Potret Perempuan Adonara Menggantung Asa Dari Berkebun

Laporan Adi Rianghepat
Kupang, NTTOnlinenow.com – Hari masih sangat dini. Waktu saat itu menunjuk pukul 04.15 WITA. Hampir sebagian rumah kampung pelosok di Pulau Adonara tepatnya di Desa Pledo, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur itu masih sepi. Ina (mama) Antonia Lua Boli sudah bangun. Ibunda dari Wulan, puteri semata wayangnya itu ternyata sudah menampi beras untuk ditanak sarapan bagi anaknya. Begitulah keseharian Antonia yang terus berjuang tanpa kenal lelah mempertahankan dan melanjutkan kehidupannya dan semata wayangnya sejak suaminya memilih merantau.

Menggantung Asa Dari Berkebun

Memilih berkebun dengan harus menantang kondisi alam Pulau Adonara yang kurang mendukung menjadi satu-satunya pilihan Antonia mengais makan dan rezeki demi menggapai asa hidup berdua bersama anaknya. Jika disuruh memilih, Antonia mengaku tak akan menjadi petani dengan kondisi alam yang sangat kering itu. Menjadi petani di Pulau Adonara sangatlah berat. Betapa tidak, pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah timur Pulau Flores dengan luas wilayahnya 509 km persegi dan titik tertingginya 1.676 meter itu hanya dipenuhi pertanian lahan kering.

Kondisi geografis pulau yang termasuk Wilayah Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur dan dibatasi oleh Laut Flores di sebelah utara, Selat Solor di selatan dan memisahkan dengan Pulau Solor, serta Selat Lewotobi di barat serta memisahkan dengan Pulau Flores itu hanya bisa menghasilkan jagung, ubi atau singkong serta tanaman perkebunan lainnya seperti kelapa. Namun begitu, jalan ini harus dilalui meskipun berat. “Kondisi itulah yang telah memaksa saya untuk terus bekerja sekeras-kerasnya demi hidup saya dan anak saya,” katanya. Dia mengaku, mulai berkebun sejak pukul 05.00 WITA usai menyediakan makan pagi untuk anaknya. Hal ini dilakukan agar tidak terlampau terik jika panas mulai datang menyapa. “Ya, saya harus berangkat pagi-pagi agar tiba di kebun masih pagi sehingga bisa mencangkul dalam keadaan tidak terlalu terik,” katanya.

Lahan yang digarapnya tak juga luas. Tak luas setara hektaran, namun kebun peninggalan orang tuanya itu telah menjadi salah satu sumber penghidupan keluarganya. Meskipun masih sangat bergantung dari belaskasihan alam berupa hujan, namun di atas lahan itulah Ina Antonia menanam jagung, kacang hijau dan sejumlah tanaman umur pendek lain seperti pepaya, labu dan sejumlah sayur lainnya. Hasilnya dia manfaatkan sebagai bahan pangan rumahnya dan sebagian dia jual untuk mendapatkan uang bagi pemenuhan sejumlah kebutuhan dia dan anaknya.

“Hidup ini sangat berat dan keras. Saya tak bisa berdiam dengan kondisi yang saya alami ini. Saya harus terus bekerja demi kehidupan dan keberlanjutan keluarga saya,” tuturnya tegas dengan rona wajah agak kusut dihiasi genangan air di pelupuk matanya yang tak mau dia teteskan. Kebun Antonia yang peninggalan orang tuanya itu berjarak hampir 1 km dari rumahnya. Jika musim hujan tiba, kebun itu bisa ditanami sejumlah tanaman selain jagun dan kacang tanah. Ada juga sayur-sayuran dan kacang hijau. Nah dari kebun itulah sumber penghidupan dan kehidupan Antonia dan anaknya. Hal yang dilakukan Antonia setelah masa panen datang dan di saat musim menginjak kemarau, Antonia tetap melakukan aksi bersih-bersih sembari menanam sejumlah tanaman usia pendek seperti sayur dan pepaya. “Terpaksa saya harus menyediakan wadah penampung air untuk dimanfaatkan menyiram tanaman itu agar tanaman tetap tumbuh,” katanya.

Selama hampir enam jam saban hari, Antonia harus bergelut di lahannya dengan cara yang masih tradisional, sebelum akhirnya dia harus mengaso untuk menyediakan makan siang anak dan dirinya. “Ya, pola hidup saya itu saya lakukan saban hari dan sudah menjadi rutinitas sepanjang tahun dan selama saya hidup,” katanya. Dari dalam dapurnya, seadanya Antonia menyediakan jagung dicampur beras untuk ditanak makan berdua dengan anaknya. Sejumlah sayur yang sempat dia petik di kebunnya akan menjadi teman makan. Jika ada sedikit uang dia akan membeli lauk lainnya seperti ikan sebagai teman makannya dan anaknya. Lagi-lagi Antonia mengatakan kalau rutinitas itu dia lakukan sejak suaminya memilih merantau belasan tahun silam. Dan sangking rutinnya Antonia lalu menyebut aksinya itu sebagai sebuah kewajiban.

“Ya, sudah menjadi aksi wajib saya tiap hari. Kecuali pada hari Minggu, karena saya harus beribadah ke gereja untuk menyerahkan diri dan berpasrah sembari mendoakan segala usaha dan kerja saya kepada Tuhan dengan penuh harapan akan mendapat berkat,” katanya.

Antonia Lua Boli adalah yatim piatu yang terlahir dari kedua orang tuanya yang juga saban hari sebagai petani. Anak ke empat dari lima bersaudara itu tidak diwarisi sejumlah harta yang bisa memberikannya kehidupan yang nyaman. Saudara-saudaranya pun memilih merantau untuk terus menjalani kehidupan mereka masing-masing. Atas keputusan bersama saudaranya, Antonia lalu diminta untuk tetap berada di kampung dan terus merawat rumah tua sisa peninggalan orang tua dan sedikit tanah pertanian lahan kering milik keluarga untuk bisa terus bertahan hidup. Menikah dengan seorang lelaki Adonara yang juga hanya bisa bertani tanpa lahan, telah mendorong suaminya untuk memutuskan merantau.

Pada awal pernikahan dan hidup bersama suaminya, keduanya masih bisa menalangi hidup dengan menggarap lahan peninggalan orang tua Antonia. “Ya, kalau hanya sekadar untuk makan kami berdua sangatlah mencukupi dari lahan yang ada meskipun masih sangat berharap hujan,” katanya. Namun hal itu mulai berubah, ketika mereka dikarunia anak semata wayangnya, Wulan. “Dia (Wulan) terus bertumbuh besar dan bersekolah dan tentu ada banyak kebutuhan yang harus kita penuhi. Hal itulah yang telah mendorong suami saya untuk merantau,” katanya.

Sepeninggalan suaminya ke tanah rantau itulah, Antonia harus ekstra keras bekerja, mulai bangun pagi mengurus kebutuhan makan anaknya dan setelahnya ke kebun untuk menanam (jika musim menanam) atau mempersiapkan lahan untuk menanti musim tanam tiba. “Masih sama sebenarnya rutinitas saya sejak masih bersuami maupun sejak dia (suami) merantau. Hanya sedikit berbeda karena sekarang saya hanya bekerja sendiri jadi sedikit lebih keras kerjanya,” katanya.

Antonia mengaku, hanya pekerjaan (berkebun) itulah yang bisa dia lakukan untuk mempertahankan hidupnya dan anaknya, sambil menanti kiriman hasil jerih lelah sang suami di tanah rantau yang juga tak tentu. “Jujur saya tak bisa hanya menanti kiriman uang dari sang suami dari tanah rantau yang juga tak tentu waktu dan jumlahnya. Saya juga tak bisa berdiam dengan kondisi itu, maka berkebunlah pilihan saya,” katanya. Dan memang, menggeluti hari-hari sebagai ibu dari Wulan dan orang tuanya dengan berkebun sudah lumrah. “Kami memang dibesarkan dengan cara (berkebun) itu oleh mendiang orang tua saya,” katanya.

Memang, berkebun cara tradisional dengan hanya bergantung pada alam, sangatlah membutuhkan tenaga yang luar bisa keras. Sesekali, bantuan dan uluran tangan saudara-saudari sekandungnya dari tanah rantau dibutuhkan. “Ya, kadang saya harus meminta uluran tangan saudara untuk pemenuhan kebutuhan sekolah anak saya,” katanya. Hal untuk makan dan pangan dalam rumah tangga, tentu masih bisa menggantung kepada stok jagung yang tersedia. Namun kebutuhan Wulan yang sudah mulai bersekolah tidaklah sedikit. Langkah mendekatkan diri kepada belas kasihan dan uluran tangan saudara menjadi keniscayaan. “Beberapa kebutuhan anak saya Wulan tentu butuh duit dan itu saya harus meminta dari saudara. Itu sebuah hal lumrah dengan kondisi saya yang sangat tak bisamemiliki simpanan duit yang cukup,” katanya.

Bersandar Kepada Kelompok Informal

Kondisi kerasnya hidup yang dialami Antonia telah mendorongnya harus bergabung dengan sejumlah perempuan lainnya di sebuah kelompok informal yang digagas bersama untuk menalangi kebutuhan hidup rumah tangga masing-masing mereka. Dia sadar bahwa hanya dengan menggeluti aktivitasnya sebagai petani di kondisi alam yang keras itu tak akan mampu memenuhi sejumlah kebutuhan anaknya yang terus bertambah usia.

Kelompok yang sudah hidup belasan tahun silam digagas sejumlah perempuan lainnya yang juga senasib karena ditinggal suaminya merantau itu telah menjadi wadah bagi para perempuan mengais sejumlah rezeki untuk mempertahankan hidup rumah tangga, sepanjang belum ada kiriman dari sang suami. “Saya kemudian tergerak dan bergabung dengan para perempuan lain di kelompok itu,” katanya. “Saya sadar bahwa anak saya tentu terus bertumbuh dan tentu kian banyak kebutuhannya untuk sekolah,” ungkapnya.

Di kelompok itulah sejumlah aktivitas para perempuan dilakukan. Mulai dari penyediaan jasa tenaga untuk bergotong royong membuka kebun warga lainnya, arisan beras dan uang serta jasa kerja lainnya dilakukan secara bersama-sama. Dari kerja bersama itulah, diperoleh sejumlah uang yang ditabung untuk selanjutnya disalurkan secara bergilir sesuai kebutuhan tiap-tiap anggotanya. “Kalau arisan kami gelar tiap pekan di hari Kamis malam diawali dengan doa bersama,” katanya.

Memang sedikit berbeda dengan jenis dan cara arisan di tempat dan kelompok arisan lainnya. Arisan yang dilakukan Ina Antonia dan 34 perempuan lainnya itu dilakukan sangat sederhana. Setiap anggota akan membawa uang senilai Rp1.000 setiap saat arisan dengan beras satu kaleng ukuran kaleng kecil bekas kental manis. Uang dan beras itulah yang kemudian akan disalur kepada setiap anggota yang membutuhkannya. “Bahkan kami juga mengumpulkan kayu api yang akan kami berikan kepada keluarga yang butuh saat akan ada acara adat atau acara keagamaan,” katanya.

Semua aksi nyata perempuan-perempuan dalam kelompok itu berjalan apa adanya dan tak pernah henti. “Kami sangat menikmati aksi kelompok ini selain sebagai salah satu sumber tambahan penghidupan keluarga, kami juga bisa saling mendoakan dan saling menguatkan antarkami kaum perempuan yang ditinggal suami karena merantau atau meninggal dunia atau pergi menikah dengan perempuan lainnya,” katanya.

Para perempuan di kelompok ini sadar betul bahwa memangku tangan dan menanti kiriman suami dari tanah rantau adalah sesuatu yang akan ‘membunuh’ perjalanan keluarga. “Hidup ini kan terus berjalan dan kami tak mau menanti saja kiriman dari suami yang juga belum pasti waktunya dan jumlahnya. Kami tak boleh berdiam dan kelompok inilah wadah kami berjuang,” katanya.

Tak berbeda dengan Ina Antonia dan anggota kelompok perempuan lainnya, hal sama juga dilakukan Ina Barek Kewoon (65) dan empat perempuan lainnya yang tergabung dalam kelompok mereka. Sejak ditinggal suaminya di tanah rantau, Ina Barek memilih bergabung dengan empat perempuan lainnya yang senasib dan sepenanggungan membentuk kelompok perempuan tangguh itu.

Di kelompok ini, Ina Barek dan empat perempuan lainnya menawarkan jasa penyewaaan peralatan masak bagi warga kampung yang mengadakan pesta adat atau pesta pernikahan. Selain itu, dengan memanfaatkan keahlian menenun, kelompok ini juga menawarkan jasa penyediaan peralatan adat bagi seremoni adat saat pernikahan, kematian dan atau seremoni adat lainnya.

“Karena sebagian seremoni adat memanfaatkan hasil tenunan maka kami menyediakannya dari hasil tenunan anggota kelompok. Kami mencoba memanfaatkan peluang di kampung ini karena semua hal di kampung ini selalu diselesaikan dengan sremoni adat. Kondisi itulah yang kami manfaatkan dengan menawarkan jasa ini,” kata Ina Barek. Hasil jasa penyewaan itulah kemudian dikumpul lalu dibagikan kepada semua anggota kelompok dengan mekanisme yang sudah disepakti bersama. “Kami punya tata cara pembagian hasil jasa penyewaan yang kami tawarkan,” katanya tanpa merincikannya.

Ibu dari lima anak ini mengaku sangat terbantu dengan kelompok yang sudah dirintis sejak 2009 silam itu. Memang tak mudah membangun kelompok tersebut untuk akhirnya terus eksis dan menjadi salah satu sandaran hidup keluarga masing-masing anggota kelompoknya.

