Dianiaya Belasan Orang, David Rassi Nyaris Tewas Ditebas Parang

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Senin (2/4/2018) sekira pukul 15.00 Wita, menjadi sore kelabu bagi David Rassi. Pria 38 tahun, warga Desa Apren, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang ini harus mengalami nasib apes.

Pasalnya, saat sedang berburu burung di dalam hutan di wilayah desanya, tiba-tiba muncul sekitar 11 orang warga Desa Pakubaun, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang yang menuduhnya mencuri jagung, lalu secara beramai-ramai melakukan penganiayaan dengan kejam terhadap dirinya.

Hal ini disampaikan David Rassi selaku korban saat ditemui wartawan di bilangan Jalan Polisi Militer, Kota Kupang, Sabtu (7/4/2018).

Kepada wartawan David mengisahkan, saat itu dirinya diajak oleh tantenya bernama Elisaf Natun untuk memetik cabai di kebun milik tantenya itu. Ketika dalam perjalanan, dia yang kebetulan membawa senapan angin menembak seekor burung.

Saat tembakannya mengena pada sasaran seekor burung yang dibidik, burung itu jatuh namun tersangkut pada ranting pohon. David lalu menyimpan senapannya dan bergegas mengambil burung tersebut.

“Waktu saya mau ambil burung yang tersangkut itu, tiba-tiba saja ada 11 orang sudah kerumun saya. Mereka langsung berteriak pencuri, saya bilang tidak, saya bukan pencuri tapi saya datang tembak burung,” cetus David mengisahkan.

Meski sudah menjelaskan bahwa dirinya bukan pencuri seperti yang dituduhkan kepada dirinya, tetapi penjelasannya itu tak digubris oleh para pelaku. Mereka langsung mendekat, bahkan beberapa orang dari pelaku sempat menembak dirinya menggunakan senapan angin, namun beruntung peluru tidak mengenai dirinya.

“Saya lihat ada tiga orang pegang senapan angin dan mereka tembak saya tapi tidak kena. Ada juga yang pakai katapel. Ada yang berusaha lempar saya tapi salah. Karena saya juga tidak melawan, akhirnya mereka mendekat lalu tangkap dan ikat tangan saya,” katanya.

Setelah itu, David mengaku, kesebelas orang pelaku itu membawanya ke sebuah rumah dan mengikatnya pada sebatang kayu, lalu dirinya dipukuli hingga tak berdaya. Tidak puas memukulinya, para pelaku juga membuka secara paksa mata dan mulutnya, lalu memasukkan tanah ke mata dan mulut, serta memaksanya memakan tanah.

“Mereka kasih masuk tanah di saya punya mata dengan mulut, lalu mereka suruh dan paksa saya makan tanah,” katanya.

Bahkan ada seorang pelaku yang sempat menyerang dirinya menggunakan sebilah parang dan melukai tubuhnya. “Untung ada yang menahannya, sehingga hanya ujung parang saja yang kena bagian belakang dekat bahu saya,” ujar David sembari menunjukkan luka sabetan parang yang belum sembuh dan masih membekas di tubuh bagian bawah pundaknya itu.

Kemudian, lanjut David, para pelaku membawanya ke Kantor Desa Pakubaun. “Lalu sekitar jam enam sore, kepala desa lepas tali dari tangan saya dan membawa saya ke rumahnya” katanya.

David menambahkan, persoalan tersebut sudah dilaporkan ke aparat kepolisian dan sedang ditangani oleh pihak Kepolisian Sektor Amarasi.