Pemimpin Perempuan Menjawab Utang Peradaban

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – “Pemimpin perempuan menjawab utang peradaban. Kita harus malu, karena dalam sejarah jumlah perempuan yang menjadi pemimpin di ruang publik terbatas,” kata Ferderika Tadu Hungu,MA dari Konsersium Timor Adil Setara yang juga merupakan salah satu kesimpulan diskusi publik yang diselenggarakan Konsersium Timor Adil Setara, dalam rangka peringatan Hari Kartini 2018, di aula Lantai Dua, Harian Pagi Pos Kupang, Kamis (19/4/2018). Dengan demikian diharapkan semua pihak mempromosikan issue kepemimpinan perempuan di ruang publik pada semua level dari tingkat, pusat sampai ke level desa.

Dialog publik dengan thema besar sebagai thema payung kepemimpinan perempuan dari level pusat sampai desa untuk eksekutif dengan tagline perempuan memimpin, pemilih aktif dan pemilih cerdas yang dipandu aktivis perempuan dari media Anna Djukana,SH,MH tersebut menghadirkan nara sumber Thres Sitti, KPU Provinsi NTT, Junior Adi Chandra Nange, Panwaslu Kota Kupang, Dion Bata Putra, Pemred Pos Kupang, Akdemisi, Prof.Dr. Mien Ratu Udju, Aktivis Perempuan, Ferderika Tadu Hungu,MA.

Harus didorong proses demokrasi di semua level memperjuangkan kepemimpinan perempuan. Kesimpulan lainnya, yang dibacakan pemandu Anna Djukana perempuan harus memimpin karena kebutuhan perempuan dan laki laki berbeda karena kebutuhan kebutuhan perempuan spesifik yang tidak diketahui laki laki. Laki laki yang mempunyai visi penting tetapi representasi fisik palam erempuan lebih penting untuk mewakili kebutuhan perempuan.

Harus dipastikan pemilih kedaulatan rakyat untuk menentukan hak pilihnya pada hari H nanti, jumlah pemilih yang mengalami penurunan disebabkan masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemimpin yang dipilih, dipastikan pemilih ke TPS membawa model C, EKTP dan surat pengganti EKTP yang dikeluarkan ducapil.
Dalam proses pemilukada ini bawaslu, panwaslu menemukan pelanggaran data pemilih ganda, anak anak yang dibawa ibunya saat kampanye.

15 Tahun terakhir ini media massa sudah berwajah perempuan baik dalam struktur maupun konten, media massa telah menjadikan perempuan sebagai subjek pemberitaan dan bukan objek pemberitaan, dalam konteks pelayanan publik, pemilu legislatif, pilpres, pemilukada provinsi, kabupaten untuk menjadikan pemilih aktif dan cerdas, masyarakat mendapatkan hak haknya, kedepan administrasi kependudukan harus diurus serius.

Rekomendasi dialog tersebut pertama, dalam konteks pilpres, pileg, pemilukada keluarga jangan ditinggalkan untuk kampanye kampanye penyadaran untuk menjadi pemilih yang aktif dan cerdas, kedua, diharapkan pemilih tidak golput, karena proses demokrasi penting untuk memilih pemimpin kita yang akan merumuskan kebijakan yang penting soal nasib rakyat sampai dapur dan rahim perempuan.

Ketiga, menempatkan perempuan dalam parpol tidak sekedar untuk memenuhi kuota 30 persen tetapi mendorong perempuandi parlamen dan eksekutif 30 persen, keempat mendukung percepatan kepemimpinan perempuan di semua level dan kampanye kampanye cerdas dari level grass root sampai elite, kelima, meningkatkan affrimasi perempuan di lembaga lembaga publik, keenam mendorong KPU NTT memperhatikan affrimasi perempuan dalam pemilukada khususnya dalam sesi debat yakni struktur panelis perempuan dan konten debat, ketujuh media massa harus memberikan ruang proporsional untuk semua pasangan calon dalam pemberitaan agar dikenal media, kedelapan, diharapkan pembaca cerdas memilih media mana yang pantas dibaca.

Konsesium Timor Adil Setara yang terdiri dari tujuh lembaga LBH APIK NTT, Cis Timor, Bengkel Appek, Lopo Belajar Gender, KPI Wilayah NTT, SSP, Yabiku kerja sama dengan Harian Pagi Pos Kupang diawali Laporan Penanggung Jawab Kegiatan Koordinator Konsersium, Ansi Damaris Rihi Dara dan kegiatan dibuka Pemimpin Perusahaan M. Napitupulu, dihadiri aktivis perempuan Juliana Ndolu, Ekoningsih Lema, Carningsih Lema, Rosmina, Christofora bangang, Tuty Parera, Danny Manu. Diskusi berlangsung dinamis. (non)