DPRD NTT Tunggu Skema Penanganan Infrastruktur

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Lembaga DPRD NTT menunggu skema model penanganan infrastruktur jalan dari pemerintah untuk merealisasikan target pemerintah untuk menyelesaikan persoalan dasar itu dalam waktu tiga tahun anggaran.

Wakil Ketua DPRD NTT, Alex Take Ofong sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Jumat (4/1/2018).

Alex mengatakan, untuk menangani infrastktur jalan dan jembatan sesuai target pemerintah, kemampuan APBD tidak mencukupi. Karena itu sumber pendanaan dari pihak ketiga menjadi solusi yang tepat dalam merealisasikan target dimaksud.

“Prinsipnya lembaga dewan mendukung penuh kebijakan pemerintah terkait penanganan infrastruktur di daerah in,” kata Alex.

Terkait hal dimaksud, lanjut politikus NasDem ini, ada dua skema yang dapat dipakai, yakni dalam bentuk pinjaman daerah dan atau perjanjian kerja sama dengan badan usaha. Jika menggunakan skema pinjaman daerah, terbentur pada nilai pinjaman karena jumlahnya sangat terbatas. Dimana pada tahun pertama, pemerintah daerah hanya bisa pinjam kurang lebih Rp900 miliar dari total kebutuhan penanganan infrastruktur senilai kurang lebih Rp3 triliun.

“Kalau menggunakan skema pinjaman daerah, harus memperhitungkan dengan nilai pengembalian ditambah bunga pinjaman. Apalagi jangka waktu pengembalian harus sudah selesai dalam lima tahun masa jabatan gubernur dan wakil gubernur sekarang, yakni periode 2018- 2023,” jelas Alex.

Lebih lanjut wakil rakyat asal daerah pemilihan Flores Timur, Lembata dan Alor ini menyampaikan, skema kedua adalah kerja sama dengan badan usaha. Berdasarkan hasil konsultasi dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Keuangan, dan Bappenas, pemerintah provinsi didorong untuk menggunakan skema kerja sama dengan badan usaha. Keuntungan dari skema ini adalah jangka waktu pengembalian bisa melewati masa jabatan gubernur sekarang, periode 2018- 2023.

Alex menyatakan, terkait alternatif dua skema penanganan infrastruktur dimaksud, pemerintah didorong untuk membentuk tim guna melakukan kajian. Pada prinsipnya dewan mendukung skema mana yang akan dipakai. Sehingga visi pariwsiata yang diusung pemerintah bisa berjalan.

“Syarat yang harus dipenuhi dalam penggunaan skema penanganan infrastruktur tersebut yakni ada persetujuan dari lembaga dewan,” papar Alex.

Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno menyatakan, lembaga dewan tetap menunggu model mana yang akan dipakai dalam kebijakan penanganan infrastruktur. Tapi yang paling penting, apapun yang dipakai, harus sesuai peraturan.

“Kita menghargai upaya gubernur untuk menuntaskan infrastruktur di daerah ini dalam tiga tahun anggaran,” ungkap Anwar.

Politikus Golkar asal daerah pemilihan Sikka, Ende, Ngada dan Nagekeo ini menambahkan, terobosan yang diambil gubernur perlu didukung sepanjang tidak berbenturan dengan aturan. Jika tidak, sampai kapan pun penanganan infarstuktur jalan, jembatan dan irigasi di daerah ini tidak akan tuntas sebagaimana diharapkan.