Warga Perbatasan Sulit Akses Jaringan Internet

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Oepoli, NTTOnlinenow.com – Warga di perbatasan negara antara RI – Timor Leste di Oepoli, Desa Netemnanu Utara, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, dalam kesehariannya mengalami kesulitan mengakses jaringan internet.

Kepala Desa Netemnanu Utara, Wemfried Kameo sampaikan ini kepada wartawan saat ditemui di kantornya, Sabtu (6/10/2018).

Menurut Wemfried, jaringan internet yang bisa tertangkap perangkat seluler di daerah itu hanyalah jaringan internet Telemor dari Timor Leste. Sedangkan layanan internet provider Indonesia sama sekali tidak ada.

“Masyarakat kami di sini masih mengandalkan jaringan internet dari Telemor, Timor Leste, walaupun biayanya jauh lebih mahal, tapi warga yang butuh tidak punya pilihan lain lagi,” katanya.

Wemfried menjelaskan, untuk bisa mengakses internet di daerah itu warga harus membeli kartu Telemor dengan harga Rp30.000 per kartu, kemudian ditambah pulsa voucher 1 dollar senilai Rp20.000.

“Tapi itu juga harus beli empat voucher sehingga biayanya Rp80.000 untuk bisa menggunakan internet selama satu minggu, itu pun kalau dipakai dengan hemat,” katanya.

Dia mengungkapkan, kartu maupun pulsa voucher itu dapat dibeli dari warga Timor Leste yang datang menjualnya setiap minggu saat hari pasar di Pasar Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur.

Kepala desa periode 2014-2019 ini menyebut, biaya yang mahal ini menyebabkan sebagian besar warganya tidak mengakses internet sebagai media berkomunikasi maupun mendapatkan berbagai informasi penting lainnya. Karenanya, dia berharap jaringan internet dari Indonesia bisa hadir, terutama dari operator Telkomsel.

“Karena kalau ada jaringan 3G atau 4G, maka tentu akan sangat memudahkan kami. Biayanya juga lebih hemat, Rp100.000 bisa pakai hingga satu bulan,” katanya.

Warga Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur, Aleks Thoma mengatakan, warga setempat masih sangat sulit mengakses internet dari Indonesia sehingga terpaksa membeli kartu Telemor, milik Timor Leste.

Dia mengatakan, kesulitan mengakses internet juga dialami dalam menjalankan pekerjaannya sebagai penanggung jawab PLTD Sub Rayon Oepoli.

“Setiap hari kami membutuhkan internet untuk bisa kirim laporan, sementara jaringan Telkomsel yang beroperasi saat ini hanya untuk telpon dan mengirim pesan singkat sehingga sangat kesulitan,” katanya.

Thoma menjelaskan, penggunaaan internet dengan kartu Telemor juga jauh lebih mahal karena harus membeli pulsa voucer yang dijual secara terpisah.

“Untuk internet sendiri kita beli satu voucer, kemudian WhatsApp juga beli coucer khusus lagi jadi terpisah, berbeda dengan Telkomsel yang sekali isi pulsa bisa gunakan untuk semua,” paparnya.