Pilkades Robo Diduga Diwarnai Kecurang

Bagikan Artikel ini

Laporan Alvaro Saputra Marthin
Labuan Bajo, NTTOnlinenow.com – Sebanyak 60 desa di kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) baru saja usai melakukan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak tahun ini. Pilkades itu usai digelar serentak pada, Kamis, 27 September 2018 lalu.

Salah satunya desa Robo, kecamatan Welak. Di desa ini, 2 (Dua) Calon Kepala Desa (Cakades) ikut bertarung, diantaranya, Cakades nomor urut 1 (Satu), Marselus Aman dan Nomor urut 2 (Dua) Rafael Gatur.

Namun Pilkades Robo ini berakhir polemik. Pasalnya, panitia Pilkades di desa itu diduga terlibat konspirasi dalam melakukan kecurangan dengan sengaja menghilangkan surat suara dan mengakomodir surat suara yang tidak sah kepada nomor urut lainnya.

Demikian disampaikan ketua tim pemenangan Cakades Robo, nomor urut 1 (Satu), Alfonsius Prakarsa Nabut, kepada wartawan, Sabtu, 29 September 2018 di Labuan Bajo.

“Kita menduga, panitia telah berkonspirasi dengan calon nomor urut 2 untuk melakukan kecurangan dengan cara menghilangkan satu surat suara dan mengakomodir surat suara yang tidak sah kepada nomor urut 2. Dimana surat suara tersebut terjadi kesalahan coblos, karena pendobelan coblos ditempat yang berbeda. Menurut aturannya itu salah, tetapi oleh panitia itu tetap diakomodir dan diberikan kepada nomor urut 2, walaupun saksi nomor urut 1 berkeberatan atau tidak menyetujuinya,” ujar Nabut.

Sejumlah dugaan lainnya juga, lanjut dia, panitia melakukan roling Tempat Pemungutan Suara (TPS) sementara proses pemilihan berlangsung. Yang sebenarnya, dia wajib pilih di TPS 001 Tando, tetapi tiba-tiba pindah ke TPS 002 Robo.

Dugaan lainnya adalah PLT Kades Robo yang juga merangkap sebagai sekretaris desa (Sekdes), Alfridus Hapison terlibat langsung dalam proses perhitungan surat suara di TPS.

“Kita juga menduga, Sekdesnya terlibat dalam kecurangan itu, karena dia terlibat langsung dalam menghitung surat suara di TPS. Dia membantu menulis dipapan. Padahal itu bukan tugasnya dia, itu tugas panitia. Pernah terjadi insiden prostes oleh warga saat perhitungan berlangsung, dimana surat suara yang dibacakan untuk nomor urut 1, tetapi dia menulis atau memasukannya ke nomor urut 2, sehingga warga yang menyaksikan saat itu langsung melakukan protes dan akhirnya dikembalikan ke nomor 1, dan dia berpura-pura berdalih salah menulis, tetapi karena situasi dan kondisi, wargapun memakluminya saat itu,” tutur Nabut.

Usai perhitungan, Paniti juga melakukan pemindahan kotak suara dari TPS ke sekretariat panitia yang jarak tempuhnya kurang lebih 600 meter dengan melibat masyarakat yang tidak terlibat dalam kepanitiaan.

Di desa Robo sendiri, total wajib pilih berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 789 wajib pilih, yang terbagi dalam 2 (Dua) TPS, yaitu TPS 001 Tando dan TPS 002 Robo.

Di TSP 001 Tando, total DPT 394, yang menggunakan hak suara sebanyak 355 wajib pilih. Namun 1 (Satu) suara dinyatakan hilang. Perolehan suara kedua cakades di TPS ini, masing-masing, nomor urut 1, Marselus Aman perolehan 256 suara, dan nomor urut 2, Rafael Gatur dengan perolehan suara 98 suara. Surat suara tidak terpakai 39 surat suara.

Sedangkan, di TPS 002 Robo, total DPT 395. Perolehan suara masing-masing Cakades, yaitu nomor urut 1, Marselus Aman, meraup 95 suara, nomor urut 2, Rafael Gatur meraup 353 suara.

Dengan demikian, perolehan suara akhir dari kedua Cakades tingkat desa Robo, yaitu masing-masing, nomor urut 1, Marselus Aman, dengan total 351 suara. Sedangkan nomor urut 2, Rafael Gatur dengan total 353 suara.

Sementara itu, Cakades Marselus Aman juga menambahkan, banyak kejanggalan politik sebelum pemilihan itu terjadi, yang diduga dilakukan oleh pihak yang tak bertanggungjawab. Salah satunya, Ia sebutkan money politik.

“Sebelumnya kita dapatkan orang bagi-bagi uang untuk beli suara, tetapi kita tidak laporkan itu karena punya pertimbangan. Kita dapatkan orangnya dan uangnya sebagai barang bukti dan saat ini kita masih simpan itu,” pungkasnya penuh kesal.

Baik Marselus Aman maupun Alfonsius Prakarsa Nabut, keduanya sesalkan proses pilkades yang telah berlangsung karena berjalan tidak sesuai harapan alias penuh kecurangan. Ditambahlagi dengan dengan tidak diakomodirnya sejumlah pengaduan atau keberatan yang pernah mereka sampaikan ke panitia Pilkades. Keduanya berharap agar para pihak terkait yang berurusan dengan pilkades ini dapat segera menanggapi keluhan mereka dan segera menyelesaikan polemik tersebut.

Keduanya juga mengaku tengah mengumpulkan sejumlah bukti untuk nantinya menempuh jalur hukum apabila kasus ini menemukan jalan buntu.