Gerakan Ketuk Pintu Bantu Temukan Penderita dan Cegah Tuberkulosis di NTT

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Gerakan Ketuk Pintu yang mulai dicanangkan Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2017 sangat efektif untuk menemukan penderita tuberkulosis (TBC). Dari kunjungan ketuk pintu yang dilakukan selama dua minggu, pada Maret 2017 lalu itu, kader kesehatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menemukan sebanyak 200 penderita TBC.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Provinsi NTT, dr. Theresia Sarlyn saat memimpin rapat pemantapan pelaksanaan Hari Tuberkulosis Sedunia, di Kupang, Jumat (16/3/2018).

Menurut Theresia, pencegahan dan penanganan tuberkulosis di NTT dilakukan secara promotif dan preventif dengan gerakan Ketuk Pintu. Selain itu perlu dilakukan secara terpadu dengan melibatkan semua pihak atau dengan sistem jejaring yang kuat.

“Jadi gerakan Ketuk Pintu ini adalah petugas mendatangi rumah penderita atau yang diduga ada penderita, sehingga dengan demikian ada upaya untuk mencegah sekaligus mengetahui kondisi yang dialami atau melakukan identifikasi,” jelasnya.

Theresia menjelaskan, gerakan Ketuk Pintu yang dilakukan di NTT selama dua musim pada Maret 2017 lalu, pihaknya menemukan 200 kasus tuberkulosis yang tersebar di seluruh daerah berbasis kepulauan itu.

“Kasus atau penderita tuberkulosis ini paling banyak ditemukan di Kabupaten Belu, Sikka, Nagekeo dan beberapa daerah lainnya. Para penderita ini ditemukan pada level dimana sudah ada kumannya, hanya saja belum pernah mendapatkan pengobatan,” jelasnya.

Dia berargumen, dengan pola pendekatan mencari penderita tuberkulosis di luar fasilitas kesehatan yang tersedia, ternyata lebih efektif karena menemukan banyak penderita penyakit dimaksud.

“Jumlah 200 penderita di NTT ini tergolong banyak. Kami memprediksi satu orang penderita berpotensi menularkan ke 10 atau 15 orang terdekat di sekitarnya. Jadi kalau 200 orang dikalikan 15 maka jumlahnya sangat banyak,” ujarnya.

Sementara untuk tahun 2018, kata Theresia, pihaknya belum melakukan perekapan jumlah penderita, karena petugas kesehatan masih melakukan kunjungan dalam gerakan Ketuk Pintu. Karena itu, jumlah penderita baru bisa diketahui setelah usai pendataan petugas di lapangan.

Theresia menambahkan, untuk peringatan Hari Tuberkulosis tahun 2018 secara nasional mengusung tema “Peduli TBC Indonesia Sehat” melalui aksi “Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS) di Keluarga”. Hari Tuberkulosis Sedunia diperingati setiap tanggal 24 Maret setiap tahunnya.

Peduli TBC adalah ajakan kepada semua pihak baik untuk ikut peduli, berkomitmen dan turut berperan aktif dalam pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian TBC, demi mewujudkan masyarakat bebas TBC yang pada akhirnya sesuai dengan tujuan pembangunan kesehatan yaitu Indonesia Sehat.