Polsek Lembor Butuh Penambahan Personel

Laporan Alvaro Saputra Marthin
Labuan Bajo, NTTOnlinenow.com – Salah satu wilayah tanggujawab Polres Manggarai Barat, Flores, NTT adalah Polsek Lembor.
Polsek ini membawahi sejumlah kecamatan dan desa diwilayah itu. Lembor ini termasuk wilayah yang cukup potensial atau rentan dengan berbagai kasus. Sehingga tak heran jika setiap harinya, aparat kepolisian yang bertugas di wilayah tersebut selalu disibukan dengan berbagai kasus.

Seperti, diantaranya kasus judi, kenakalan remaja, pencurian, lakalantas, Kekerasan Dalam rumah Tangga (KDRT), juga berbagai jenis kasus lainnya, kata Kapolsek Lembor, I Wayan Merta kepada Wartawan, Senin (14/5) pagi di ruangan kerjanya.

Khusus kasus perjudian, kata dia, saat ini sudah perlahan-lahan mulai berkurang jika dibandingkan sebelumnya, karena pihaknya melakukan operasi rutin.

Walau demikian tidak berarti perjudian dan kasus-kasus lainnya hilang. Justru banyak kasus-kasus lainnya yang terus ditangani pihaknya.

Selama ini, kata dia, perjudian dan minuman keras (Miras) oleh masyarakat selalu diidentikan atau dikaitkan dengan budaya local. Padahal itu bertentangan dengan hukum.

“Judi dan mabuk itu tidak diatur dalam undang-undang bahwa diperbolehkan. Itu kebiasaan saja, bukan budaya. Justru itu dilarang karena berpotensi melahirkan kasus atau kriminalitas,” ungkapnya.

Banyaknya kasus yang sedang dan akan ditangani pihaknya, ditambah lagi geografis dan topografis yang terbilang sulit dijangkau, ternyata tak sebanding dengan jumlah personel kepolisian yang ada, yang hanya berjumlah 13 anggota saja.

Sehingga diakuinya banyak pula kasus-kasus yang belum tertangani secara tuntas dikarenakan kekuarangan jumlah personel. Karenanya Kapolsek I Waya Merta meminta kepada Pihak Polres Mabar untuk segera menambah jumlah personel yang ada, termasuk reskrim dan unit lantas.

“Kita butuh penambahan personel. Karena kita terlalu sedikit. Anggota kita Cuma 13 orang saja. Kita juga butuh personel reskrim dan unit Lantas,” tandasnya.

Untuk Lalu lintas (Lantas), diakuinya selama ini masih semrawut karena belum ada pengaturan yang jelas, sehingga rentan dengan kasus kecelakaan lalulintas (Lakalantas).

“Kita terkendala lalu lintas karena kita belum punya unitnya, sehingga kita tidak bisa melakukan operasi penilangan. Karena nantinya berkaitan dengan blanko penilangan,” pungkasnya.

Akan tetapi selama ini pihaknya sampai pada tingkat pembinaan saja. “Ya, terhadap setiap pelanggar lalulintas, kita hanya sebatas pembinaan saja, seperti teguran lisan. Jadi khusus untuk unit lantas ini, kita sudah sampaikan ke pimpinan tetapi menunggu tindaklanjutnya,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*