Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Kayu Sonokeling, Begini Alasannya!

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Jajaran Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda NTT menyatakan menghentikan penanganan kasus dugaan tindak pidana pengangkutan kayu sonokeling asal Kabupaten Kupang dan TTU yang sempat diamankan dan ditangani beberapa waktu lalu.

Dirkrimsus Polda NTT, AKBP Heri Tri Maryadi sampaikan ini dalam jumpa pers di kantornya, Senin (3/11/2018). Dirkrimsus didampingi Kabid Humas Kombes Jules Abas dan Kabid Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT MHD. Zaidi,S.hut.

Menurut Heri, penghentian penyelidikan terhadap kasus tersebut karena bukan merupakan tindak pidana, sebab dalam penyelidikan tidak terbukti para pihak melakukan tindak pidana. Polda NTT segera membuka police line dan mengembalikan barang bukti kayu sonokeling kepada pemilik.

“Dugaan awal pengangkutan kayu oleh CV. Inruchi dan CV. Fortuna 17 tersebut menggunakan dokumen tidak sah dan/atau dugaan melakukan penebangan kayu dalam kawasan hutan,” ungkap Heri.

Dia menjelaskan, kayu sonokeling yang diamankan dibeli pemodal dari sejumlah masyarakat di wilayah Kabupaten Kupang dan Kabupaten TTU.

Kasus yang ditangani tersebut, kata dia, terjadi pada Minggu, 14 Oktober 2018 sekitar pukul 11.00 Wita di gudang PT. Sindo Ekspres, Jl. Yos Sudarso, Kecamatan Alak, Kota Kupang, dan pada pukul 16.00 di Pelabuhan Tenau Kupang.

Selanjutnya pada Selasa tanggal 16 Oktober 2018, sekitar pukul 03.00, di Jl. Timor Raya, (Depan Polsek Amanuban Barat) Desa Oebobo, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten TTS.

Dia menguraikan kronologi kasus tersebut, dimana pada Sabtu tanggal 13 Oktober 2018 sekitar pukul 21.00, penyelidik Subdit 4 Tipidter Ditreskrimsus Polda NTT menerima informasi bahwa ada 2 unit mobil tronton dengan masing-masing muatan kontainer berisikan kayu sonokeling berangkat dari Kefamenanu menuju ke Kupang dengan dugaan mengunakan dokumen yang tidak sah dan kayu tersebut berasal dari kawasan hutan.

Sehingga, lanjutnya, pada Minggu tanggal 14 Oktober 2018 sekitar pukul 11.00, bertempat di gudang PT. Sindo Ekspres, Jl. Yos Sudarso, Kecamatan Alak, Kota Kupang, penyelidik menemukan 1 unit mobil tronton beserta konteinernya milik PT. Sindo Ekspres yang berisikan kayu sonokeling, dan selanjutnya sekitar pukul 06.00, penyelidik kembali menemukan 1 unit mobil tronton beserta konteinernya yang bersisikan kayu sonokeling di sekitar pelabuhan Tenau Kupang.

Selanjutnya oleh tim penyelidik melakukan tindakan dengan mengamankan 2 unit mobil tronton tersebut beserta konteinernya bersama dokumen penyertaan kayu sonokelingnya untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Dia menyampaikan, pada Senin 15 Oktober 2018 penyelidik Subdit 4 Tipidter Ditreskrimsus Polda NTT kembali menerima informasi bahwa ada 2 unit mobil tronton dengan muatan masing-masing konteiner berisikan kayu sonokeling dengan dugaan menggunakan dokumen yang tidak sah dan berasal dari kawasan hutan.

Sehingga pada Selasa tanggal 16 Oktober 2018 sekitar pukul 03.00, bertempat di Jl. Timor Raya, (depan Polsek Amanuban Barat) Desa Oebobo, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten TTS, penyelidik Subdit 4 Tipidter Ditreskrimsus Polda NTT, menemukan 2 unit mobil tronton dengan masing-masing bermuatan konteiner berisikan kayu sonokeling.

Selanjutnya oleh tim penyelidik melakukan tindakan dengan mengamankan 2 unit tronton tersebut dengan muatan kontainernya bersama dokumen penyertaan kayu sonokelingnya untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Barang yang diamankan masing-masing 4 unit konteiner, 4 eksemplar SATS-DN, termasuk 33,23 m3 kayu sonokeling milik CV. Inrichi dan 34,3 m3 kayu sonokeling milik CV Fortuna 17.

“Tindakan yang dilakukan yaitu mengamankan 4 unit mobil tronton dan 4 unit konteiner beserta sejumlah 67,53 m3 kayu sonokeling. Melakukan pengecekan dokumen yang menyertai kayu sonokeling, melakukan lacak balak, melakukan interogasi terhadap saksi-saksi masing-masing sopir dan kernet mobil tronton, pemilik kayu/pemilik perusahaan, pembeli kayu, pemilik lahan, petugas yang melakukan lacak balak (BBKSDA NTT dan Dishut Provinsi NTT),” sebutnya.

Saksi lainnya adalah petugas BBKSDA yang menerbitkan SAST-DN, pejabat Dishut Provinsi NTT, dan ahli dari Kementerian LHK RI.

Heri melanjutkan, pasal yang dipersangkakan adalah Pasal 83 ayat (4) huruf a, b, dan c dan/atau Pasal 88 ayat (2) huruf a dan b UU No 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

“Kesimpulannya, sesuai dengan hasil pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan pemeriksaan ahli selanjutnya dikaitkan dokumen penyertaan kayu maupun barang berupa kayu sonokeling yang diamankan petugas, berdasarkan Kepmen RI 447/KPTS II/2003 maupun berdasarkan UU No. 18 tahun 2013 maka penyidik berkesimpulan bahwa kegiatan peredaran atau pengangkutan kayu sonokeling yang dilakukan oleh CV. Inrichi dengan pemodal Komang maupun CV. Fortuna 17 oleh Ny. Halimah sudah sesuai dengan ketentuan dan bukan merupakan tindak pidana sehingga tidak dapat ditingkatkan ke penyidikan,” paparnya.