Garam TTU, Masuk Surabaya

Laporan Yan Meko
Kaubele, NTTOnlinenow – Sejak tahun lalu warga TTU mulai menggeluti usaha tambak garam produksi. Namun semangat yang dimiliki tidak ditunjangi dengan ilmu dan atau pengalaman yang memadai. Karena itu hasil garam yang kini melimpah ini tidak sesuai dengan standar nasional. Akibatnya warga pun kecewa dan stres karena tidak ada pengusaha yang mau membeli garam ribuan ton hasil produksi warga Biboki, Kabupaten TTU, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Diujung gelisah muncullah Yayasan Tapenmasu yang bekerja sama dengan PT. Sumatraco Langgeng Makmur yang melakukan sosialisasi terkait bertambak garam yang baik sesuai standar pabrik juga sekaligus membeli semua garam milik warga yang masih banyak terkontaminasi zat magnesium juga unsur unsur lainnya.

“Hari ini saya merasa terharu hingga menangis karena hasil semangat kami bisa naik kontainer dan dikirim ke Surabaya. Ini adalah awal yang menantang sekaligus berpeluang bagus untuk kami penambak garam didaerah sini. Kami harus banyak belajar dan sangat berterimakasih untuk Yayasan Tapenmasu dan PT. Sumatraco Langgeng Makmur yang sejak kemarin membeli kontan semua garam yang ada disini”, tutur bapak Aleksander Saly tersenyum.

Sementara dalam moment sosialisasi itu, Manajer Operasional PT. Sumatraco Langgeng Makmur, Wardono memuji semangat warga Biboki yang nekad kerja kendati tidak berbekal pengalaman.

“Warga TTU sangat berpeluang untuk maju karena memiliki dedikasi kerja yang tinggi juga memiliki lahan tambak yang luas yang ditunjang dengan musim panas panjang. Kami siap melatih warga dan atau memfasilitasi mereka untuk studi banding ke daerah lain. Tahun ini kita membeli semua garam di TTU kendati kwalitasnya dibawah standar. Kita membeli dengan harga seperti ini karena garam TTU harus dicuci murnikan lagi. Saya harus bergegas ke daerah lain lagi dan kami mempercayakan yayasan Tapenmasu untuk mengurus semua garam di daerah TTU ini, pungkas Wardoyo yang didampingi putranya Bimo.

Direktur LSM Tapenmasu, Gildus Bone ketika diwawancarai wartawan mengatakan, Yayasannya hadir di Pantai Utara untuk berurusan dengan garam dan tidak berurusan dengan persoalan tanah yang mulai muncul embrio ribut.

“Kami datang membeli garam warga yang terancam cair karena musim hujan hampir tiba. Saya adalah direktur Yayasan Tapenmasu tetapi melekat juga pribadi saya sebagai Motivator Pembangunan Desa di TTU dalam program Gubernur NTT I & II. Kami diajar Pak Viktor Laiskodat untuk selalu peka dengan keluhan masyarakat. Karena itu sejak kemarin kami datang untuk membuyarkan kegelisahan bapak ibu penambak garam. Kami hanya akan membeli garam dan tidak mau terlibat dengan masalah tanah”, ujar lelaki energik ini.

Dalam pertemuan sosialisasi di Masin Bot (Rabu, 07 November) ini, hadir pula Raja Usboko, Camat Biboki Moenleu, Benyamin Lalian, kepala desa Oepuah, Lukas Usboko, utusan dari Bank NTT USPD Wini, Jano Gonzaga S.Meta dan Romo Dius Nahas, Pr.

Pada kesempatan itu Raja Biboki, diberi kepercayaan untuk menyerahkan uang pembelian garam kepada Romo Dius Nahas yg telah menjual garam 2 kontainer milik Gereja Dekenat Mena kepada yayasan Tapenmasu.