Menyingkap Artefak Stupa Di Alor

Laporan Linus Kia
Alor, NTTOnlinenow.com – Penelitian megalitik di Aimoli, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, NTT terkait temuan struktur batu kaca sejak Tahun 2012 silam, hingga saat ini belum diberi penanggalan untuk menyimpulkan usianya. Karena itu tim peneliti dari Balai Arkeologi Bali ketika merekonstruksi kembali strukur susunan batu-batu yang ada, ternyata hasil rekonstruksinya seperti membulat menyerupai stupa.

Hal ini dikemukakan Ketua Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Bali, Ati Rati Hidayah,S.S.,M.A kepada Nttonlinenow.com di Kalabahi, Senin pekan lalu. Hanya saja, seperti dikemukakan Ati, data-data artefak pendukung belum banyak ditemukan untuk dapat memastikan bahwa itu berkaitan dengan peradaban Budha di Alor.

“Kesimpulan sementara bahwa susunan atau struktur batu-batu itu menyerupai stupa dan butuh penelitian yang mendalam lebih lanjut,”papar Ati.

Lokasi penemuan batu-batu itu, lanjut Ati, satu lokasi dengan penemuan nekara (moko besar) yang saat ini tertsimpan di museum 1000 Moko-Kalabahi. Bisa saja ada kaitan dengan nekara dengan struktur batu yang menyerupai stupa di Aimoli itu, namun ini butuh penelitian lebih lanjut.

Balai Arkelogi Bali, kata Ati, sangat membutuhkan dukungan masyarakat Alor saat turun ke lokasi-lokasi penelitian. Hal itu karena masih ada aksi penolakan dari masyarakat setempat. “Kami alami masih ada penolakan dari masyarakat, tetapi ini hanya karena kekurang pahaman saja,”tandas Ati.

Peneliti utama, Drs.I Dewa K.Gede mengungkapkan pengalamannya ketika di Lerabain, ada orang yang datang marah-marah karena mencurigai mereka peneliti akan mengambil sesuatu yang berharga untuk kepentingan sendiri.

Maklum, masih ada tempat yang dikeramatkan sehingga tidak sembarang orang boleh masuk ke lokasi yang dikeramatkan. Kadang masyarakat masih curiga, jangan sampai situs-situs itu mau diekspolitasi untuk kepentingan (diperdagangkan) orang tertentu. Apalagi, ujar Ati, ada proses penggalian juga sensitive, ibarat mencari harta karun.

“Karena itu kami selalu mengajak elemen masyarakat untuk ikut ke lokasi penelitian untuk mengetahui proses, apa saja yang diteliti. Bahkan ketika di Pantar, kami juga mengajak tiga siswa dari SMA Negeri Tamalabang. Kami sebagai peneliti tidak punya niat itu karena melalui surat resmi kepada Bupati Alor dan instansi berkompeten lain di bawahnya, hingga tingkat kepala desa,”tegas Ati.

Sementara itu pejabat dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Alor, Yus Panduwal,S.Hut dan Agustinus Gorangmau,SE menilai kehadiran peneliti dari Balai Arkeologi Bali sangat membantu intansi yang masih tergolong baru di Alor. Minimal, kata Panduwal, ada informasi awal tentang potensi kita sehingga ketika ada yang bertanya, kita dapat menjelaskannya secara baik.

“Kita juga butuh agar dapat digali secara detail tentang keberadaan sebuah obyek temuan sehingga dapat menjadi referensi atau literature bagi dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan di bidang kebudayaan. Jika Alor juga punya literature yang cukup tentang peradaban masa lampau sejak jaman pra sejarah, maka maka ke depan bisa menjadi mulok (muatan lokal) bagi pendidikan di Kabupaten Alor,”tandas Panduwal.