Kasus Bunuh Diri Di Ruteng Kembali Terjadi

Bagikan Artikel ini

Laporan Alvaro Saputra Marthin
Ruteng, NTTOnlinenow.com-Kasus bunuh diri di Ruteng, kabupaten Manggarai, Flores, NTT kembali terjadi.
Kali ini korban bernama, Silforius Kasman (21), pemuda asal Redong, desa Benteng Tubi, Kecamatan Rahong Utara, kabupaten Manggarai ditemukan tak bernyawah di kediamannya di Konggang, kelurahan Waso, kecamatan Langke Rembong.

Korban adalah putra ke 5 (lima) dari 5 bersaudara, buah perkawinan pasangan Geradus Ompot bersama Adelia Mone.

Korban pertama kali ditemukan oleh tetangga sekitar rumah pada, Jumat 4 Mei 2018 sekitar pukul 06.30 wita. Saat ditemukan, korban dalam posisi tergantung dengan seutas tali nilon berwarna biru yang disimpulkan pada lehernya dan diikatkan pada sebatang balok rangka rumah didepan teras, mengenakan sweater berwarna merah dan celana jeans biru.

Rumah tersebut diketahui milik Dominikus Abut, warga Konggang, kelurahan Waso yang juga merupakan keluarga dekat korban.

Diceritakan bahwa selama ini korban tinggal bersama keluarga ini (Dominikus Abut), sejak ia menempuh pendidikan di SMAN 2 Langke Rembong beberapa tahun silam.

Kepada Wartawan, keluarga korban mengaku kaget dengan kajadian naas yang menimpa korban. Pasalnya, sebelumnya tak ada tanda-tanda yang mencurigakan edikitpun pada diri korban sebelum ia ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri.

Oleh keluarga, korban dikenal sebagai anak yang baik, lucu, penurut, tidak banyak tingkah, termasuk tidak pernah bermasalah dengan orang lain.

“Dia baik, lucu dan penurut. Tidak ada masalah dengan orang lain,” tutur Dominikus Abut bersama warga lainnya di TKP.

Sejumlah aparat kepolisian Polres Manggarai, dipimpin Kasubag Humas, Ipda Daniel Djihu mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan melakukan olah TKP. Usai olah TKP, oleh kepolisian, jasad korban dilarikan ke RSUD dr. Ben Mboi Ruteng untuk divisum.

Sepucuk Surat Untuk Keluarga

Kejadian naas yang menimpa korban seolah telah direncanakannya sebelumnya. Sebab, aparat kepolisian berhasil menemukan sepucuk surat yang ditaruh didalam tas milik korban sendiri yang tersimpan didalam kamar tidurnya, diduga surat tersebut hasil tulisan korban sendiri.

Surat tersebut di tujukan kepada kedua orang tuannya di kampung halamannya. Demikian kutipan isi suratnya, “untuk Mama dan Papa yang tersayang. Mama dan Papa, aku minta maaf karena aku terpaksa pergi dari dunia, aku tidak tau harus bagaimana lagi. Aku sayang dan cinta sama kamu mama dan papa. Sebenarnya aku tidak mau pulang untuk bantu kamu bekerja bukan karena kau tidak sayang sama kamu, karena aku malu dan merasa beban dengan peyakit yang membuat aku malu atau kurang percaya diri. Karena rambutku mama dan papa tidak pernah tumbuh-tumbuh. Aku terpaksa jual Hp untuk periksa di dokter, dokter bilang tidak ada penyakit. Aku merasa beban dan hari ini aku pulang. Aku cinta kamu”.

Berdasarkan bukti surat tersebut, sementara pihak kepolisian menduga bahwa korban murni bunuh diri karena stress, terang Kasubag Humas Polres Manggarai, Ipda Dniel Djihu kepada sejumlah awak media usai melakukan olah TKP.

Diduga Tekanan Keluarga

Selain stress karena rambut, diduga juga karena tekanan keluarga. Kepada wartawan, Maria Setiawati saudari kandung korban menceritakan, bahwa saat ini ayah mereka (Geradus Ompot) sudah lama menderita sakit kanker tulang belakang. Selain itu, kakak kandung mereka yang saat ini merantau di Kalimantan juga sakit parah.

“Bapak sudah lama menderita sakit kanker. Kakak diatas saya juga, saat ini berada di Kalimantan sakit parah. Kemarin hendak pulang tetapi ditolak di pesawat dan kapal laut,” tutur Wati sapaan akrab dari Maria Setiawati saudari korban.

Kejadian yang menimpa korban ini tentu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Wati bersama keluarga mengaku sangat terpukul dengan kejadian ini.