlines dinilai akan berpengaruh pada pengungkapan kasus kecelakaan Lion Air JT610 yang menewaskan 189 orang pada 29 Oktober 2018. Tanggapan ini disampaikan Keith Griffin, Kepala Pakar Penerbangan dari firma hukum Girardi | Keese asal Amerika Serikat menyusul dimulainya proses analisis kotak hitam Ethiopian Airlines yang jatuh pada 10 Maret lalu.

Girardi | Keese bersama firma hukum Edelson PC yang berbasis di Chicago merupakan pengacara yang mewakili sejumlah korban kecelakaan Lion Air JT610 dalam menggugat perusahaan Boeing.

“Analisis kotak hitam akan memberikan petunjuk ada tidaknya masalah yang sama pada kecelakaan Ethiopian Airlines dan Lion Air,” ungkap Keith Griffin melalui pernyataan tertulisnya.

Menurut Griffin, masih banyak pertanyaan yang harus dijawab terkait kecelakaan dua penerbangan itu. “Apakah kecelakaan ini disebabkan oleh kesalahaan software? Apakah minimnya pelatihan pilot juga ikut berkontribusi? Adakah kecacatan fisik pada desain pesawat? Apakah pasca kecelakaan Lion Air semua operator Boeing Max 8 mendapat training advisories? Apakah para pilot Ethiopian Airlines patuh pada peringatan tersebut?”

Kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 orang termasuk penumpang dan kru penerbangan merupakan insiden kedua dalam lima bulan terakhir yang melibatkan pesawat Boeing Max 8.

CEO Ethiopian Airlines Tewolde Gebremariam menjelaskan pilot pesawat itu telah menginformasikan adanya masalah kendali penerbangan kepada pemandu lalu lintas udara sesaat sebelum jatuh.

Pesawat Boeing seri Max 8 yang dirilis 2017 lalu merupakan pesaing kuat Airbus A320 yang dikenal irit bahan bakar di dunia penerbangan.

Belakangan diketahui, Boeing sengaja tidak memberitahukan dan melatih para pilot dalam menggunakan sistem pengendali ketinggian dari pesawat tersebut. “Keputusan ini bisa jadi yang bertanggungjawab atas kematian tragis beberapa waktu lalu,” kata Griffin.

Pada 11 Maret lalu, tim investigasi telah menemukan kotak hitam berupa cockpit voice recorder dan flight data recorder di lokasi jatuhnya Ethiopian Airlines di Ejere, Ethiopia.

“Normalnya kotak hitam ini dianalisis di negara produsen pesawat. Dalam hal ini, di Amerika Serikat karena pesawat Boeing ini dibangun di sana. Namun Ethiopian Airlines meminta kotak hitam itu dianalisis oleh badan investigasi kecelakaan udara Perancis, BEA,” kata Griffin.

Sementara itu, George Hatcher dari Air Crash Consultants sebuah perusahaan yang menyediakan jasa dukungan komunikasi internasional pada kasus kecelakaan udara, investigasi, paralegal, dan manajemen klaim menjelaskan bahwa Badan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) merupakan lembaga pemerintah Amerika Serikat yang menginvestigasi semua kecelakaan besar dalam penerbangan.

“BEA merupakan rekanan NTSB di Perancis. Amerika telah mengajukan diri untuk menganalisis kotak hitam tapi ternyata Ethiopian Airlines ingin BEA yang melakukan hal itu.”

Hatcher menilai BEA sangat canggih dalam melakukan analisis rekaman penerbangan. “Perancis juga memiliki kepentingan dalam penyelidikan ini karena mesin LEAP yang ada di pesawat Boeing Max dibuat oleh CFM Internasional yang merupakan perusahaan patungan antara General Electric Co. dan Safran S.A yang berbasis di Paris.”

“Investigator Perancis telah membawa kotak hitam itu untuk dianalisis. Lamanya proses analisis akan tergantung dari tingkat kerusakan akibat benturan,” pungkas dia.

Tentang Girardi | Keese Lawyers

Bermarkas di Los Angeles, firma hukum ini memiliki pengalaman panjang dalam kasus gugatan massal, kematian tidak wajar, dan kecelakaan penerbangan. Girardi | Keese telah menjalani ribuan kasus “Daud melawan Goliat” sejak 1965 dan memenangkan lebih dari $10 miliar untuk klien mereka. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi http://www.girardikeese.com.