Ada Dampak Ikutan, Fraksi PAN Tidak Dukung Rencana Pemkot Tutup Lokalisasi

Bagikan Artikel ini

Laporan Nyongki Mauleti
Kupang, NTTOnlinenow.com – Niat Pemerintah Kota Kupang untuk menutup tempat prostitusi di Kota Kupang tidak di dukung Fraksi PAN di DPRD Kota Kupang. Pasalnya Fraksi PAN menilai ada dampak ikutan jika tempat prostitusi jadi ditutup.

Demikian dikatakan Ketua Fraksi PAN DPRD Kota Kupang, Livingstone Ratukadja kepada wartawan di Gedung DPRD Kota Kupang, Kamis (28/6/18).

Livingstone mengaku, dengan ditutupnya tempat prostitusi resmi, maka akan praktel prostitusi secara liar. Dampak dari prostitusi secara liar adalah, pemerintah tidak bisa lagi memantau kesehatan para PSK, yang melakukan praktek seks bebas, sehingga sangat berpotensi meningkatnya penyakit menular seks, dan HIV/AIDS.

“Kita tahu bersama, jumlah pengidap HIV/AIDS di Kota Kupang cukup tinggi. Kalau tempat prostitusi di tutup lalu para pekerja seks melakukan praktek bebas, kesehatan mereka susah terpantau oleh petugas medis. Kalau mereka terlokasir dengan baik maka kesehatan mereka terus terpantau petugas medis,” kata Livingstone.

Selain itu, dengan penutupan tempat prostitusi bisa saja meningkatkan angka kasus kriminal, seperti pelecahan seksual, pemerkosaan. Untuk itu, pemerintah perlu memikirkan lebih bijak soal penutupan tempat prostitusi agar tidak menimbulkan masalah yang lebih ruwet untuk ditangani pemerintah.

Sebelumnya, Wali kota Kupang, Jefri Riwu Kore memastikan rencana penutupan tempat prostitusi di wilayah Kota Kupang. Menurutnya tempat prostitusi akan segera ditutup setelah melakukan sosialisasi dan penyesuaian secara bertahap.

“Kami berusaha meminimalisir penyakit masyarakat termasuk penutupan lokalisasi,” kata Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore.

Menurut dia, penutupan lokalisasi merupakan upaya meminimalisir berkembangnya penyakit masyarakat serta mengantisipasi bertambahnya jumlah penderita Human Immuno Deficiency-Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV-AIDS).

Data penderita HIV-AIDS, tahun 2016 sebanyak 1.084 penderita sedangkan 2017 mengalami peningkatan sebanyak 1.123 penderita.