Arisan Sapi Dengan Prinsip Cinta Kasih ala Viktor Laiskodat

Bagikan Artikel ini

Laporan Frans Watu
Kupang, NTTOnlinenow.com – Viktor B Laiskodat, calon gubernur NTT yang berpasangan dengan Josep Nae Soi ternyata telah mengembangkan pilot project untuk menghidupkan lahan tidur di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi NTT menjadi lahan produktif. Sejak 2003, melalui tiga yayasannya, Viktor Laiskodat menggagas traktornisasi dan membantu para petani di TTU mengembangkan pertanian produktif.

Sejalan dengan itu, Viktor Laiskodat juga mengajak masyarakat TTU mengelola pertanian dan peternakan secara manunggal. Hingga saat ini, sudah sekitar 1500 ekor sapi yang berkembang biak dari bantuan induk sapi gratis yang semula didistribusikan sekitar 300 ekor kepada keluarga-keluarga di 24 kecamatan di TTU.

“Kami bagi gratis 300 induk sapi kepada masyarakat TTU dan melakukan pendampingan sampai sapi-sapi tersebut bisa dimanfaatkan untuk memberikan keuntungan kepada masyarakat TTU. Dari data kami, dari 300 induk sapi itu, sekarang sudah berkembang biak menjadi 1500 ekor sapi,” ujar Gildus Bone, pengurus ketiga yayasan Viktor Laiskodat beberapa waktu lalu.
Viktor Laiskodat, dalam beberapa kali tatap muka dengan masyarakat, menjelaskan, NTT memiliki potensi untuk mengembangkan peternakan daging skala besar.

Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat NTT dari peternakan, sumber daya masyarakat harus terlebih dahulu ditingkatkan. Karena itu, dirinya bertekad untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola daging sapi menjadi makanan yang enak sesuai standar citarasa internasional.

“Yang mau saya katakan sebenarnya adalah kita bukan saja bisa menghasilkan daging sapi kualitas terbaik, tetapi juga mampu mengolah daging-daging itu sesuai kebutuhan masyarakat modern saat ini. Kita mampu menghasilkan sosis, steak, bakso, dendeng, abon. Semua harus dilakukan di NTT sehingga masyarakat dapat menikmati keuntungan ekonomi hingga ke produksi hilirnya,” kata Viktor.

Menurut Gildus, pengelolaan sapi-sapi tersebut juga menggunakan mekanisme bagi hasil. Sapi yang beranak lebih dari dua ekor akan diperuntukkan bagi masyarakat TTU lainnya. “Ini semacam arisan sapi, dengan prinsip cinta kasih. Yang lain yang berlebih harus dibagikan kepada yang lain yang berkekurangan. Dari mereka untuk mereka,” katanya.

Cara seperti ini, kata dia, bisa sekali diterapkan untuk daerah-daerah lain di NTT. Masyarakat bisa membangun dari dirinya sendiri, dan butuh pemimpin yang memiliki komitmen dan mengerti benar kondisi masyarakat NTT saat ini. (otita center)