Anggota TNI Harus Jadi Leader Memberantas Narkoba

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Kodim 1605/Belu bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Belu menggelar sosialisasi pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN), Jumat (29/6/2018).

Kegiatan yang berlangsung di aula Darma Andika Makodim Belu, Timor Barat wilayah perbatasan RI-RDTL dihadiri
Dandim 1605/Belu, Para Perwira Jajaran Kodim 1605/Belu, para Babinsa, Anggota TNI/PNS Kodim 1605/Belu serta petugas BNNK Belu.

Dandim 1605/Belu, Letkol Czi I Gusti Putu Dwika dalam sambutan mengatakan, tujuan digelarnya kegiatan sosialisasi ini dengan maksud untuk mengingatkan bahaya narkoba kepada kita semua.

Menurut Putu, seseorang yang sudah terpengaruh dengan narkoba, tentunya psikologi maupun perilakunya pasti akan berubah dan sangat berpangaruh pada kondisi kita masyarakat.

Kita yang berada di perbatasan Belu dan Malaka jelas Putu harus tetap waspada karena sebagai daerah perbatasan sangat rawan untuk jalur transportasi peredaran narkoba. Maka itu kita harus benar-benar fokus pada masalah bahaya barang haram tersebut.

“Sebagai anggota TNI kita harus menjadi leader dalam pemberantasan narkoba. Diharapkan harus dicermati, dipelajari sehingga ada bekal buat kita untuk menjelaskan kepada masyarakat karena kita yang langsung bersentuhan dengan masyarakat,” ujar dia.

Tambah dia, kegiatan ini juga dilakukan dalam rangka mengisi pengerahuan dan wawasan para Babinsa mengenai bahaya narkoba dan cara pencegahan serta mengatasi di masing- masing wilayah Koramil, terutama Babinsa yang turun ke masyarakat.

Sementara itu petugas BNNK Belu Heppy Neno menuturkan, narkoba merupakan musuh bangsa di era modern karena dalam satu hari 50 orang meninggal dunia dan kerugian negara mencapai 63,1 triliun.

“Cara untuk menekan angka penggunaan narkoba adalah dengan cara sosialisasi, memberikan penjelasan kepada masyarakat atau orang-orang di lingkungan kita masing-masing,” ucap dia.

Konteks Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste sangat rawan dan berpotensi penyelundupan barang haram tersebut. Konteks perbatasan mobilitas darat, laut udara sangat tinggi dan juga kebiasaan dan budaya miras yang merupakan pintu masuk narkoba serta terdapat titik-titik pintu masuk illegal.

“Bahaya narkoba itu meliputi bahaya terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat serta bangsa dan negara. Faktor pendorong penggunaan narkoba diantaranya krisis iman dan moral,Ingin mencoba tanpa berpikir akibatnya,” ungkap dia.