10 Alasan Mengapa Viktor dan Josef paling Layak Jadi Gubernur NTT

Bagikan Artikel ini

Laporan Frans Watu
Kupang, NTTOnlinenow.com – Dalam pemilihan gubernur pada Juni tahun ini, ada empat calon yang akan bertarung. Kami berikan 10 alasan, mengapa pasangan Viktor dan Josef adalah pasangan yang paling pantas dan layak serta paling bisa mengubah wajah NTT tercinta.

1. Didukung oleh partai Nasden dan Golkar yang secara nasional merupakan partai pendukung Jokowi Widodo yang akan maju untuk periode kedua pada tahun 2019. Sebagai basis kristen dan katolik yang adalah minoritas di negeri ini, pilihan pada Jokowi adalah yang paling tepat dan masuk akal buat orang NTT. Bukan yang lain.

2. Keduanya mengembangkan konsep dwitunggal, wakil gubernur yang akan menjalankan birokrasi kegubernuran, dan Viktor akan lebih sering keluar mencari mitra ke pusat dan ke mitra-mitra swasta untuk mendapatkan sumber pendanaan. Ingat pendapatan daerah (PAD) kita masih sangat kecil dan hampir 70 persen anggaran pembangunan datang dari pusat. Lagi pula swasta sangat dibutuhkan untuk membangun NTT. Jadi Viktor yang akan mencari bahan makanan, Josef yang akan memasak.

3. Kedua tokoh ini dalam tugas dan karya politik selama ini dinilai bersih, minimal tidak pernah ditangkap KPK atau dipanggil sebagai saksi seperti calon-calon lain, atau diberitakan surat kabar pernah bermain-main dengan uang negara.

4. Viktor dan Josef tidak pernah memainkan isu prinordial seperti katolik vs protestan, atau timor vs flores yang nyata-nyata sangat melemahkan solidaritas sosial sebagai sesama Flobamora yang akan bahu-membahu membangun propinsi yang sering dicap miskin ini. Bahkan, keduanya menilai, misi (katolik) dan zending (protestan) merupakan dua kekuatan yang bisa diajak bersama kelompok umat beragama yang lain untuk bergandengan tangan membangu NTT. Banyak juga mitra yang bersifat religius di luar negeri yang bisa diajak untuk meningkatkan kualitas manusia NTT.

5. Viktor dan Josef tidak hanya menyadari dan mengaggumi keindahan alam NTT dan keunikan budaya masyarakat, tapi menjadikan itu sebagai modal utama dengan menempatkan pembangunan pariwisata pada tempat pertama. Membangun pariwisata, seperti kata Viktor, adalah membangun peradaban, maka orang NTT harus mengubah cara hidup, sadar pada kebersihan, keramahtamaan, mengubah cara mengelola makanan dan seterusnya. Lalu, semua rantai pasokan yang menopang pariwisata harus disumbangkan oleh masyarakat NTT sendiri.

6. Karena keindahan alam NTT, keduanya sudah memiliki komitmen untuk tidak mengembangkan pertambangan di NTT. Ini tentu berbeda dengan calon-calon lain yang dalam jabatan sebelumnya, di kabupaten atau di propinsi, mengeluarkan banyak ijin usaha pertambangan (IUP) yang menimbulkan reaksi protes dari pihak gereja, LSM dan masyarakat.

7. Viktor dan Josef secara tegas menolak kelompok ormas yang radikal yang kehadirannya bisa merusak tatanan masyarakat Indonesia dan NTT yang plural. Mereka tegas, tidak apatis dan tidak plin plan dalam menolak ormas radikal.

8. Dalam pembangunan infrastruktur Viktor dan Josef tidak hanya mengandalkan APBD yang sangat terbatas. Mencari tambahan dana melalui BUMN infrastruktur seperti PT SMI, Sarana Multi Infrastruktur atau swasta dengan berbagai pola kerja sama, keduanya tidak akan lagi “mencicil” membangun jalan, tapi dikebut dalam 3 sampai 5 tahun, kemudian mencicil pembayaran. Lagi pula banyak dana-dana teknis di berbagai departemen yang belum dimanfaatkan secara optimal.

9. Investor swasta yang dilibatkan dalam pembangunan akan diminta dana “tanggung jawab sosial” (CSR, Corporate Social.Responsibiltiy) untuk membiayai anak-anak NTT untuk bersekolah, tidak terpikirkan mengambil “fee” 10 persen atau betapapun untuk kepentingan pribadi.

10. Meningkatkan harga diri orang NTT dengan ikut menyumbang devisa nasional melakui pengembangan sumber daya alam yang potensial seperti garam dan ternak. Ingat dana yang turun ke NTT dari APBN sebagian besar disumbangkan dari daerah-daerah lain dari hasil tambang, perkembunan dll. ” Saatnya kita harus bisa menyumbang sesuatu, biar kita bisa bediri tegak dan angkat muka di hadapan sesama warga Indonesia.”