Tingkat Kesejahteraan Petani NTT Menurun

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Kesejahteraan petani Nusa Tenggara Timur (NTT) menurun seiring dengan melemahnya indeks Nilai Tukar Petani (NTP). NTP menghitung rasio antara indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, Maritje Pattiwaellapia kepada wartawan di Kupang, Kamis (1/2/2018), menyebutkan NTP Provinsi NTT pada Januari 2018 sebesar 104,79. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan Desember 2017.

“Terjadi penurunan sebesar 0,01 persen jika NTP Januari 2018 dibandingkan dengan NTP Desember 2017. Dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan/daya beli dan daya tukar (term of trade) petani di pedesaan menurun,” katanya.

Menurut Maritje, hal itu disebabkan karena biaya produksi pertanian dan kebutuhan sehari-hari rumah tangga petani meningkat tetapi masih lebih tinggi dibandingkan penerimaan petani.

Baca juga : Kelompok Bahan Makanan Sumbang 5,26 Persen Inflasi di NTT

Nilai Tukar Petani bulan Januari 2018 didasarkan pada perhitungan NTP dengan tahun dasar 2012 (2012=100). “Penghitungan NTP ini mencakup 5 subsektor, yaitu subsektor padi dan palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan,” ujarnya.

Dia menyebut, pada bulan Januari 2018, NTP NTT sebesar 104,79 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 108,81 untuk subsektor tanaman padi-palawija (NTP-P); 102,68 untuk subsektor hortikultura (NTP-H); 98,65 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR); 107,28 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 109,98 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).

“Di daerah perdesaan terjadi inflasi pada bulan Januari 2018 sebesar 0,48%. Subkelompok yang mengalami inflasi adalah bahan makanan (0,58%), perumahan (0,22%), makanan jadi (0,20%), sandang (0,38%), kesehatan (0,43%), pendidikan (0,15%) dan transportasi (1,20%),” tandas Maritje