Warga Etnis di Labuan Bajo Semarakan Festival Komodo

Bagikan Artikel ini

Laporan Alvaro Saputra
Labuan Bajo, NTTOnlinenow.com-Festival Komodo 2018 di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) berlangsung meriah.  Seluruh etnis dari berbagai suku dilibatkan dalam kegiatan ini.

Pemerintah pusat berjanji selalu siap mendukung upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mabar, dalam mempromosikan pariwisata Labuan Bajo melalui berbagai kegiatan, salah satunya adalah Festival Komodo kali ini. Apalagi Labuan Bajo sudah menjadi salah satu destinatsi prioritas di NTT saat ini.

Festival Komodo ini termasuk dalam agenda 100 event pariwisata nasional yang dicanangkan oleh pemerintah pusat.

Koordinator Bidang Perancangan, Kemeterian Pariwisata, Ratna Surantih kepada wartawan di Labuan Bajo mengatakan, Kementerian pariwisata berusaha untuk menerbitkan dan melounching 100 wonderfull event, yang didalammya termasuk Festival Komodo. Tujuannya untuk lebih mempopulerkan Komodo dan Labuan Bajo, sehingg ada peningkatan kunjungan wisatawan, baik wisatawan manca Negara maupun domestic.

“Dukungan pemerintah pusat itu bersifat promosi sehingga Kementerian pariwisata membawa tim untuk mengangkat trending dengan hashtag-hashtag terkait festival Komodo ini dan juga membawa teman-teman media untuk meliput sehingga kalender iven ini bisa terpublikasikan,” jelasnya.

Ia berharap, event ini akan menjadi rutin setiap tahun dan menjadi event yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia maupun internasional, sehingga Komodo dan Labuan Bajo tambah popular, karena potensinya selain komodo juga budaya dan alamnya.

Terkait besaran anggaran festival, Surantih enggan menyebutkannya, namun Dia hanya menjelaskan, 60 persen anggaran festival komodo ini kepada media yang mereka disiapkan.

“60 persennya lebih kepada media yang dari kami, karena kami tidak menyelenggarakan event itu, karena ini event daerah. Kami justeru mensuportnya dipemberitaan, iklan, trending topic dan berbagai hal yang sifatnya akan mempopulerkan yang justeru dananya lebih besar dari anggaran festival komodo itu sendiri,” tutupnya.

Sementara itu, terpisah, Bupati Mabar, Agustinus Ch Dula kepada wartawan mengaku bangga dengan kegiatan ini dan memberikan apresiasi kepada pemerintah pusat yang telah mendukungnya dengan dimasukannya festival Komodo ini kedalam 100 iven pariwisata nasional.

Dari 100 iven nasional itu, di NTT sendiri ada 4 iven yaitu, Likurai, Sandelwood, Tour de Flores (TdF) dan Festival Komodo, sebut Dula.

Bupati Dula berharap, kegiatan festival Komodo ini akan terus berlangsung sampai tahun-tahun yang akan datang.

Festival Komodo 2018 ini merupakan kali kedua, setelah sebelumnya dibuat pada tahun 2017 lalu.

Dalam Festival Komodo kali ini melibatkan seluruh komponen, mulai dari warga etnis, organisasi perangkat daerah, para pelaku pariwisata, sanggar seni budaya, pengusaha kuliner, para pelajar dan masyarakat.

Melibatkan semua etnis, jelas Bupati Dulla, dalam rangka untuk mendukung pariwisata, serta menjaga keberagaman dan keutuhan Bhineka Tunggal Ika. Tujuan akhirnya untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan para etnis tinggal di Labuan Bajo, serta menjauhkan radikalisme, terorisme, termasuk kegiatan ekstrim lainnya.

Sejumlah patung Komodo hasil kerajinan masyarakat terlihat ikut ditampilkan dalam kegiatan itu. Mulai dari yang berukuran raksasa hingga berukuran kecil. Patung-patung itu diarak ribuan peserta festival dengan titik star dari kantor perumahan rakyat berjalan kaki hingga panggung utama festival di Lapangan Sepak Bola Kampung Ujung Labuan Bajo dengan jarak kurang lebih 3 km.

Seluruh peserta berjalan kaki dan mengenakan busana adat kedaerahnnya masing-masing dan sepanjang jalan sambil menampilkan atraksi kedaerahannya. Sedang Bupati dan Wakil Buapati, Ketua Kejaksaan, Kapolres, Kadis Pariwisata NTT, bersama sejumlah tokoh masyarakat menunggangi kuda.

Tiba di panggung utama lapangan Sepak Bola kampung Ujung Labuan Bajo, Bupati bersama seluruh peserta festival Komodo diterima secara adat Manggarai oleh tokoh adat setempat, yaitu dengan seekor ayam jantan berbulu putih sebagai simbol keputihan hati dan ketulusan cinta serta bentuk dukungan terhadap Festival Komodo tersebut.

Festival juga disemarakan dengan tarian Caci, yaitu tarian adat asli Manggarai dan berbagai kegiatan hiburan masyarakat lainnya.