Investasi Percepatan Pembangunan Kawasan Peternakan Terpadu

Bagikan Artikel ini

Oleh : Stefantje Bele Bau
Sonis Laloran Menuju Pengembangan Ternak Berbasis Ranch
Atambua, NTTOnlinenow.com – Sonis Laloran adalah sebuah kawasan kosong yang dikelilingi oleh perbukitan hijau. Lokasi itu terletak di Desa Baukustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kini, kawasan seluas 500 hektar itu telah berubah fungsi menjadi sebuah ranch peternakan sapi, sejak di serahkan oleh masyarakat setempat kepada Pemerintah Kabupaten Belu pada tahun 2007. Kawasan tersebut mulai diolah pada tahun 2013, dengan ditanami berbagai tanaman pakan ternak seperti ‘rumput kinggres, lenggala lokal, lenggala unggul dan lamtoro tarambah’.

Dalam pengelolaannya, oleh Dinas Peternakan Kabupaten Belu akan menjadikan Kawasan Peternakan Sonis Laloran sebagai tempat penyediaan pakan bagi masyarakat peternak di sekitar kawasan, sebagai pilot project dan sebagai pusat studi atau magang. Namun demikian, kawasan yang sudah berusia 15 tahun ini, masih sangat jauh dari harapan sebagai sebuah ranch ideal, karena lokasi tersebut masih menjadi ‘hunian’ tanaman-tanaman pengganggu seperti belukar bunga putih yang dikenal dengan sebutan ageratum conysetus l (nama lokal; ai sukat) dan sejenis pohon besar yang biasa disebut pohon putih atau disebut eucalyptus rossii.

Memperhatikan kondisi kawasan, dalam upaya pengembangan ternak berbasis ranch, Pemerintah Pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dari Kementerian Pertanian, mendorong pemerintah daerah (pemda) setempat untuk mengembangkan ranch atau padang pengembalaan peternakan sapi. Dengan adanya ranch tersebut, nantinya diharapkan bisa meningkatkan populasi sapi. Apalagi ranch tersebut terintegrasi dengan unit pelaksana teknis (UPT).

Nusantaranews.co, Jakarta, melansir pernyataan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita (Kamis, 9 Maret 2017) ketika meresmikan ranch peternakan sapi Bali yang terintegrasi dengan UPT Pembibitan sapi Air Runding. Dari peresmian tersebut, Sumatera Barat kini memiliki dua ranch pembibitan sapi yakni di Padang Mangatas, Kabupaten Lima Puluh Kota dan di Air Runding, Pasaman Barat. Ketut menjelaskan program pengembangan sapi di Sumatera Barat sudah sangat sejalan dengan pembangunan peternakan nasional.

Salah satu kegiatan penting pembangunan peternakan dan kesehatan hewan tahun 2017 adalah Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UpsusSiwab). Dalam program itu yang berorientasi pada peningkatan populasi untuk mencapai swasembada protein hewani asal ternak. Peningkatan populasi ini juga dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan dari impor dan sekaligus mendukung Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia.

Memperhatikan Program Pembangunan Peternakan Nasional, duet putra terbaik Belu, Willybrodus Lay- J. T. Ose Luan dari daerah pinggiran Indonesia, perbatasan RI-RDTL, berupaya menata kawasan Sonis Laloran menjadi padang rumput hijau untuk pengembangan ternak sapi di Timor Barat, Kabupaten Belu. Kedua Pemimpin Rai Belu ini akan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal dan peran aktif dari semua elemen masyarakat dan bertekad mengembalikan kejayaan Pulau Timor yang dulunya dikenal sebagai icon gudang ternak.

Rencana Pembangunan Kawasan Peternakan Terpadu
‘Good Will’ untuk menjadi Kawasan Sonis Loloran sebagai sebuah padang rumput yang hijau masih terganjal sejumlah tanaman pengganggu yang bertumbuh liar. Dalam kunjungan ke Kawasan Sonis Laloran, (Selasa, 13 Maret 2018), Bupati Belu meminta jajaran Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu untuk segera ‘memusnahkan’ tanaman liar yang ada dan menggantikan dengan jenis rumput lokal unggul yang mudah tumbuh dan disukai ternak.

Untuk saat ini, Kawasan Peternakan Sonis Laloran sedang giat membangun infrasruktur lahan dan air berupa ; Pembuatan pagar hidup di sekeliling lahan; Menanam rumput di atas lahan yang akan berfungsi sebagai makanan ternak dan pembuatan embung sebanyak 7 unit ( 2 embung besar dan 5 embung kecil) sebagai tempat minum ternak pada musim kemarau, juga untuk menyiram tanaman rerumputan yang dikembangkan.

