Pelaku Usaha Diimbau Tidak Manfaatkan Momen Natal untuk Spekulasi Harga

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Lebu Raya mengimbau pelaku usaha di daerah itu agar tidak memanfaatkan momen Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2018 untuk melakukan spekulasi dan mengambil keuntungan yang memberatkan masyarakat.

“Sebagai pelaku usaha mesti untung, tetapi untungnya itu harus yang menyenangkan masyarakat, tidak memberatkan masyarakat. Paling tidak masyarakat merasa nyaman dan daya belinya terjangkau,” kata Lebu Raya kepada wartawan di Kupang, Senin (11/12/2017).

Menurut Lebu Raya, sejumlah langkah aksi akan dilakukan setelah dilaksanakannya Rapat Koordinasi Pengamanan Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan Pokok dan Strategis Menghadapi HBKN Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 yang dihadiri oleh Perwakilan Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Bank Indonesia, dan anggota TPID serta Satgas Pangan Provinsi NTT.

“TPID dan Satgas Pangan akan terus melakukan koordinasi dalam rangka pemantauan ketersediaan pasokan dan harga pangan Sekaligus memberikan respon tanggap terhadap kondisi di lapangan,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, yakni mengadakan pasar murah dan melakukan operasi pasar di beberapa daerah. Menginstrusikan kepada operator pelabuhan agar mengutamakan aktlvitas bongkar muat bahan pangan.

Baca juga : Penerima Bantuan Pendidikan S1 Bagi Keluarga Tidak Mampu Diverifikasi Ulang

“Kami juga melakukan koordinasi dengan otoritas di tingkat nasional dalam rangka pengendalian tarif angkutan udara yang cenderung mengalami peningkatan di akhir tahun,” sambungnya.

Pada kesempatan itu, Gubernur Lebu Raya menjamin ketersediaan dan pasokan pangan strategis di wilayahnya aman dan harga terkendali. “Untuk dua bulan ke depan paling kurang, stok pangan dinyatakan aman,” papar Lebu Raya.

Kepala Bank Indonesia NTT, Naik Tigor Sinaga menyebutkan, inflasi di NTT cukup terkendali meskipun cenderung lebih tinggi pada akhir tahun. Selain itu juga pengaruh cuaca yang dapat menghambat distribusi.

“Inflasi di NTT cenderung tinggi di akhir tahun terutama disebabkan oleh peningkatan permintaan menghadapi perayaan hari raya Natal dan Tahun Baru yang dibarengi dengan penurunan pasokan karena memburuknya cuaca,” sebutnya.

Tigor menambahkan, jumlah alat- alat distribusi bahan kebutuhan pokok, baik angkutan darat, laut maupun udara relatif cukup sehingga dapat disimpulkan bahwa keadaan distribusi bahan kebutuhan pokok masyarakat di NTT relatif Iancar.