Subasuka Exhibition Hall Tingkatkan Sistem Pengawasan untuk Kenyamanan Berbelanja

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Subasuka Exhibition Hall merupakan salah satu pusat galeri atau outlet fashion yang selalu ramai dikunjungi pecinta fashion di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menawarkan aneka produk dengan harga terjangkau.

Pengunjung yang datang dalam sehari rata-rata mencapai ratusan bahkan pada momen tertentu seperti menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru atau hari raya keagamaan lainnya, pengunjung bisa mencapai ribuan orang.

Direktur Subasuka Exhibition Hall, Bryando Pribadi Gotama mengatakan, bisnis fashion yang dibuka pada pertengahan 2016 lalu itu dihadirkan menyerupai pameran fashion murah. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat bisa berbelanja dengan nyaman dan harga terjangkau.

“Untuk outlet fashion dengan sistem penjualan open display atau pajangan terbuka seperti ini, Subasuka adalah yang pertama di Kota Kupang, dan ini membuat masyarakat lebih leluasa dalam berbelanja,” kata Bryando kepada wartawan di Kupang, Rabu (21/2/2018).

Menurut salah satu pengusaha muda Kota Kupang ini, dengan tingkat kunjungan pelanggan yang tinggi tersebut, tentu perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan seiring peningkatan sistem pengawasan dan pengamanan, karena rawan kejadian tidak menyenangkan.

“Sistem penjualan display ini memang membuat pelanggan lebih bebas memilih, tetapi potensi menyalahgunakan keleluasaan ini pun cukup tinggi, dan hal ini kami rasakan betul, sehingga perlu bagi kami untuk meningkatkan pengawasan,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, peningkatan pengawasan yang dilakukan tersebut dimaksudkan untuk meminimalisasi kehilangan produk atau barang, yang selama ini terjadi guna mengurangi angka kerugian akibat lemahnya pengawasan.

“Tentu kami tidak ingin menyalahkan pihak lain, selain kami melakukan pembenahan secara ke dalam dengan sistem dan manajemen yang kami terapkan untuk kebaikan semua pihak,” ungkapnya.

Bryando menyebut sejumlah kejadian tidak menyenangkan yang kerap dialami, bahkan dalam sehari bisa 5 – 7 kali kejadian tersebut, diantaranya seperti kehilangan barang dan penukaran label harga.

“Seperti kejadian baru kemarin, ada tiga anak SMP belanja di sini, dan barang satu keranjang berisi sebanyak 17 item pakaian, semua labelnya ditukar dengan label harga dibawah dari harga sebenarnya, dan setelah ketahuan mereka mengakui menukar label harga itu,” sebutnya.

Dia mengaku, kejadian serupa kerap terjadi. Meski kebanyakan ketahuan tetapi tidak sedikit yang lolos dari pantauan atau pengawasan. Meski begitu, pihaknya selalu memberikan toleransi dengan tidak membawa persoalan-persoalan tersebut ke ranah hukum.

“Untuk kejadian-kejadian seperti ini, kami hanya memberikan pembinaan secara kekeluargaan demi menjaga suasana tetap kondusif agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” paparnya.

Berdasarkan pengalaman dari kejadian-kejadian tersebut, Bryando menjelaskan, pihaknya kemudian mengambil langkah antisipasi untuk melakukan pembenahan ke dalam terutama pada sistem pengamanan atau pengawasan.

“Salah satunya ialah meminta pengertian baik dari pelanggan untuk menitipkan barang yang dibawanya dari luar pada loket penitipan barang yang disediakan seperti tas, helm, jaket dan lainnya. Karena kejadian ada yang saat masuk tidak pakai jaket tapi saat keluar pakai jaket, saat ditanya bilangnya sudah bayar, lalu ditanya struk pembeliannya mana, ternyata bilang tidak ada. Nah ini kan ada upaya,” jelasnya.

Oleh karena itu, dia menambahkan, semua prosedur yang ditetapkan adalah semata-mata untuk mempermudah pengawasan dan sama sekali bukan bermaksud mempersulit atau mengintimidasi pelanggan, karena sesungguhnya pelanggan adalah raja.

“Kami berharap pelanggan setia Subasuka Exhibition Hall bisa memahami kondisi ini, karena semua yang kami lakukan di sini adalah demi kenyamanan bersama,” tandasnya berharap.

Komisaris PT Subasuka Go, Don Putra Gotama mengatakan, sistem display yang diterapkan manajemen Subasuka Exhibition Hall perlu ada mekanisme sistem pengawasan dan pengamanan yang lebih menopang.

“Karena berbeda gaya penjualan toko-toko lama dibanding gaya baru atau display yang diterapkan ini, orang bebas dan lebih leluasa memilih barang yang berkualitas tapi murah. Tentu harus ada mekanisme kontrol yang menopang agar semuanya bisa berjalan aman dan lancar,” ujarnya.

Don Putra Gotama menambahkan, mekanisme kontrol yang diterapkan tersebut hakekatnya bertujuan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pelanggan ketika berbelanja. Karena dengan menitipkan barang bawaannya pada loket yang disediakan, selain memudahkan pengawasan juga bisa mengantisipasi pelanggan kehilangan barang.