Wagub NTT Ungkap Lima Prinsip Bangun Pariwisata

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi mengungkapkan prinsip membangun sektor pariwisata berlandaskan 5A, yaitu Atraksi, Aksesibilitas, Akomodasi, Amenitas dan Awarenes.

Hal ini diungkapkan Nae Soi pada pembukaan Expo Alor XII, Alor Karnaval V, ENTEX (East Nusa Tenggara Expo) XI dan Jambore Pariwisata di Kabupaten Alor, Jumat (14/9/2018).

Nae Soi menyampaikan terima kasih kepada Menteri Pariwisata RI, lebih khusus kepada Pemerintah Kabupaten Alor beserta seluruh masyarakat Alor sebagai tuan rumah serta kepada Wali Kota dan semua Bupati se-NTT yang telah mendukung acara ini.

“Taramiti Tominuku, berbeda-beda tapi satu, itulah Nusa Tenggara Timur. Itulah Indonesia.” kata Nae Soi dalam sambutannya saat membuka kegiatan tersebut.

Menurut Nae Soi, visi ‘NTT Bangkit Menuju Sejahtera’ didasarkan pada keyakinan bahwa NTT harus lepas dari kemiskinan. Karena NTT sangat kaya akan sumberdaya alam serta budaya sebagai cerminan martabat manusia NTT. Untuk itu, pengembangan pariwisata adalah penggerak utama bagi pembangunan ekonomi inklusif yang merata.

“Berbicara mengenai pariwisata tidak hanya kita berbicara mengenai hotel. Juga tidak hanya bicara kekayaan budaya kita. Tetapi kita bicara mengenai eksistensi diri manusia NTT yang dieksposkan ke dalam acara-acara yang dibuat oleh masyarakat NTT. Memperkenalkan kepada masyarakat luar bahwa kamilah orang NTT. Kami bangsa yang terhormat yang memiliki kekayaan alam sangat luar biasa,” tegas Nae Soi.

Nae Soi menyebut prinsip pariwisata adalah 5A yaitu Atraksi, Aksesibilitas, Akomodasi, Amenitas dan Awarenes. “Tadi kita melihat atraktif kita yang sangat luar biasa. Tarian yang sangat eksotis. Anak-anak kecil lakukan tarian dengan pedang dan gerak yang sangat lincah dan patriotik.Inilah atraktif kita. Substansi dari pada tarian itu adalah kita mau mendidik anak-anak kita supaya anak-anak kita punya jiwa patriotik,” kata Nae Soi.

Atraktif yang lain, lanjut Nae Soi, adalah kekayaan alam NTT yang sangat luar biasa. “Kekayaan alam kita di NTT saya kira tidak ada tandingnya di dunia ini. Kita harus mempopulerkan ke mancanegara, ke Indonesia. Datanglah ke NTT, datanglah ke Pulau Alor, datanglah ke Flobamora seperti Komodo, Danau Kelimutu dan Alor yang sangat luar biasa ini,” ujarnya.

Nae Soi yakin kegiatan semacam ini tentu memberikan dampak positif kepada masyarakat Alor. Karena potensi wisata alam dan budaya Kabupaten Alor tergarap dan terekspos ke luar negeri. Sehingga ke depan ada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan domestik dan internasional yang mendorong pembangunan transportasi, mendorong pengembangan sektor pariwisata

Lebih lanjut Nae Soi menjelaskan, Aksesibilitas adalah masalah transportasi. Transportasi harus dibenahi bersama baik dari pusat, provinsi maupun kabupaten. Akomodasi adalah bagaimana memberikan pelayanan kepada wisatawan. “Bisa juga di rumah kita, bisa juga home stay, bisa juga hotel,” katanya.

Terkait Kepedulian/Awarennes, Nae Soi ajak seluruh masyarakat untuk peduli terhadap pariwisata yang merupakan mata rantai ekonomi yang bisa menghidupkan.

“Semua masyarakat NTT saya mengajak, terlebih masyarakat Alor, mari kita peduli tehadap pariwisata. Mari kita peduli kepada wisatawan-wisatawan asing sehingga mereka bisa datang kembali, bisa berbelanja sehingga kita bisa ada peningkatan pendapatan,” ajak Nae Soi.

Terkait Amenitas, Josef ajak masyarakat untuk jaga kebersihan. “Buang sampah sembarang itu tidak diperbolehkan,”imbuh Josef.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat dalam sambutannya mengatakan, sangat terkesima dengan ke-17 kecamatan se-Alor serta 14 kabupaten/kota yang ikut kegiatan tersebut. “Kegiatan ini beri saya ide yang sangat banyak. apa yang saya bisa kerjakan ke depan. Terimaksih sekali untuk Alor. Kegiatan hari ini menunjukkan kekayaan budaya kita,” ungkap Julie Laiskodat.

Julie Laiskodat memberikan kesaksian kenapa NTT tidak miskin. Butik LeViCo, dengan izin masyarakat NTT, mewakili NTT ke ajang yang sangat bergengsi di mancanegara yaitu New York Fashion Week, Paris Fashion Week dan selanjutnya di London Fashion Week untuk mempromosikan tenun-tenun seluruh NTT. Hasilnya, tenunan NTT mampu berkompetisi dengan hasil karya para perancang terkenal seluruh dunia.

“Saya bukan perancang, hanya modal nekat saja mau membawa tenun NTT supaya orang kenal bahwa inilah kita NTT. Itu saja modalnya”, ungkap Julie Sutrisno Laiskodat.

Bupati Alor, Amon Djobo mengatakan masyarakat Alor sangat mendukung kegiatan ini. Expo Alor pertama digagas oleh bekas Bupati Alor, Ans Takalapeta pada 20 tahun yang lalu.

“Warisan budaya ini dititipkan pada kami sekaligus juga leluhur mengingatkan kepada kami bahwa kekayaan-kekayaan budaya harus dipelihara, dijaga dan dirawat sehingga punya nilai ekonomis yang luar biasa untuk kemaslahatan masyarakat banyak. Dari nilai-nilai budaya dan adat-istiadat yang leluhur tuturkan bagi kami,kami harus lanjutkan itu kepada generasi berikut. Alor memiliku harga dan nilai seperti daerah-daerah lain di NTT” ungkap Amon Djobo.

Kegiatan Alor Karnaval V, Expo Alor XII, yang dipadukan dengan Kegiatan ENTEX (East Nusa Tenggara Expo) XI dan Jambore Pariwisata Tingkat Provinsi NTT di Kabupaten Alor berlangsung dari tanggal 14 s/d 20 September 2018, diikuti 17 kecamatan se-Kabupaten Alor dan 14 Kabupaten/Kota se-NTT.