Tak Dilirik Pemerintah

Ina Antonia dan Ina Barek serta semua perempuan Adonara yang bernasib sama dan membentuk kelompok informal mereka, tak pernah kecut hati meskipun tidak dilirik pemerintah. Usaha yang mereka jalani, terus berjalan alamiah. Meskipun tergolong sebagai kelompok usaha kecil, namun kelompok informal para perempuan itu tak pernah terlirik pemerintah untuk diintervensi sejumlah bantuan.

Antonia dan Ina Barek bahkan mengaku tak pernah terkendala dalam menghidupi dan menggerakan roda kelompok perempuan yang ada. Mereka bekerja secara mandiri memanfaatkan semua sumber daya dan tenaga yang mereka miliki. Meskipun demikian, perempuan-perempuan itu tetap tangguh menjalani semua aktivitasnya dan terus memepertahankan hidup keluarganya. “Tanpa bantuan pemerintah pun kami terus hidup dan bisa tetap hidup sampai saat ini dengan kelompok kami,” kata Ina Barek.

Dia mengaku, hidup ini terus berjalan meskipun dengan sejumlah beban yang berat jika dihitung. Namun demikian, tak akan bisa teratasi seluruh kebutuhan hidup yang ada jika hanya berpangku tangan dan menanti kiriman suami dari tanah rantau. “Saya dan anak-anak tak pernah berhenti makan dan berhenti untuk tidak pakai. Karena itu semua jalan halal di kelompok ini terus kami lakukan demi tetap hidup dengan martabat sebagai perempuan Adonara,” katanya.

Kendatipun tak mendapat lirikan pemerintah, namun aksi para perempuan yang menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok potensial itu ternyata mendapat apresiasi positif masyarakat, terutama para tetua kampung desa itu. “Kelompok-kelompok perempuan ini sudah berjalan sejak lama dan semacam ‘warisan’ dari para perempuan desa itu,” kata Kopong Boli (76) seorang tetua kampung itu.

Dia mengaku kelompok-kelompok perempuan itu telah memberi kontribusi bagi desa tersebut. “Meskipun harus menyewa namun dengan penyediaan jasa yang ditawarkan akan sangat memperlancar semua seremoni hajatan yang dilakukan di kampung itu,” katanya.

Hal lainnya, secara kasat mata, dengan kelompok itu, banyak anak dari para anggota kelompok itu yang bisa terus mengenyam pendidikan bahkan hingga perguruan tinggi. Sekiranya jika kelompok-kelompok ini juga mendapat tempat yang baik di mata pemerintah dengan sejumlah bantuan dana maka diyakini akan sangat membantu mempercepat pergerakan ekonomi para perempuan juga masyarakat desa ini. “Butuh perhatian pemerintah karena sejauh ini mereka (kelompok perempuan) bergerak secara mandiri dengan sumber daya dan tenaga yang mereka miliki,” katanya.

Hal senada disampaikan Frans Bapa yang berharap agar intervensi pemerintah harus dilakukan. Apresiasi masyarakat tak bisa lepas dari intervensi pemerintah di kelompok-kelompok perempuan ini. Setidaknya kelompok-kelompok perempuan tangguh ini ditempatkan sebagai salah satu bagain dari sasaran pembangunan desa. Jika demikian maka alokasi anggaran bisa merembes ke dalam kelompok perempuan ini.

Memang menjadi sulit katanya jika kelompok ini belum diformalkan sebagai konsekuensi dari pemanfaatan anggaran pemerintah yang hanya akan berlaku bagi kelompok-kelompok formal. “Yang saya lihat saat ini hanya kelompok formal saja yang menjadi sasaran intervensi pemerintah. Saya kira perlu dicari formulasi lain agar kelompok ini juga mendapat intervensi sama meskipun tidak harus sebanding,” katanya.

Di titik itu, para perempuan yang tergabung dalam kelompok perempuan informal tak mau patah arang. Meraka terus bekerja dan menggerakan kelompok perempuannya apa adanya. Yang ada di benak dan di mata mereka, bahwa kebutuhan anak dan keluarga harus terus dipenuhi setiap harinya. Seolah tak mau merengek ke pemerintah, roda organisasi informal itu terus digerakan dan mendapat sambutan hangat masyarakat.

“Hidup ini sangat berat dan keras. Saya tak bisa berdiam dengan kondisi yang saya alami ini. Saya harus terus bekerja demi kehidupan dan keberlanjutan keluarga saya,” kata Ina Antonia.

Setidaknya potret para perempuan tangguh Desa Pledo di Adonara, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini akan menjadi salah satu bagian dari gambaran betapa perempuan tak lagi menjadi subordinat dalam klaster kehidupan masyarakat yang masih lekat dengan tradisi sosial yang menempatkan laki-laki sebagai yang pertama. Perempuan harus menjadi yang setara dalam segala aspek kehidupan terutama dalam mempertahankan hidup keluarga.***