Aplikasi ‘Haik Lontar’ Dongkrak DI Bena Masuk Nominasi Juara Nasional

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Daerah Irigasi (DI) Bena di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), berpeluang keluar sebagai juara nasional dalamLomba/Pemilihan Operasi dan Pemeliharaan (OP) Irigasi (Permukaan) Teladan Tingkat Nasional Tahun 2018.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Nusa Tenggara Timur (NTT), Andre Koreh sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Rabu (9/5/2018).

Menurut Andre, penerapan inovasi melalui aplikasi ‘Haik Lontar’ yang merupakan akronim dari Hitungan Air Kekinian Tanpa Ragu menjadi salah satu faktor yang turut mendongkrak poin penilaian pada lomba tersebut. Aplikasi ini menggunakan software yang diberi nama Petani Pede Tanam 1.0.

“Hasil sementara saat ini, DI Bena meraih juara pertama dalam presentase pengelolaan OP Irigasi. Masih ada satu tahapan yakni penilaian lapangan, untuk mengecek fakta rill apakah sesuai dengan apa yang sudah dipaparkan pada tahap pertama tersebut,” ungkapnya.

Andre menyebutkan, hasil dari pemaparan itu, DI Bena di NTT dinilai paling baik sehingga menjadi juara pertama dengan poin 79,37. Posisi kedua ditempati DI Bila di Sulawesi Selatan dengan poin 70,13. Untuk posisi ketiga diraih DI Gumbasa di Sulawesi Tengah dengan poin 69.

“Lomba ini diikuti oleh Daerah Irigasi yang tersebar di seluruh Indonesia, dimana setiap provinsi menyodorkan daerah irigasi teladan di wilayahnya untuk dilombakan di tingkat pusat. Kali ini dibagi menjadi dua yaitu wilayah timur dan wilayah barat” ujarnya.

Dia menjelaskan, inovasi yang diterapkan di DI Bena menggunakan aplikasi Haik Lontar yaitu alat yang digunakan untuk mengukur debit air secara real time. Aplikasi ini bisa memberikan laporan atau meng-update waktu setiap 5 menit, akan kondisi debit air di suatu daerah irigasi.

“Ternyata alat ini bisa membantu atau memudahkan petani, petugas di lapangan maupun dinas, untuk bisa mengetahui kondisi debit air di satu daerah irigasi. Aplikasi ini bisa diakses melalui smartphone,” jelasnya.

Andre menyatakan, terdapat 72 DI di NTT yang mana 26 DI menjadi kewenangan pusat, sedangkan 46 DI lainnya menjadi kewenangan provinsi. Saat ini, aplikasi Haik Lontar sudah dipasang di dua lokasi irigasi dari 26 DI yang menjadi kewenangan pusat, yakni di DI Bena dan DI Malaka.

“Nah, itu yang selama ini menjadi kelemahan dan kami menemukan aplikasi ini bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada dan para ahlinya. Kami sudah pasang alat ini dan berjalan baik, dan ternyata itulah poin yang membuat DI Bena mendapat juara teladan 1, walaupun itu masih dalam tataran paparan,” katanya.

Setelah tiga minggu terhitung dari waktu pemaparan atau tahap pertama lomba tersebut, kata Andre, tim juri akan melakukan visitasi lapangan untuk mengecek fakta di lapangan dan nantinya mereka akan melihat secara langsung pemanfaatan aplikasi Haik Lontar tersebut.

“Bahkan ketika dalam paparan saat itu, 5 orang juri yang terdiri dari para mantan pajabat Kementerian PU, sangat mengapresiasi langkah atau terobosan ini. Mereka bilang, alat ini bisa dipakai juga di daerah-daerah irigasi lainnya di Indonesia,” tuturnya.

Andre menambahkan, ada enam poin yang dinilai dalam lomba tersebut, yakni mulai dari sarana prasarana, produktivitas pertanian, ketersediaan air, kelembagaan, komisi irigasi dan P3A. “Tetapi kita tambah satu poin yaitu inovasi, yang mana ini menjadi nilai tambah bagi kita dalam mendapatkan poin lebih dari daerah lainnya,” tandas Andre.