Prinsip Pembangunan Sub Sektor Peternakan pada Kawasan Sonis Laloran pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan populasi maupun produksi ternak dan hasil ikutannya, yang pada gilirannya diharapkan dapat mendongkrak pendapatan petani ternak, mendorong diversifikasi pangan dan perbaikan mutu gizi masyarakat serta mengembangkan pasar ekspor terutama untuk mencapai kedaulatan pangan.

Oleh karenanya, Kementerian Pertanian berkomitmen kuat melaksanakan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. Salah satunya melakukan pengembangan kawasan pembangunan peternakan (cluster peternakan) untuk menjamin keberlanjutan kegiatan pra-produksi, proses produksi, pasca produksi dalam sistem agribisnis peternakan. Termasuk terhimpunnya SDM peternakan yang terampil dalam suatu kawasan yang akan memudahkan dalam pembinaan dan peningkatan keterampilannya. (tabloidsinartani.com, Selasa, 1 April 2014).

Strategi pengembangan peternakan melalui kawasan sentra peternakan terpadu (cluster) ini diarahkan pada suatu kawasan khusus maupun terintegrasi dengan komoditi lainnya serta terkonsentrasi di suatu wilayah.Pengembangan kawasan peternakan ini sangat penting perannya dalam efisiensi dan efektivitas pelayanan teknis dan ekonomis. Pelayanan teknis seperti IB, Keswan, pakan, bibit dan pelayanan ekonomis seperti pasar, RPH, perkreditan dan permodalan, yang dana, sarana dan tenaga menjadi lebih terfokus untuk satu kawasan. Cluster memungkinkan pemasaran hasil ternak lebih ekonomis dalam pelayanan pasar karena dengan cluster memungkinkan terjadinya pemasaran hasil bersama.

Pengembangan kawasan ini juga diarahkan kepada peningkatan investasi yang menarik bagi semua pihak karena sudah tersedia ternak dan pelayananâ-pelayanan yang bersifat teknis dan ekonomis. Lalu sebagai pusat pertumbuhan komoditas yang menjadi sentra†sentra produksi utama suatu komoditas peternakan yang mengarah kepada keunggulan komparatif suatu wilayah (one village one product).

Skema Pembagian Lahan
Model sistem peternakan terintegrasi yang diharapkan, agar pembagian lahan seluas 500 hektar dapat berfungsi untuk lahan hijauan makanan ternak (HMT), ladang pembesaran kandang dan ladang penggembalaan terbuka, lahan pengolahan pakan, padang penggembalaan dan kandang zona penggemukan.

Pakan yang dikembangkan, adalah pakan unggul yang didatangkan. Sonis Loran sabagai demplot ekonomi peternakan juga dapat dikembangkan tanaman pangan. Kawasan ini dapat berfungsi sebagai pilot project sekaligus tempat berwisata .

Dalam Bimtek Agrobisnis Sapi Potong tanggal 18 Mei 2015, Sartono M.T dalam materi ; Pengembangan Peternakan Terpadu Sebagai Subtitusi Ekonomi (Meningkatkan Efisiensi) Dalam Sistem Agrobisnis Sapi Potong menjelaskan bahwa, Peternakan terpadu merupakan suatu proses budidaya yang didalamnya terdapat serangkaian kegiatan yang mengutamakan sinergitas proses produksi yang efisien dan berdampak positif baik dari aspek lingkungan, aspek produksi maupun nilai ekonomis (efisiensi).

Efisiensi usaha tersebut dimungkinkan karena sistem peternakan terpadu yang dikembangkan menerapkan serangkaian proses produksi yang menggunakan prinsip 3R, yaitu: 1) reduce (mengurangi dampak negatif yang mungkin timbul); 2) reuse (memanfaatkan semaksimal mungkin sumber daya yang sudah tidak bermanfaat untuk menjadi bermanfaat); serta 3) recycle (mendaur ulang produk limbah menjadi sumber ‘energi’ baru bagi proses produksi yang lain. Efisiensi akan semakin meningkat, mengingat prinsip 3 R tersebut akan menghasilkan 4 produk secara simultan berupa Food (pangan), Feed (pakan), Fertilizer (pupuk organik padat dan cair serta produk turunanya berupa pertisida hayati dan nabati), serta Fuel (bahan bakar organik dan alami yang baru dan terbarukan).

Kedua Pemimpin Rai Belu ini berharap Program Pengembangan Kawasan Peternakan yang tertuang dalam RPJM Kabupaten Belu 2016 – 2021 dapat di desain sebagai model kawasan tangguh pangan melalui diversifikasi pengembangan peternakan dan terintegrasi dalam rangka implementasi strategi action plan bagi pengembangan ekonomi petani peternak. (pkpsetdabelu).
Stefantje Bele Bau (Kasubag Komunikasi Publik Bagian Protokol dan Komunikasi Publik Setda Belu)