Seminar Kebangsaan KKN, Sekda Ajak Jaga Toleransi Di Perbatasan Belu

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Belu, Petrus Bere membuka riset aksi kebangsaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Belu, Timor Barat wilayah perbatasan RI-Timor Leste, Selasa (21/8/2018).

Sekda Bere menyampaikan terimakasih kepada Kementerian Agama yang telah memilih daerah Belu menjadi lokasi KKN dan riset aksi kebangsaan KKN dan seminar evaluasi.

Dituturkan, penduduk daerah Belu memang mayoritas kristen tapi mayoritas itu bukan menjadi kesombongan. “Beragama agama di Belu yang tersebar di 12 Kecamatan, tapi Belu tetap sehabat dan itu prinsip kami,” tandas Bere.

Diharapkan melalui giat hari ini diajak kepada seluruh warga di Belu agar terus membangkitkan kembali rasa persaudaraan,
persatuan dan toleransi. Oleh karena itu mari kita mengajak hal-hal positif di NTT dari perbatasan Belu daerah luar.

“Daerah Belu putih dalam hal tolerensi oleh karena itu kita tingkatkan toleransi, saling menghargai, menghormati melalui giat seminar hari ini,” pinta dia.

“Mari kita saling diskusi dengan iman dan tetap jaga kerukunan yang ada selama ini yang terjalin baik,” sambung Bere.

Amsal Bahtiar, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementrian Agama menyampaikan terimaksih untuk Pemkab Belu sudah bersedia menerima siswa kami untuk belajar di Belu.

Dikatakan Kementerian bekerjasama dengan enam Universitas yang berada di wilayah terdepan NKRI. Semester pertama IAIN Manado mengirim KKN ke pulau Sangihe perbatasan dengan Philipina. IAIN Ambon mengirim ke Saumlaki batas dengan Australia, IAIN Jayapura mengirim ke Skouw batas dengan Papua Nugini.

Sedangksn semester kedua UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengirim KKN ke Natuna perbatasan dengan Malaysia, Thailand, IAIN Pontianak mengirim ke Entikong batas dengan Malaysia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengirim ke Atambua batas dengan Timor Leste.

Dituturkan, KKN kebangsaan merupakan bagian dari program Pusat untuk memberdayakan masyarakat di perguruan tinggi untuk belajar tentang masyarakat yang lebih luas. “Kedepan tidak saja mahasiswa Islam yang dihadirkan tapi akan libatkan juga dari agama lain untuk KKN bersama,” sebut dia.

Kegiatan ini jelas dia dilaksanakan di wilayah- wilayah terdepan di Indonesia. Penekanan pertama untuk mahasiswa dan dosen mengetahui bahwa Indonesia ini sangat luas dan luasnya itu tidak tangung-tangung. Indonesia yang beragam sangat luas dan kita kesini bukan untuk menggurui tapi ingin belajar kearfian lokal.

“Di Belu sangat rukun kehidupan warga dan disini kami belajar selama satu bulan bermanfaat untuk masyarakat. Hadir juga untuk peneliti kami dari Jakarta untuk melihat lagi lebih dalam tentang persoalan dan info-info yang bermanfaat bagi negara,” ucap dia.

Tujuan giat untuk mengembangkan kerukunan sosial untuk pembangunan daerah perbatasan. Penguatan SDM lokal perlu pendidikan agama dan keagamaan, membangun kerjasama dan kolaborasi dengan perguruan tinggi keagaman untuk pengembangan daerah perbatasan dan menemukan model-model kearifan lokal dalam penbangunam daerah perbatasan.

Dengan diselenggarakan riset ini diharapkan mampu memetakan permasalahan-permasalahan yang ada terkait keberlangsungan keharmonisan hubungan sosial keagamaan di wilauah perbatasan. Demikian juga berbagai permasalahan pengembangan SDM di wilayah perbatasan.

Berharap ditemukan beberapa solusi alternatif untuk membangun wilayah perbatasan yang tetap mengendepankan kerukunan sosial sebagai tonggak kemajuan dan menjaga kesatuan NKRI.

Turut hadir tokoh agama Uskup Atambua Mgr Dominikus Sako, Pr, Ketua MUI Belu, perwakilan tokoh agama lain, tokoh organisasi kemasyarakatan, instansi teknis Pemkab Belu serta unsur elemen lainnya.