Disinyalir Ada Pangkalan Minyak Tanah “Nakal”, Picu Kelangkaan Hingga Harga Melambung Rp 5.500 Per Liter

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya Minyak Tanah di wilayah Belu, Timor Barat perbatasan RI-RDTL selain mengalami kelangkaan dalam beberapa bulan terakhir juga harga Mitan mahal.

Pasalnya, harga Minyak Tanah dalam wilayah Kota Atambua melambung naik dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditentukan Pemerintah yakni Rp 4.500 per liter pangkalan Minyak Tanah. Semenatara harga Mitan per liter di pengecer bervariasi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, harga Minyak Tanah melambung naik hingga Rp 5.500 per liter di tangan pengecer setelah diambil dari pangkalan Minyak Tanah resmi.

Tidak saja itu, kelangkaan Mitan pula dimanfaatkan warga pengecer di luar wilayah Kota Atambua seperti di daerah-daerah pelosok atau terpencil, sehingga harga Minyak Tanah per liter mencapai Rp 6.000 sampai Rp 7.000.

Pantauan media sebelumnya di beberapa pangkalan Mitan dalam wilayah Kota Atambua banyak antrean jerigen kosong milik warga. Diduga kuat ada pangkalan Minyak Tanah yang “nakal” bermain mata dengan oknum yang melakukan bisnis BBM subsidi untuk warga.

Mirisnya, disinyalir ada pangkalan Minyak Tanah yang mendapat pasokan dari Agen sesuai permintaan. Namun, kebiasaan buruk hanya dijual satu atau dua drum untuk warga, sementara lainnya dijualkan pada oknum warga yang tak bertanggungjawab.

Terbukti di perbatasan Belu marak aktivitas penyelundupan Minyak Tanah illegal oleh oknum warga ke Timor Leste. Disaksikan media, mobilisasi sepeda motor pengangkut jerigen berisi Mitan ramai lalu lalang di jalur Atambua menuju Atapupu.

Jerigen berisi Minyak Tanah itu diketahui diambil dari tempat penampungan oknum warga, juga dari pangkalan yang “nakal” di dalam wilayah Kota Atambua. Bukti lain, sebulan yang lalu oknum aparat keamanan berhasil mengamankan kendaraan yang mengangkut sejumlah jerigen Minyak Tanah sebanyak ratusan liter yang diambil dari salah satu pangkalan Mitan dalam Kota yang akan di bawa ke Silawan.

Selain itu, dalam pemberitaan sebelumnya 11 warga Negara Indonesia asal Desa Kenebibi, Kecamatan Kaluluk Mesak, Kabupaten Belu berhasil diamankan petugas Bea Cukai Timor Leste lantaran menyelundupkan Bahan Bakar Minyak (BBM) illegal melalui laut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari beberapa sumber menyebutkan, kejadian 11 warga Desa Kenebibi, Atapupu diamankan petugas Bea Cukai Timor Leste pada Kamis 21 Februari lalu di laut Atabae saat menyelundupkan 8 ton Mitan illegal dikemas dalam jerigen ukuran 20 hingga 25 liter yang diangkut dengan perahu.

Kepala Bagian Ekonomi Setda Belu Frido Siribein yang dikonfirmasi terkait pengawasan terhadap pangkalan Minyak Tanah menuturkan, dari fungsi pengawasan merupakan koordinasi langsung atau tindak lanjut hubungan kami dengan para agen.

Jadi fungsi pengawas disini ini, terutama para pengecer yang berdasarkan persetujuan itu oleh agen Minyak Tanah. Kami sudah beberapa kali rapat, tetapi kalau mereka mau jadi pengecer itu bukan urusan dengan kami, tapi langsung dengan agen utama dan kami tidak mengeluarkan izin lagi, tapi izin itu lewat perizinan.

“Kaitan marak penyelundupan itu karena pangkalan semakin banyak. Sedangkan apa mampu kita untuk mencabut izin, kita tidak punya kewenangan karena mereka langsung dengan agen utama. Kita sudah atur pangkalan itu sesuai jarak tapi sekarang tumbuh begitu banyak sekali,” ujar Siribein.

Dikatakan, fungsi pihaknya pengawas, tidak keluarkan izin beda seperti dulu. Misalnya mereka mau usaha untuk menjadi pangkalan minyak mereka harus urus siup, situ di perizinan. Tapi kalau itu diurus semua mereka jadi pangkalan minyak kalau agen tidak berikan sama saja kalau kita sudah berikan rekomenadi.

“Nah ini yang ada buntunya sistem ini guna mengatur kita pengawas tapi kita tidak punya kewenangan untuk meyakinkan orang masukan berkas semua akan beres. Kita juga punya kekuatan untuk menutup pangkalan yang nakal, tapi selama ini tidak ada pengaduan berupa laporan dan bukti kuat dari warga sampai sekarang kaitan pangkalan mitan nakal maupun pengecer yang menjual mahal hingga Rp 7.500 per litet,” pungkas dia.