Pertumbuhan Ekonomi NTT 2017 Melambat Dibanding 2016

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2017 sedikit melambat apabila dibandingkan tahun 2016. Ekonomi tumbuh sebesar 5,16% (yoy) sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu sebesar 5,17% (yoy).

“Indikator konsumsi yang terdiri dari konsumsi rumah tangga, lembaga non profit rumah tangga dan pemerintah seluruhnya menunjukkan peningkatan pertumbuhan, begitu pula Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) / investasi,” kata Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTT, Naek Tigor Sinaga, di Kupang Rabu (14/3/2108).

Namun demikian, kata Sinaga, peningkatan PMTB/investasi dan konsumsi yang sejalan dengan peningkatan impor barang modal maupun konsumsi, baik dari dalam negeri dan luar negeri, menyebabkan PDRB Provinsi NTT tergerus dan perekonomian tidak mampu tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Terkait keuangan Pemerintah Daerah, Sinaga menyebut realisasi pendapatan pemerintah pada akhir tahun mencapai Rp 27,16 triliun atau 102,38% dari total target tahunan sebesar Rp 26,52 triliun. Realisasi pendapatan APBN Pemerintah Pusat di Provinsi NTT menjadi yang tertinggi yakni sebesar 874,71% atau Rp 2,60 triliun, terutama diperoleh dari Pajak Penghasilan (PPh).

“Di sisi lain, realisasi belanja pemerintah mencapai Rp 33,55 triliun atau 89,31 % dari total pagu belanja tahunan sebesar Rp 37,57, lebih tinggi dibanding capaian akhir tahun 2016 sebesar 87,11%,” sebutnya.

Pada kesempatan itu, Sinaga memaparkan, kinerja inflasi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Walaupun sempat dibayangi kekuatiran adanya potensi kenaikan inflasi karena kenaikan tarif listrik, biaya perpanjangan STNK di awal tahun, kenaikan harga pulsa ataupun kenaikan biaya pendidikan tinggi, namun pada akhir tahun 2017 inflasi dapat mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan nilai sebesar 2,00% (yoy).

“Capaian inflasi tersebut menjadi yang terendah dalam 17 tahun terakhir Provinsi NTT, terutama disebabkan oleh turunnya harga sayur-sayuran dan bumbu bumbuan seiring dengan adanya peningkatan produksi,” paparnya.

Dia menambahkan, selama tahun 2017 dan pada periode triwulan laporan, stabilitas sistem keuangan daerah tetap terjaga stabil seiring tidak adanya gejolak signifikan yang terjadi. Rumah tangga masih memegang kontribusi penting dalam menopang stabilitas keuangan daerah yang diukur dari besarnya penghimpunan dana dan penyaluran kredit.

“Di akhir tahun 2017, tercatat peningkatan penyaluran kredit di sektor rumah tangga, UMKM dan korporasi yang diikuti dengan perbaikan kualitas kredit,” tandasnya.