Kondisi Ekonomi NTT Mampu Tumbuh Terjaga Dengan Inflasi Rendah

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Kondisi pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mampu tumbuh terjaga pada rentang 4,9 – 5,3 % (yoy) dengan inflasi yang rendah. Indikator stabilitas sistem keuangan juga menunjukkan kondisi yang stabil, dengan tingkat pertumbuhan kredit maupun penyerapan dana pihak ketiga yang masih cukup tinggi.

“Kondisi sistem pembayaran juga menunjukkan adanya peningkatan, yang direspon dengan menambah dua kas titipan Bank Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di NTT,” demikian disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT, Naek Tigor Sinaga pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Provinsi NTT di Kupang, Kamis (14/12/2017).

Menurut Sinaga, dengan kondisi pemulihan yang terjadi, dan pertumbuhan ekonomi yang terjaga, maka pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2017 kali ini, mengusung tema “Memperkuat Momentum”, dalam arti harus menjaga momentum pemulihan dan perbaikan ekonomi yang sedang terjadi, untuk mampu tumbuh lebih tinggi.

“Pertemuan Tahunan Bank Indonesia ini diselenggarakan secara rutin setiap akhir tahun untuk menyampaikan pandangan Bank Indonesia mengenai kondisi perekonomian terkini, tantangan dan prospek ke depan, arah kebijakan Bank Indonesia, serta memberikan apresiasi kepada seluruh pihak atas sinergi yang baik dalam menjaga perekonomian Provinsi NTT sepanjang tahun 2017,” ungkapnya.

Dia memaparkan, perekonomian NTT sepanjang tahun 2017 tumbuh terjaga pada kisaran 5% dan diperkirakan akan berada pada kisaran 4,90% sampai 5,30% (yoy) pada akhir tahun yang didorong oleh peningkatan produksi dan penjualan dari sektor pertanian.

Inflasi Provinsi NTT hingga November 2017 juga terkendali, tercatat 2,70% (yoy), lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 3,30%. Secara kumulatif dari Januari-November 2017, inflasi NTT juga jauh di bawah nasional, yaitu 0,76% dibanding 2,87%, menjadikan inflasi Provinsi NTT terendah ke-4 secara nasional.

“Hal ini merupakan hasil koordinasi dan sinergi yang erat antar pemangku kewenangan di Provinsi NTT melalui wadah TPID dan Tim Satgas Pangan,” paparnya.

Sinaga menyatakan, pada bidang Stabilitas Sistem Keuangan, kinerja sistem keuangan di Provinsi NTT stabil. Penyaluran kredit tumbuh 13.35% (yoy) didorong oleh tumbuhnya penyaluran kredit rumah tangga dan korporasi.

Baca juga : Pelaku Usaha Diimbau Tidak Manfaatkan Momen Natal untuk Spekulasi Harga

Terkait pengembangan UMKM, lanjutnya, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT saat ini memiliki 8 (delapan) klaster binaan yakni Padi di Manggarai Barat, Sapi di Kota Kupang, Bawang Merah dan Tenun Ikat di Belu, serta Kopi dan Cabai di Sumba Barat Daya, serta terus mendukung pengembangan komoditas ekspor melalui program Local Economic Development (LED).

“Bank Indonesia juga akan terus mendorong perbankan, agar pangsa penyaluran kredit UMKM yang saat ini sudah mencapai 34,24% dari total kredit, lebih tinggi dari nasional yang mencapai 20,28%, dapat semakin ditingkatkan,” katanya.

Dia menjelaskan, pada bidang sistem pembayaran, sejalan dengan program di tingkat nasional, di Provinsi NTT juga telah dilakukan implementasi beberapa program kerja, antara lain, penyaluran Bantuan Sosial Non Tunai, elektronifikasi tata kelola layanan keuangan pemerintah, perluasan kawasan non tunai, dan penertiban KUPVA BB ilegal.

“Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT juga terus berkomitmen menyediakan uang tunai yang layak bagi masyarakat dengan memanfaatkan kas titipan di 8 (delapan) titik di Provinsi NTT, Program BI Jangkau, dan Kegiatan Layanan Penukaran Uang, serta melakukan upaya menekan peredaran uang palsu melalui program sosialisasi dan koordinasi dengan aparat penegak hukum, yakni kepolisian dan kejaksaan,” jelasnya.

Bank Indonesia memperkirakan momentum pemulihan perekonomian Indonesia pada tahun 2018 dapat terus berlanjut dan pertumbuhan ekonomi NTT akan mampu tumbuh pada rentang 4,9 5,3 % (yoy) dengan inflasi yang rendah di kisaran 3,5±1%.

“Pertumbuhan ekonomi terutama akan didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga serta meningkatnya investasi di bidang infrastruktur konektivitas, kelistrikan dan sumber daya air,” ujarnya.

Sinaga menambahkan, Bank Indonesia juga melihat bahwa pertumbuhan ekonomi masih dapat lebih ditingkatkan, seandainya kita fokus mengembangkan keunggulan komparatif daerah, seperti industri pertanian lahan kering, peternakan, sektor pariwisata maupun kelautan.

Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat mengatasi permasalahan utama terkait keterbatasan kapasitas SDM serta permasalahan lahan yang saat ini masih terjadi, agar pertumbuhan ekonomi dan kualitas pembangunan yang kuat serta investasi yang merata dapat tercapai dalam waktu yang lebih singkat.