Rumah Perempuan Kupang Dorong Perempuan Jadi Pelopor Perdamaian

Bagikan Artikel ini

Laporan Nyongki Mauleti
Kupang, NTTOnlinenow.com – Demi terciptanya Kota Kupang yang kondusif, Lembaga Rumah Perempuan Kupang dorong kelompok perempuan binaannya menjadi pelopor perdamaian.

Direktris Lembaga Rumah Perempuan Kupang, Libby Ratuarat-Sinlaeloe usai membuka kegiatan diskusi reguler dengan tema Perempuan dan Perdamaian di Hotel Olive Kupang mengatakan, upaya keterlibatan perempuan sebagai pelopor perdamaian sangatlah penting, karena sebuah konflik yang terjadi membutuhkan peran semua warga negara termasuk perempuan untuk dapat meminimalisir konflik tersebut, agar dapat terciptanya kedamaian.

Oleh karena itu, rumah perempuan bagiamana melihat peran perempuan sebagai pelopor perdamaian, melakukan melalui diskusi reguler terhadap kelompok perempuan binaan rumah perempuan yang ada di Kota Kupang, dengan tujuan bagaimana mendorong sensitivitas kaum perempuan lebih banyak, guna bagaimana bisa berpartisipasi dalam perdamaian.

“Kita lihat berbagai persoalan yang terjadi termasuk radikalisme dan persoalan konflik lain yang membutuhkan partisipasi semua warga Indonesia yang termasuk didalamnya kaum perempuan,” katanya.

Dicontohkannya, konflik yang terjadi di Timor Leste pada waktu lalu pada saat merdeka tahun 1999, bagaimana kaum perempuan ikut membantu perdamaian yang dapat meminimalisir konflik yang terjadi.

Sementara pelaksana program kegiatan Diskusi Imelda Dalli dari Lembaga Rumah Perempuan Kupang, mengatakan kegiatan diskusi ini diikuti kelompok perempuan dari Kelurahan Nefonaek, Batuplat, dan perempuan dari sobat KBB.

“Inti dari kegiatan ini bagaimana melihat praktek cerdas dari kelompok perempuan dalam memberikan kontribusi menciptkan suatu perdamaian dalam konflik laten,” katanya.

Tambahnya, dalam menjadikan perempuan sebagai pelopor perdamaian, tentunya tidak harus melihat dari suatu konflik yang besar, tapi konflik laten yang paling bahaya.

“Kita berharap peran perempuan sebagai pelopor perdamaian tidak perlu harus dari sebuh konflik yang besar, tapi yang dibutuhkan bagaimana peran kaum perempuan dalam membantu meminimalisir konflik laten agar julukan Kota Kupang sebagai Kota Kasih tetap terjaga,” tuturnya.