Caleg Perempuan Terbelenggu Isu Gender

Bagikan Artikel ini

Laporan Frans Watu
Jakarta, NTTOnlinenow.com – Syarat 30% calon legislatif (Caleg) perempuan pada pemilihan umum (Pemilu) 2019 dalam pesta demokrasi kali ini cukup memberikan harapan dalam perubahan di legislatif baik di DPR maupun DPRD, namun dalam bersosialisasi kurang bervariasi dan inovatif atau masih monoton.

Caleg Perempuan biasanya hanya menjual isu kesetaraan gender, seolah-olah mereka terintimidasi oleh kaum adam, sehingga dalam menyampaikan visi dan misinya mereka lupa kalau isu-isu management juga bisa menjadi senjata mereka dalam merebut para pemilih.

“Caleg Perempuan selalu mengedepankan tentang kesetaraan gender kemudian hak-hak terkait perempuan dalam berpolitik, padahal wanita dalam berpolitik bukan hanya soal itu saja,” kata Reny Marsanggul Tobing, Calon Legislator Partai Keadilan dan Persatuan (PKPI) daerah Pemilihan Cakung, Matraman, Pulogadung (DKI Jakarta 4). Hal ini dikatakan Reny usai bertemu tokoh masyarakat di Kelurahan Kebon Manggis, Jakarta Timur. Senin (4/2/2019).

Dalam kapasitasnya sebagai Caleg Reny menjelaskan, dirinya selalu menyampaikan kepada masyarakat, bagaimana membangun fondasi ekonomi keluarga dengan mengembangkan ekonomi kreatif. Disamping pengembangan ekonomi, isu lain yang bisa gunakan diantaranya adalah isu soal kebutuhan sehari-hari seperti problem dapur, anak anak sekolah, ditinggalkan suami kemudian menjanda tanpa ada jaminan. Isu isu strategis itu yang sebenarnya menjadi tingkat kebutuhan yang sensitif yang dibutuhkan oleh perempuan di Indonesia.

Perempuan harus mampu menopang suami dan sebagai pondasi dalam keluarga harus memiliki kemampuan dan daya saing sehingga mampu bertahan dalam kondisi apapun. Dengan menghadirkan ekonomi kreatif Reny Marsanggul Tobing berharap dapat merealisasikannya kelak apabila terpilih menjadi wakil rakyat di daerah pemilihannya.

“Masyarakat tingkat bawah kurang paham tentang kesetaraan gender, mereka ngertinya bagaimana dapurnya bisa ngebul, pendidikan anak, kalau sakit berobat dimana atau dalam istilah saya bagaimana menumbuhkan ekonomi kreatif dalam keluarga guna menopang sang suami. Itu yang menjadi fokus utama,” ucap akitivis perempuan berdarah Batak.

Lebih lanjut Reny menjelaskan, perempuan memiliki sensitivitas hati yang tinggi, maka kata dia perempuan mempunyai kemampuan tata kelola, apabila nanti di legislatif harus fokus menyoroti aspek aspek pengelolaan anggaran dengan baik. Misalnya ini anggaran harus efisien, ini anggaran harus diperbanyak untuk konsumsi publik bukan menjadi kebutuhan konsumsi aparatur atau penyelenggara.

“Hal semacam itu yang luput dari perhatian Caleg Perempuan, Ini kan tidak pernah menjadi tema-tema yang menjadi pembicaraan mereka. Saya katakan perempuan itu memiliki kemampuan pengelola keuangan, menjadi juru dapur, juru bayar, juru pembiayaya, juru perencanaan,” katanya.

Kemampuan perempuan bisa dibuktikan oleh kaum perempuan, ketahanan keluarga yang mampu mengelola keuangan yang diberikan suaminya walaupun jumlahnya sangat terbatas, tidak memikirkan jumlah banyak atau sedikit.

“Buktinya seperti Sri Mulyani, Menteri Keuangan kita yang menjadi tokoh wanita sangat baik dan bisa menjadi panutan,” lanjut Reny.

Reny berharap, anggota legislatif periode 2019-2014 bisa memunculkan politisi Perempuan yang berkualitas dan benar-benar bisa menyampaikan aspirasi masyarakat.