Peringati Hari Toleransi, KOMPAK Gelar Dialog Bersama Tokoh Pemuda

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Komunitas Peacemaker Kupang (KOMPAK) menggelar dialog bersama tokoh-tokoh pemuda di daerah ini, dalam rangka memperingati Hari Toleransi yang diperingati setiap tanggal 16 November.

Dialog yang digelar, Jumat (23/11/2018), mengusung tema “Orang Muda Beking Apa?” dan menghadirkan empat orang nara sumber, masing-masing Ketua GMKI Cabang Kupang, Kristo Kolimo, Penanggung Jawab Komunitas Sant’ Egidio Kupang, Johanes Baptista Kapa, Ketua PMKRI Cabang Kupang, Engelbertus Tobin, dan Aktivis HMI Cabang Kupang, Rossy Bella Oktalia.

Ketua Bidang Organisasi KOMPAK, Ningsih Bunga mengatakan, di era milenial digital, virus-virus media sosial menebar tak terbendung oleh siapapun dan apapun, ada virus kebaikan, tetapi ada pula virus kebohongan. Ruang publik menjelma menjadi medan laga wacana mengerikan tatkala hoax menjadi panglimanya.

“Ironisnya, bila kita hanya menjadi penonton pasif dan enggan tedibat di dalamnya. Maka kita sedang menunggu sebuah kehancuran. Ternyata virus-virus media sosial juga berpengaruh bagi pemuda-pemudi Nusa Tenggara Timur (NTT),” ungkapnya.

Menurut Ningsih, toleransi adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekeija sama antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda, baik secara etnis, bahasa, budaya, politik maupun agama.

“Bersikap toleran berarti menghargai dan mengafirmasi nilai-nilai demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan dalam perbedaan. Masing-masing individu memiliki hak yang sama untuk bertindak asalkan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Ningsih berargumen, memiliki kehidupan yang aman dan damai merupakan impian semua warga Negara Indonesia. Untuk memiliki kehidupan yang damai itu maka masyarakat harus memiliki rasa cinta yang besar terhadap Negara ini.

“Rasa cinta terhadap tanah air dapat ditunjukan dengan mengikuti setiap aturan yang ada dan yang diterapkan serta ditunjukan melalui sikap adil dan sikap saling toleransi dengan semua elemen masyarakat tanpa melihat semua perbedaan yang ada baik perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA),” ujarnya.

Dia menambahkan, tujuan dari dilaksanakannya dialog tersebut adalah untuk mencari format dan solusi dari virus-virus media sosial, mbangkitkan semangat para generasi muda Indonesia khususnya generasi muda NTT untuk membekali diri dengan sikap toleran.

Selain itu, untuk penguatan kelompok toleran ditengah kemajemukan dan multikultural, serta untuk membantu pemuda membiasakan pola hidup tertib, mandiri, peduli dan peka terhadap lingkungan sekitarnya.