Konser Natal Jalanan Kelompok SALT dan BMC Bergema di Kota Perbatasan Atambua

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kupang, NTTOnlinenow.com – Dengan mengusung tema Natal dan Pesan Perdamaian Lewat Musik, Kelompok Sanggar Belajar Alternatif (SALT) dan Belu Music Community (BMC) menggelar konser Natal Jalanan di beberapa titik yang merupakan pusat keramaian kota Atambua Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Konser awal dimulai dari Markas SALT, kemudian berpindah ke depan Gereja St Maria Imaculata Katedral Atambua, wilayah pasar lama, depan pusat pertokoan dan berakhir di Halte Kopi yang terletak di Pasar Senggol Atambua pada Selasa (26/12/2017).

Suasana konser Natal jalanan di kota Perbatasan Atambua ini semakin semarak dengan menghadirkan puluhan anggota Kelompok SALT yakni anak – anak, remaja dan orang dewasa. Meski sebagian besar anggota SALT yang terlibat adalah peserta kursus, namun kreatifitas yang ditunjukkan mampu menghipnotis para pengguna jalan umum yang melintas.

Selain anggota kelompok SALT, sejumlah Musisi ternama kota Atambua yang tergabung dalam BMC juga hadir dan turut mejadi pelaku musik. Dua Violinist yang tidak asing lagi di Kota Atambua, Victor Manek dan Lisa Abanit sekaligus pelatih bagi para peserta kursus dan dua Gitaris ternama Romo Filto dan Beni.

Beberapa lagu yang dikumandangkan secara bersama, diantaranya Joy to the world , We Wish You Marry Christmas, Silent Night, Jingle Bells, Natal di Dusun dan beberapa lagu natal lainnya diiringi alat musik Pianika, Gitar, Saxsofone, Biola, Flute, Sasando, Cello, Harpa dan Angklung dipimpin, Romo Patris Sixtus sebagai dirigent.

Kelompok bentukan Romo Patris Sixtus, Romo Delfi Asa, Agus Pio, Ivon Sulaiman, Viktor Manek, Goris Asa, dan Idus Manek ini menjadikan konser tersebut sebagai momen untuk menyemarakkan suasana perayaan Natal tahun 2017 di kota Atambua. Pelaksanaan konser itu sendiri sudah untuk yang kedua kalinya digelar sejak SALT terbentuk pada tahun 2016 lalu. “Kami melaksanakan konser ini sebagai wujud nyata kecintaan kami akan kota Atambua dan memiliki tujuan untuk menyemarakkan suasana perayaan Natal tahun ini. Ini merupakan konser kami yang kedua kalinya”, ungkap Agus Pio.

Baca juga : Pemuda Berperan Wujudkan Perdamaian di Perbatasan Belu

Agus Pio juga berharap, melalui konser tersebut seluruh penonton semakin termotivasi untuk mencintai musik dan bisa menjadi pelaku musik itu sendiri.

“Melalui iringan alat-alat musik yang dimainkan anggota kelompok SALT dan BMC, saya berharap dari hari ke hari semakin sedikit masyarakat kota Atambua yang menjadi penonton dan bisa berbalik menjadi pelaku musik”.

Pagelaran konser jalanan inipun memberi kesan tersendiri bagi penonton. Salah seorang warga kota Atambua, Naning mengungkapkan kekagumannya menyaksikan penampilan anggota kelompok SALT yang masih berusia anak – anak dalam melantunkan lagu dan memainkan alat musik. “Saya sangat bangga dengan penampilan anak-anak ini. Mereka luar biasa, masih kecil tapi sudah hebat bermain musik”, ungkap Naning.

Hal senada disampaikan seorang ibu, Kasih Bere Leki yang juga memberi apresiasi setinggi – setingginya bagi kelompok SALT dan BMC. “Setelah menonton acara ini, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda di kota ini. Kalau dulu di kota Atambua ini tidak ada komunitas musik yang menjadikan ruang publik sebagai tempat untuk berbagi sukacita, kini hal itu mulai nampak secara perlahan. Apresiasi setinggi-tingginya saya berikan untuk semua yang terlibat dan berkorban untuk kegiatan ini. Maju terus SALT dan BMC”, ungkap Kasih Bere Leki penuh semangat.

Sesuai rencana Dewan Pembina, konser ini akan digelar kembali pada Sabtu (30/12) dengan Konser indoor. “Rencananya, konser ini akan digelar kembali pada Sabtu (30/12) mendatang. Konser di akhir tahun itu nanti digelar dalam Gedung Bete Lalenok, Atambua dengan konsep indoor. Pagelaran dengan konsep indoor nanti akan membuat penonton lebih nyaman menikmati acara konser yang bertajuk perdamaian”, ungkap Romo Patris Sixtus menutup rangkaian kegiatan.

Konser jalanan yang berhasil terselenggara dengan baik ini awalnya diinisiasi Dewan Pembina SALT yakni Romo Patris Sixtus, Romo Delfi dan Agus Pio bekerjasama dengan Keluarga Tanjung di Atambua dan TNI dari Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI – RDTL Yonif, Sektor Timur Yonif Raider 712/Wiratama.