Tiga Tahun Terakhir Angka Kematian Ibu dan Bayi di Belu Meningkat

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Angka kematian pada Ibu dan bayi di Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste terus mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Belu, pada tahun 2016 terdapat 4 kasus kematian ibu dan anak, di tahun 2017 terdapat 6 kasus, di tahun 2018 terdapat 9 kasus dan di awal tahun 2019 sudah terdata 3 kasus kematian ibu dan bayi.

Demikian Bupati Belu, Willybrodus Lay kepada awak media usai rapat koordinasi bersama Dinas teknis serta seluruh Kepala Puskesmas, Rabu (6/2/2019) di lantai I Kantor Bupati.

Dikatakan, pelaksanaan rapat hari ini selain membahas kasus kematian ibu dan bayi yang mengalami peningkatan, juga bagaimana menekan angka kekurangan gizi pada anak dan penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ada di wilayah Kabupaten Belu.

“Angka kematian ibu dan bayi semakin tinggi, maka perlu kita tangani secara serius dengan segera lakukan upaya-upaya pencegahan,” ujar Lay.

Penyebab dari kasus kematian ibu dan anak karena kurang sinergi antara pihak masyarakat maupun pemerintah Daerah dalam hal ini bidang kesehatan. Penyebab kematian tersebut menjadi persoalan yang akan dicegah secara bersama antara Pemerintah Daerah dan masyarakat Belu.

“Masyarakat harus pergi ke Pelayanan Kesehatan terdekat apabila sedang mengalami kehamilan sehingga bisa rutin menjaga kondisi ibu dan bayi,” ungkap Lay.

Ditambahkan, dalam kunjungan kerja ke beberapa Desa dirinya menemukan di Desa Ekin terdapat anak-anak kekurangan gizi sekitar 30 anak-anak. Selain itu data dari Dinas teknis soal penderita DBD di wilayah Belu terdapat 17 kasus.

Sementara itu Kadis Kesehatan Belu, Theresia Saik mengatakan, dalam kunjungan kerja Pak Bupati ke Desa Ekin kemarin ditemukan kasus anak kekurangan gizi sebanyak 33 orang. Dari jumlah 91 anak ada tiga orang gizi buruk dan gizi kurangnya 30 orang, jadi ada 33 anak kurang gizi.

“Kami langsung ikuti dengan pemberian makanan tambahan berupa biskuit TMD bantuan dari Kementerian Kesehatan. Tetapi masyarakat juga harus sadar dan berpikir, berusaha bahwa anak sakit harus sehat. Salah satu persoalan bagaimana anak gizi buruk yakni, pola makan atau asupan makan yang tidak cukup dan kebersihan diri seperti tangan harus cuci pakai sabun sebelum makan itu yang dilupakan orang tua,” ujar Saik.

Lanjut dia, jumlah kasus kematian ibu dan bayi meningkat sejak tahun 2016 sampai 2018 dan pada tahun 2019 sampai bulan Februari terdapat 3 kasus kematian ibu yang meninggal. Ini menjadi tanggungjawab kita semua, menginformasikan kalau hamil periksa ke sarana kesehatan.

Saat ini jelas Saik, pihaknya upaya menekan angka kematian ibu dan bayi telah dilakukan dengan menempatkan dokter spesialis, dokter umum, menambah alkes, menambah upah tenaga kesehatan. Tetapi masyarakat sendiri juga harus peduli bagaimana ibu hamil harus dijaga diantar ke puskesmas terdekat.

“Penyebab utama kematian ibu dan bayi selama ini kompleks, salah satu sisi dari warga itu biasanya tidak mau antar, tidak mau dirujuk tetap mereka tidak mau,” ujar dia.

Dikatakan, saat ini Bidan Desa diwajibkan untuk tinggal di Desa sehingga diharapkan pelayanan kesehatan terhadap Ibu dan bayi dengan dukungan fasilitas kesehatan yang ada dimaksimalkan untuk pelayanan kesehatan. “Masyarakat harus sadar dan rutin memeriksa ibu yang hamil ke pelayanan kesehatan terdekat demi keselamatan ibu dan bayi,” pinta Saik.