Polda NTT Ringkus Dua Pelaku Kasus Perdagangan Orang

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com- Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Timur (NTT) menyatakan keseriusannya dalam penanganan kasus tindak pidana perdagangan orang (human trafficking) yang kerap terjadi di daerah itu.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda NTT Kombes Yudi Sinlaeloe mengatakan, pihaknya menangkap dua orang pelaku yang terlibat kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan korban Mariance Kabu (34), mantan TKI yang bekerja di Malaysia beberapa waktu lalu.

Dua Pelaku yang ditangkap masing- masing berinisial TM (39), warga Kecamatan Maulafa, Kota Kupang dan PB (41), warga Kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

“Pengungkapan kasus ini berdasarkan Laporan Polisi No : LP / B / 379 /XI / 2016 /SPKT, tanggal 25 November 2016, tentang dugaan tindak pidana perdagangan orang yang dilaporkan oleh Pendeta Marieta Naomi Gerdina Sahertian dari GMIT,” katanya saat memberikan keterangan pers di Mapolda NTT, Kamis (15/3/2018).

Menurut Yudi, dalam kasus tersebut pelakunya sebanyak tiga orang namun baru dua pelaku yang berhasil diamankan sedangkan satu pelaku lainnya berinisial AT masih dalam pengejaran petugas atau buron.

“Kejadiannya pada 5 April 2014, saat itu korban Mariance Kabu direkrut oleh tiga orang pelaku ini. Pengungkapan kasus ini terkesan lama karena penanganan kasus TPPO berbeda dengan kasus tindak pidana umum lainnya, karena terkendala pada penelusuran dokumen dan juga keterangan saksi-saksi,” ujar Yudi yang didampingi Kabid Humas Polda NTT, Kombes Jules Abraham Abast.

Yudi menjelaskan, pelaku TM ditangkap pada Senin (12/3/2018), di daerah Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Sedangkan PB ditangkap, Selasa (13/3/2018), di Kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

“Korban Mariance Kabu direkrut oleh para tersangka dari kampung halamannya di Kecamatan Amanatun Utara, TTS, pada 5 April 2014, tanpa diketahui oleh suami dan orangtuanya. Saat direkrut, Mariance Kabu tidak membawa dokumen apapun,” katanya.

Selanjutnya, sambung Yudi, pada tanggal 6 April 2014, sekitar Pukul 05.00 Wita korban di bawa ke kupang oleh AT dan Pl dengan menggunakan bus dan setelah sampai di Kupang korban diserahkan kepada TM, dan PB.

“Kemudian korban dibawa ke salah satu PPTKIS dan ditampung selama 2 malam, setelah itu dia dijemput lagi oleh TM dan dibawa ke rumahnya dan pada 11 April 2014, korban dikirim ke Malaysia untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga,” ujarnya.

Dia menyampaikan, ketika bekerja di Malaysia itu, Mariance mendapatkan penganiayaan dari majikannya yang mengakibatkan korban mengalami luka berat, hingga akhirnya korban dipulangkan ke Indonesia.

“Kemudian pada tanggal 25 November 2016, korban Mariance Kabu dampingi oleh Pdt. Marieta Naomi Gerdina Sahertian datang dan melaporkan peristiwa tersebut di SPKT Polda NTT,” tandasnya.

Yudi menambahkan, ketiga pelaku dijerat Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara.