Tak Dilalui Sabuk Merah, Kehidupan Warga Dusun Manekiik di Garis Batas Belu-Timor Leste Memprihatinkan

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Dusun Manekiik, Maukdomuk, Desa Sarabau, Kecamatan Tasifeto Timur merupakan salah satu Dusun di wilayah Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Timor Leste.

Berbeda dengan Dusun lainnya di dalam wilayah Belu. Dusun Manekiik terletak di pedalaman yang mana langsung berada garis batas sungai dengan Desa Kowa, Distric Bobonaro, Negara Timor Leste.

Miris, kehidupan warga di Dusun Manekiik terbilang jauh dari perhatian ketimbang kehidupan warga di Dusun lainnya. Kehidupan warga di pedalaman Dusun itu sungguh miris dengan segala keterbatasan infrastruktur yakni, lampu penerangan (listrik,red), air bersih dan akses jalan raya.

Kepala Desa Sarabau, Belmindo Roberto Rinmalae kepada media, Senin (25/2/2019) menuturkan, Dusun Manekiik Ibu Kota Maukdomuk. Akses jalan di dalam perkampungan sangat sulit. Warga yang akan bepergian ke luar Dusun harus melanggar sungai Baukama melewati jalur sabuk merah perbatasan Asulait.

“Jalannya setengah mati. Kalau hujan warga kesulitan karena menyeberang sungai, kecuali lewat jalur atas, tapi baru dirabat jalannya 500 meter hanya untuk sepeda motor dan mobil setengah mati tidak bisa melintas,” ujar dia.

Belmindo menuturkan, sebenarnya sabuk merah perbatasan ini melewati Dusun Maukdomuk itu bukan lewat Oelue, keluar ke jalur Desa Bauho terus ke Lahurus dan menuju Haekesak. Itu tidak boleh, jalur sabuk merah itu harus lewat perkampungan Maukdomuk karena langsung di garis batas Negara.

“Maukdomuk langsung batas sungai dengan Desa Kowa, Timor Leste. Kami yang ukur pertama jalur dari Asulait melintas kali Baukama masuk Dusun m
Maukdomuk menuju desa Maneiikun keluar Dusun Aitemu keluar di Baudaok keluar Asumanu,” urai dia.

Dijelaskan, jalur sabuk merah di Dusun Maukdomuk sudah dibuka tapi tidak terealisasi mungkin takut dengan jembatan besar sungai Baukama dari Asulait ke Maukdomuk. Sehingga saat ini Dusun Maukdomuk terisolir tidak ada penerangan listrik, air bersih dan akses jalan raya.

“Makanya sering kali rapat dengan pak Bupati dengan orang Kementerian kami usul. Inikan Nawacita yang bagaimana, mambangun dari pinggiran, yang nomor tiga itukan harus terang bagaimana ini di perbatasan langsung masih gelap,” kata Belmindo.

Lanjut dia, sebenarnya Pemerintah Kabupaten tidak sudah untuk listrik. Kami bisa pakai APBDes, tapi karena PLN itu APBDes tidak bisa talangi dia harus APBN kalau tidak sudah terang kami bisa gunakan dana uang 1,5 M lebih.

“Ada 41 Kepala Keluarga di Maukdomuk dengan jumlah penduduk 100 lebih. Memang setengah mati saat ini kondisi warga kehidupannya serba kekurangan. Selain itu juga untuk mengenyam pendidikan anak-anak harus sekolah di Asulait dan kalau hujan banjir tidak bisa ke sekolah.

“Setiap kaki di rapat saya selalu bicara keras, merdeka bagaimana, di bidang bidang tertentu kami belum merdeka, termasuk jalan, air bersih, penerangan dan pendidikan. Jadi, Desa perbatasan itu bukan saja seperti Desa lainnya, jangan hanya poles depan saja, tapi di desa lain khusunya dusun yang batas langsung dengan garis batas negara hancur tidak bagus itu lebih parah,” ketus Belmindo.