Pihak Rensi Ambang Akhirnya Buka Suara

Bagikan Artikel ini

Laporan Alvaro Saputra Marthin
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Kasus Rensi Ambang alias RA dengan Melkior Marseden Sehamu alias EKI yang bermula dari catingan ‘facebook’ antara EKI dan isteri RA, Maria Carolina Alva, yang kemudian berujung pada kasus hukum rupanya kini berbuntut panjang.

Kasus ini semakin menyeruak ketika video penganiaan terhadap EKI oleh RA bersama Keluarga sempat diviralkan dimedia social (Medsos), seperti ‘Facebook dan Whats App’ seolah memancing berbagai tanggapan public atas kejadian yang menimpa EKI. Dari berbagai komentar di medsospun, sekilas terlihat, mayoritas public mengutuk keras tindakan yang dilakukan oleh RA bersama keluarganya. Hampir tak terkecuali, mulai dari pakar kukum, kuasa hukum hingga public yang awam hukum sekalipun seketika turut mengomentari kejadian tersebut.

Tak lama berselang, usai diviralkan di medsos, karena merasa dirugikan, EKI pun akhirnya menempuh jalur hukum dengan melaporkan kasus yang tengah menimpanya itu ke Polres Manggarai, dan Kepolisian langsung menindaklanjuti laporan tersebut hingga kini kasusnya masih terus bergulir di Polres Manggarai.

Selasa (25/9/2018), RA melalui kuasa hukumnya, Plasidus Asis Deornay, SH yang didamping isteri RA sendiri bersama Ani Ambang, saudarinya kepada wartawan mengatakan, selama ini, RA lebih memilih diam atau tak mengomentari kasus yang tengah menimpahnya saat ini karena karena sejumlah alasan.

“Ada sesuatu hal yang perlu kami jaga, karena menurut kami langkah-langkah yang sudah kami lakukan selama ini adalah yang terbaik,” kata Plasidus.

Dijelaskannya, langkah yang dilakukan selama ini adalah baik non litigasi maupun litigasi. Non litigasi itu bahwa ada proses atau upaya yang dilakukan diluar proses hukum. Atau biasa disebut dengan mediasi keluarga. Selain itu ada juga Litigasi. Kedua pendekatan ini dilakukan secara bersamaan. Ini penting diketahui public, agar public tahu tentang posisi kasus ini sesungguhnya.

“Bagi kami ini sangat penting supaya ada kesamaan hak dalam menyampaikan pendapat. Ada kesamaan pandangan atas sebuah peristiwa,” ungkap Plasidus.

Kasus ini terjadi pada, Kamis (23/8/2018) di kediaman RA di Waso, Kelurahan Waso, kecamatan Langke Rembong, kabupaten Manggarai. EKI dianiaya oleh RA bersama keluarganya (isteri dan anaknya) saat EKI menyambangi kediaman RA untuk meminta maaf atas kesalahannya dalam catingan ‘FB’ dengan isteri RA beberapa waktu sebelumnya. Kedatangan EKI sendiri dikediaman RA di Waso atas dasar kesepakatan kedua belah pihak (EKI dan RA) bahwa kasus ini harus diselesaikan secara kekeluargaan atau secara adat Manggarai.

Plasidus mengatakan, sebagai Lowyer dirinya mengakui bahwa pihaknya sudah membedah kasus ini dengan baik. Ia juga mengakui, terjadi perbedaan pendapat antara pihaknya dengan pihak Kepolisian.

“Memang terjadi perbedaan pendapat antara kami dengan pihak kepolisian. Dan itu wajar, namanya pendapat,” ujarnya.

RA mengakui perbuatannya

Plasisus mengakui bahwa kliennya, RA itu benar telah melakukan penganiayaan terhadap EKI. RA dituntut dengan pasal 351 (ayat 1) KUHP tentang penganiayaan. Namun peristiwa ini terjadi tentu punya alasan atau bukan tanpa alasan. Akan tetapi, sesungguhnya, EKI sendiri kata Plasidus, telah menyadari dan mengakui pula kesalahannya, bahwa ada peristiwa yang dilakukannya terhadap isteri RA.

Ada 3 (tiga) opsi yang ditawarkan oleh RA terhadap EKI sebelum kejadian penganiayaan itu terjadi, yaitu berdamai, diurus secara kekeluargaan, proses hukum atau bagaimana. Namun EKI sendiri menjawab menolak proses hukum, tetapi mau diapain saja termasuk dipukul sekalipun asal jangan diproses hukum, ungkap Plasisus.

Dengan demikian bahwa, penganiayaan yang tarjadi pada EKI adalah atas dasar kemauannya sendiri sebagai konsekwensi dari kesalahan yang telah dilakukannya terhadap itseri RA.

Tetapi yang menjadi soal adalah ketika kasus ini disiarkan secara langsung dan ditayang di medsos. Hal itu dilakukan RA semata-mata hanya ingin memberikan pesan kepada teman-temannya yang turut membantunya mencari EKI bahwa yang bersangkutan sudah bertemu dan tak usah dicarikan lagi, jelas Plasidus.

RA punya itikad baik dan peristiwa ini bukan tanpa alasan

Usai penganiaayan terhadap EKI dan setelah menyadari perbuatannya itu salah, RA akhirnya menghapus postingan videonya itu dan meminta maaf kepada EKI dengan cara ‘Kepok’ adat Manggarai dengan sebotol bir dan uang pecahan Rp. 100 ribu. Dan itupun telah diterima baik oleh EKI sendiri.

“Mereka (RA dan EKI) bahkan sudah berdamai. Berpelukan dan saling menerima. Tetapi ternyata masih dilanjutkan,” ujar Plasidus.

Plasidus menegaskan bahwa peristiwa itu tidak serta merta dialkuakn oleh RA saja, tetapi atas dasar kemauan dari EKI sendiri.

“Kita sudah serahkan bukti rekaman videonya kepada pihak Kepolisian. Saya sendiri tidak tahu apakah kasus ini berkepanjangan karena inisiatif sendirinya EKI atau ada pihak lain yang sengaja bermain di air keruh,” pungkasnya.