Mahasiswi Asal Alor Beber Dugaan Perlakuan Diskriminatif Satgas di Bandara El Tari

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Selfin Etidena, mahasiswi semester VII Sekolah Tinggi Teologi (STT) Galilea Yogyakarta asal Kabupaten Alor, Provinsi NTT, membeberkan dugaan perlakuan diskriminatif petugas Satgas Pencegahan dan Perlindungan TKI Non-prosedural di Bandara El Tari Kupang terhadap dirinya beberapa waktu lalu.

Kepada wartawan di Kupang, Kamis (10/1/2019), Selfin mengaku, perlakuan petugas Satgas terhadap penumpang maskapai penerbangan di Bandar Udara (Bandara) El Tari Kupang sangat tidak profesional. Upaya pencekalan TKI non-prosedural yang dilakukan Satgas dinilainya terlalu berlebihan, dan menimbulkan ketidaknyamanan terhadap penumpang.

Selfin mengisahkan, peristiwa tidak menyenangkan yang dialaminya bermula saat dirinya baru saja menyelesaikan tugas Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Kabupaten Alor dan hendak kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan studinya.

Di mana, pada tanggal 4 Januari 2019, sekira pukul 14.00 Wita, saat itu, dirinya menumpang pesawat milik maskapai penerbangan Lion Air Grup yakni pesat Wings Air tujuan Alor – Yogyakarta yang transit di Bandara El Tari Kupang.

“Saat saya sedang melakukan cek in di Bandara El Tari, tiba-tiba ada oknum yang mengaku sebagai petugas Satgas Nakertrans menghampiri saya, mencegah dan menarik saya ke belakang lalu membawa saya ke Posko Satgas dan menginterogasi saya,” cetusnya mengisahkan.

Menurut Selfin, sebanyak 5 orang petugas Satgas menginterogasi dirinya di dalam Posko yang ada di area bandara El Tari Kupang, dan para petugas saat itu tidak mengenakan pakaian resmi atau seragam Satgas yang dilengkapi papan nama, tetapi hanya mengenakan pakaian bebas (preman-red).

“Saya dicurigai sebagai TKI ilegal, saya sampaikan bahwa saya ini mahasiswa yang mau pulang ke Yogyakarta. Saya diminta tunjukkan tiket dan KTP lalu saya tunjukkan. Tetapi mereka meminta saya tunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM),” ungkapnya.

Ketika diminta menunjukkan KTM, Selfin mengatakan kepada petugas Satgas bahwa dirinya sudah sering bepergian dari Yogyakarta ke Alor maupun sebaliknya menggunakan moda transportasi udara, dan petugas bandara biasanya hanya meminta untuk ditunjukkan tiket dan identitas diri berupa KTP, sehingga dirinya tidak membawa KTM.

“Saya bilang kalau ada bawa ijazah tapi ada di dalam koper saya, tetapi semua barang bawaan saya sudah masuk bagasi,” ujarnya.

Tetapi petugas memaksa Selfin untuk segera mengambil ijazahnya, dan dijawab Selfin dengan mempertanyakan, bagaimana cara mengambilnya, karena koper miliknya itu sudah berada di bagasi. Sepertinya tidak puas dengan jawaban tersebut, petugas lalu menyuruhnya untuk menelepon rekan mahasiswanya untuk membuktikan bahwa benar dirinya adalah seorang mahasiswa.

“Saya langsung hubungi ketua Senat saya supaya berbicara langsung dengan petugas itu, tetapi baru berbicara sebentar, petugas itu memutus pembicaraan dengan mematikan sambungan telepon seluler, dan mengatakan bahwa itu bukan ketua senat saya karena dari suaranya seperti orang sudah tua,” katanya.

Selanjutnya, kata Selfin, petugas itu menyuruhnya untuk menelepon ibunya di Alor untuk membuktikan bahwa benar orang tua mengizinkan anaknya itu kuliah di Yogyakarta. Karena itu, Selfin pun menelepon ibunya dan berbicara dengan petugas itu, tetapi setelah berbicara petugas masih belum percaya dan menyatakan bahwa yang berbicara itu bukan ibu dari Selfin.

“Saya bilang yang bicara itu mama saya, tetapi petugas itu bilang itu bukan mama kamu. Saat itu, saya sempat menangis karena saya merasa tertekan, saya juga bingung harus dengan cara apa lagi untuk bisa meyakinkan petugas,” urainya dengan raut wajah sedih.

Lantaran proses interogasi yang cukup lama, waktu cek in pun berakhir. Pesawat Lion Air yang sedianya ditumpangi Selfin akhirnya lepas landas. Akibatnya, gadis yatim itu tidak bisa berangkat ke Yogyakarta. Namun, koper dan barang bawaannya ikut terbawa dalam pesawat karena sudah terlanjur masuk bagasi pesawat.

“Lalu saya tanya kepada petugas itu tentang bagaimana keberangkatan saya, karena pesawat sudah berangkat, lalu petugas itu menjawab saya ‘Oh..kamu tidak usah berangkat’,” ujarnya menirukan jawaban petugas itu.

Dalam kebingungannya karena tidak bisa berangkat, dan tidak ada kepastian dari pihak Satgas terkait keberangkatannya, Selfin lalu menelepon pamannya bernama Ones Lande yang tinggal di Sikumana, Kota Kupang dan menyampaikan kejadian dan kondisi yang dialaminya, dan meminta pamannya itu untuk menemuinya di bandara.

“Paman saya datang lalu berbicara dengan petugas, tetapi mereka tetap meminta agar menunjukkan KTM. Karena itu, saya telepon teman saya di Yogyakarta untuk membantu memotret KTM saya dan mengirimkan via aplikasi WhatsApp, lalu saya tunjukkan kepada petugas tetapi dia malah bilang kalau semua itu hanya modus,” paparnya.

Selanjutnya, Selfin dan keluarganya kembali mendatangi Bandara El Tari pada keesokan harinya, tanggal 5 Januari untuk mengambil barang-barangnya yang sudah dikirim kembali ke Kupang. Saat itu, pihaknya sempat kembali berkomunikasi dengan pihak Satgas agar mahasiswa itu bisa berangkat ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah, karena dirinya sudah terlambat mengikuti perkuliahan yang sudah dimulai sejak tanggal 3 Januari.

“Saat itu, Satgas mengarahkan kami untuk segera bertemu ibu Plt Kepala Dinas (Kadis) Nakertrans Provinsi NTT. Namun saat itu bertepatan hari Sabtu, maka pada Senin tanggal 7 Januari kami mendatangi kantor Nakertrans, tetapi tidak diizinkan untuk bertemu ibu Kadis maupun Kepala Bidang Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan,” ujar Ones Lande, paman dari Selfin Etidena.

“Mereka malah menyuruh kami untuk bertemu dan berurusan dengan petugas Satgas Nakertrans yang sama di Bandara El Tari. Setelah kami bertemu petugas itu di kantor Nakertrans, dia kembali menyalahkan Selfin karena tidak membawa atau menunjukkan fisik KTM. Dia tidak percaya dengan foto KTM yang ditunjukkan keponakan saya. Dan sampai hari ini tanggal 10 Januari, Selfin Etidena masih ditelantarkan,” imbuh Ones.

Ones menambahkan, pihaknya sangat menyayangkan kinerja dan perlakuan petugas Satgas Pencegahan dan Perlindungan TKI Non-prosedural yang bertugas di Bandara El Tari Kupang yang dinilai tidak profesional, bahkan diduga diskriminatif.