Delapan Agenda Pembangunan Pemerintah NTT Dinilai Gagal

Spread the love

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Delapan agenda pembangunan dan enam tekad yang dicanangkan Pemerintah NTT di bawah kepemimpinan Gubernur Frans Lebu Raya dinilai gagal karena tidak ada satu pun yang menonjol dan bisa dibanggakan.

Anggota DPRD NTT dari Fraksi PKB, Jhon Rumat sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Rabu (11/4//2018).

Rumat mengatakan, setelah hampir selesai memimpin NTT selama 10 tahun, masyarakat sangat menginginkan ada program yang menonjol dari delapan agenda pembangunan dan empat tekad. Program Desa Mandiri Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera (DeMAM) dengan dukungan dana yang cukup besar pun, tidak menonjol di lapangan.

Kalaupun ada, hanya dinikmati segelintir orang atau kelompok tertentu. Masyarakat tidak merasakan keuntungan dari pelaksanaan program itu, bahkan terkesan membawa beban utang bagi mereka. Karena pola pelaksanaan program dengan dukungan dana tersebut dalam bentuk bergulir.

“Jika modelnya adalah dana hibah bergulir, muncul pertanyaan siapa yang akan menagih dana tersebut setelah gubernurnya diganti,” kata Rumat.

Menjawab soal prestasi yang pernah diraih pemerintah NTT di bidang koperasi, Rumat berargumentasi, dalam LKPj akhir masa jabatan gubernur yang telah disampaikan ke DPRD juga tidak muncul keberhasilan di bidang koperasi. Masyarakat pada intinya sangat menginginkan sebuah program yang memiliki trend dan mode tersendiri yang benar- benar mereka rasakan.

Menurut wakil rakyat asal daerah pemilihan Manggarai Raya ini, kegagalan gubernur dalam menjalankan delapan agenda pembangunan dan enam tekad pembangunan itu disebabkan oleh penempatan pejabat eselonering mulai dari eselon dua sampai empat yang tidak sesuai kompetensi.

Jabatan yang diemban kepada seseorang mungkin juga dipengurahui oleh faktor lain seperti karena kepentingan politik. Akibatnya, gagasan cemerlang yang dicanangkan gubernur tidak mendarat sesuai harapan dan menyentuh hati rakyat.

“Jangan salahkan siapa- siapa kalau kita nilai gubernur gagal jalankan delapan agenda dan enam tekad. Kesalahan terletak pada penempatan pejabat yang tidak memiliki kompetensi di bidang tugasnya,” tandas Rumat.

Dia berargumen, jika pejabat yang ditempatkan mendukung delapan agenda dan enam tekad pembangunan tersebut, pasti hasil yang dicapai pun dapat dirasakan dan dinikmati masyarakat. Kalaupun tidak semua, setidaknya ada satu atau dua program yang menonjol.

Misalkan, dia mencontohkan, pada pemerintahan Gubernur Ben Mboi, Program Nusa Makmur sangat dirasakan dan sangat menonjol keberhasilannya. Padahal DPRD NTT dalam fungsi anggaran, mendukung penuh program yang diusung dengan memberi persetujuan alokasi anggaran yang sangat besar.