Indonesia Negara Dengan Minat Menulis Rendah

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Ketua Ikatan Alumni SMAN 1 Kupang (IASMANSAKOE), Brigjen Pol Drs. Johanis Asadoma, MHum mengemukakan saat ini Indonesia merupakan negara dengan minat membaca dan menulis sangat rendah. Dari 61 negara yang diteliti, Indonesia ada pada rangking kedua dari bawah untuk tingkat literasi terendah.

Demikian juga Provinsi NTT paling rendah soal minat baca dan menulis. Hal ini berdampak Provinsi NTT selalu mendapat stigma sebagai provinsi terbelakang. Hal ini merupakan tantangan bagi alumni SMAN 1 Kupang untuk memberi kontribusi dalam meningkatkan SDM NTT.

“Apa yang kita bisa berikan untuk membangun SDM NTT maka melalui hal kecil ini yang berefek besar,” ujar jenderal bintang satu ini.

Sejak beberapa tahun terakhir, IASMANSAKOE rutin menggelar sejumlah aktivitas. Pada tahun 2016, digelar lomba lari 10 kilometer. IASMANSA juga concern pada masalah pendidikan terutama bagi masyarakat kurang mampu.

Pada tahun 2018 IASMANSA memberikan bantuan meja dan kursi di SMP Lelobatan Mollo Utara Kabupaten TTS. Sekolah ini dibangun dari bambu dan alang-alang dengan lantai tanah. “Hanya ada meja bambu tapi tidak ada kursi. Siswa belajar sambil berdiri dengan lantai tanah. Ini memprihatinkan dan kita trenyuh sehingga minta bantuan rekan polisi di SoE untuk membuat meja dan kursi dan kita membantu sekolah di Lelobatan,” urai mantan Waka Polda Sulawesi Utara ini.

IASMANSA juga ingin berbuat sesuatu yang konkrit dan riil untuk masyarkat NTT melalui lomba menulis. Lomba ini diyakini penting untuk merangsang dan membiasakan masyarakat menulis. Lomba juga merupakan tahap awal yang mungkin dampaknya kecil, namun menjadi motivasi untuk menyentuh masyarakat terpelajar agar masyarakat bisa menulis karya ilmiah. Disebutkan semua bisa menulis, namun menulis ilmiah bukan hal mudah karena harus rajin membaca dan harus mempunyai referensi. Lomba terbuka untuk semua masyarakat NTT sehingga menyentuh berbagai kalangan dan pelosok.

Kapolda NTT Irjen Pol Drs. Raja Erizman menyambut baik kegiatan ini bahkan Kapolda NTT akan memberikan hadiah kepada juara lomba. Selain piala, panitia juga menyiapkan hadiah uang masing-masing kategori dengan jumlah yang sama. Juara I akan mendapat Rp 5 juta, juara II Rp 3 juta dan juara III Rp 2 juta.

“Bonus bisa menggugah dan merangsang minat baca dari masyarakat NTT,” tambah Waka Polda NTT.

Prof. Frans Bustan, akademisi dari Undana menggugah masyakat NTT dengan slogannya’ Dari NTT menangis menuju NTT menulis. Ia menilai IASMANSAKOE menggagas kegiatan mengajak generasi muda NTT untuk menulis.

Ia menyebutkan masyarakat sering mengabaikan bahasa padahal bahasa adalah hal yang memberi makna dan bahasa menjadi wahana komunikasi. “Bahasa sering diabaikan karena bahasa sering diartikan hanya sebagai sarana komunikasi,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat NTT membedah bahasa dalam kecakapan menulis, walaupun disadari kalau masyarakat sering takut menulis karena menulis butuh kecakapan.

Padahal, lanjutnya orang NTT punya potensi untuk menulis. Apa yang dibuat IASMANSAKOE melalui lomba karya tulis sangat diapresiasi karena semua mempunyai tanggungjawab untuk itu. Dikatakan menulis hanyalah pintu, namun adanya pendekatan minat baca karena seorang tidak bisa menulis tanpa membaca sehingga ada kecakapan menulis.

Pada akhirnya dari kegiatan ini ada peningkatan jumlah penulis di NTT maupun di luar NTT. Disisi lain, generasi muda akan terus belajar dan membaca serta menulis.

“Mari memulai hal kecil untuk hal yang lebih besar,” ajaknya.

Muara dari lomba ini, NTT bangkit dari tidur karena lomba hanyalah satu simpul agar NTT bangkit, juga ada peningkatan SDM sehingga stigma yang kurang menyenangkan soal NTT bisa tergusur dan tergeser. “mulai dari hal kecil yakni menulis dan membaca,” tandasnya.

Diakuinya kalau selama ini lebih banyak pelatihan dan seminar namun aksinya kurang. Ditegaskan, masyarakat belajar pasca bersekolah bahwa dengan menulis maka bisa menghidupi diri dan keluarga karena pengetahuan adalah kekuatan.

Melalui kegiatan ini pun, NTT dibawa ke dunia luar dan membawa dunia ke NTT dengan karya hebat. “Dengan lomba, bagaimana NTT dikenal didunia luar dan ingat bahwa orang bisa hidup layak hanya dengan menulis,” tandasnya. (non)