Danrem 161/Wira Sakti : Provokasi Dapat Memperburuk Hubungan Antar Negara Berdaulat

Kupang, NTTOnlinenow.com – Kembali lagi, media Timor Leste menerbitkan berita yang tidak sesuai dengan fakta dan data yang sebenarnya dilapangan. Dua hari yang lalu terbit berita di media Timor Leste bahwa WNI, Warga Amfoang di wilayah Naktuka dan Wilayah Manusasi, telah melanggar batas negara karena membersihkan lahan diwilayah sengketa yang merupakan Unresolved Segmen, dan tentang hal itu sudah saya bantah dengan keras, demikian dikatakan Danrem 161/Wira Sakti Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa, S.E, M.M di Kupang NTT, Kamis (13/09/2018).

Kali ini muncul lagi berita, yang tidak kalah provokatifnya di media Timor Leste, berita yang tidak sesuai dengan fakta dan data di lapangan, yaitu tentang keberadaan TNI di perbatasan yang dianggap telah melanggar tugas sebagai penjaga pengamanan perbatasan.

Berita tersebut telah terbit di Media Timor Leste, yang dikatakan oleh Komandan Unit Kepolisian Perbatasan (Unidade Policia Fronteira/UPF), Joao Belo dos Reis di aula CNE Caicoli, Dili, Rabu (12/09/2018), bahwa terdapat dua kelompok Tentara Nasional Indonesia (TNI) diduga masuk di daerah Oelnasi, Dusun Haemnanu, Desa Abanu, Sub Distrik Pasabe, dan Naktuka, desa Citrana, Sub Distrik Nitibe, Oecusse.

Dikatakannya bahwa setelah UPF melihat situasi ini, UPF secara langsung melakukan intervensi dengan melakukan koordinasi dan diskusi dengan TNI, dan setelah itu pihak mereka langsung menyampaikan informasi kepada Kementerian Luar Negeri Timor-Leste untuk berbicara secara diplomatis dengan mereka.

Menyikapi dua pemberitaan media Timor Leste diatas, Danrem 161/Wira Sakti berpendapat bahwa seharusnya media Timor Leste tidak perlu melakukan pemberitaan provokatif dengan menyebarkan berita yang tidak benar atau diputar balikkan faktanya.

“Media massa sebagai pusat informasi berperan penyedia dan penyampai informasi tentang berbagai macam peristiwa, kejadian, realitas dan banyak hal lain yang terjadi di tengah masyarakat dengan data/fakta atau kejadian yang benar dan orisinil” Jelas Danrem 161/Wira Sakti.

Lebih lanjut, semestinya media Timor Leste bisa membedakan mana berita berdasarkan fakta dan mana berita yang berdasarkan opini, lebih menyedihkan lagi opini diplintir bernuansa provokasi.

“Perlu digaris bawahi bahwa fungsi media massa sangat mengutamakan kebenaran dan fakta, maka apabila terdapat aparat keamanan atau media cetak/surat kabar Timor Leste yang ingin mengeluarkan statemen, harus berdasarkan data dan fakta akurat, serta perlu banyak belajar untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan kapasitas kemampuannya. Bukannya menggiring atau menggoreng opini kemudian mengulang kembali berita lama/ basi dengan isi yang sama untuk dimuat berulang-ulang di media”,urai Danrem 161/Wira Sakti.

Disinggung juga bahwa Media massa mempunyai tugas yang mulia.

“Selain menyampaikan kebenaran informasi, juga harus mengedepankan unsur edukasi kepada masyarakat sehingga dapat berkontribusi dalam menciptakan hubungan bilateral yang kondusif antara dua negara yang bertetangga”, sebut Danrem 161/Wira Sakti.

Ditambahkan juga bahwa di setiap pergantian Penugasan Satgas Pengamanan Perbatasan RI-RDTL, selalu mendapat penekanan bahwa pasukan TNI harus dapat menjaga hubungan baik antara personil TNI dan personil UFP yang bertugas di perbatasan.

“Tugas pengamanan perbatasan adalah kehormatan, hal ini sangat dipegang teguh oleh setiap prajurit TNI. Dalam pelaksanaan tugas dilapangan, prajurit TNI dan UPF selalu melakukan koordinasi, terkadang anggota TNI dalam melakukan tugas patroli perbatasan bertemu dengan personil UPF di lapangan, seperti ini tidak perlu di ributkan karena hal itu juga dilakukan oleh UPF. Keduanya saling menjaga kerukunan bahkan UPF pernah datang berkomunikasi dan berkunjung di Pos TNI”,ungkap Danrem 161/Wira Sakti.

Media Timor Leste tidak perlu membesarkan dengan mengira ada pelanggaran.

“Jangan melakukan upaya provokasi dengan selalu mengunduh berita secara berulang, tetapi tidak didukung data dan fakta yang akurat. Biarkan proses mekanisme perundingan damai yang sedang berjalan, diikuti dan dipantau perkembangannya, terlebih lagi Negara Timor Leste yang luasnya 15.410 km2 dan berpenduduk 1.324.094 jiwa dan negara Indonesia yang luas daratannya 1.919.440 km2 serta jumlah penduduknya sebanyak 262.000.000 jiwa keduanya mempunyai kedaulatan mutlak. Sekarang Delegasi kedua negara sudah melakukan upaya positif dalam menjalankan perundingan damai, jangan dinodai oleh provokasi media apalagi jika ada media yang mengunduh berita bohong atau Hoax” harap Danrem 161/Wira Sakti.

Bahkan Danrem 161/Wira Sakti juga berpesan untuk selalu belajar dari sejarah dunia.

“Ingat sejarah tidak boleh dilupakan, akibat berita kebohongan oleh Hitler dengan mengumumkan melalui radio bahwa tentara Jerman diserang tentara Polandia memicu terjadinya perang dunia kedua di awal September 1939, atau berita Perang antara Amerika Serikat dengan Spanyol pada tahun 1898, akibat postingan koran yang diterbitkan oleh William Randolph Hearst. Koran tersebut memberitakan tenggelamnya kapal perang Amerika Serikat yang bernama Maine, di Havana Harbor merupakan ulah tentara Spanyol sehingga terjadi perang” pesan Danrem 161/Wira Sakti.

Diakhir pernyataannya Danrem 161/Wira Sakti berharap media Timor Leste dapat belajar dari sejarah perang dunia.

“Ambil hikmah dari setiap berita, jangan hanya berpikir untuk mendapatkan tiras atau oplah yang besar dengan mengesampingkan kepentingan kedamaian di kedua negara” harap Danrem 161/Wira Sakti.