Jelang Pilgub NTT Kesbangpol Sumba Timur Gelar Dialog Wawasan Kebangsaan

Bagikan Artikel ini

Laporan Mohammad Habibudin
Waingapu, NTTOnlinenow.com – Menjelang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) 2018, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sumba Timur gelar dialog wawasan kebangsaan yang dilaksanakan Rabu (31/1/2018) bertempat Gedung UT Marisi Waingapu.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh anggota Forkominda, FKDM, Camat, Lurah, Humas Pemda, Pimpinan Partai Politik, FKPPI, GMKI, KNPI, GMNI, Tokoh Agama, Masyarakat, Pemuda, Perempuan dan Lembaga Swadaya Masyarakat di Sumba Timur.

Kepala Badan Kesbangpol Sumba Timur melalui Kepala Bidang Bimas Srada Samsudin Pasoa menjelaskan, pelaksanaan kegiatan dialog kebangsaan dalam menghadapi Pilgub di NTT untuk menyamakan persepsi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang nilai-nilai kebangsaan dan ketaatan pada aturan serta menjauhkan diri dari sikap yang mengganggu dan merugikan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Tujuan ini agar masyarakat memiliki dan lebih mencintai tanah airnya dan berupaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dengan upaya pencegahan dan lapor cepat terhadap gangguan atau isu agama, politik yang mengganggu ketentraman dan ketertiban,”kata Samsudin.

Wakil Bupati Sumba Timur melalui Asisten III Sumba Timur, Isak Raga Koda dalam sambutannya mangatakan, kegiatan dialog wawasan kebangsaan terlahir dari kebutuhan akan keterbukaan kesamaan persepsi dalam menyikapi bernagai fenomena sosial yang berkembang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berkaitan isu politik, agama yang dapat memporak porandakan kerukunan, persatuan, kebersamaan dan persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menegaskan, setiap masalah dan isu yang berkembang dalam masyarakat baik isu agama maupun isu politik harus disikapi secara bijak dan ditangani secara cepat agar tidak berkembang kemana-mana, yang dapat merusak tatanan kehidupan dan bukan tidak mungkin akan menimbulkan gesekan atau konflik, sehingga menjadi tidak nyaman.

“Jadi dalam penyelesaian permasalahan seyogyanya dapat dilakukan secara dialogis dalam bingkai musyawarah untuk mencapai kesepakatan, jadi bukan melalui tekanan yang diciptakan melalui aksi-aksi kekerasan atau anarkis,”imbaunya.

Kegiatan ini saya menitipkan harapan bagi peserta dialog agar mengikuti kegiatan ini dengan cermat, semangat dan dinamis namun bagi para narasumber saya ucapka terima kasih karna telah membagi informasi, pengetahuan dan pengalaman dengan para peserta untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat.