Menjelang pemilihan Asprov NTT, Sebaiknya Diisi Orang Yang Punya Hati Untuk Sepakbola

Laporan Frans Watu
Jakarta, NTTOnlinenow.com – NTTOnlinenow.com – Presiden Joko Widodo terkenal dengan gerak cepatnya termasuk dalam pengembangan infrastruktur dan pembinaan sepakbola nasional. Jika kita masih ingat saat Presiden memberikan arahan pada rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, pada Selasa (24/1/2017). Saat itu Presiden memberikan empat arahan agar sepakbola nasional bisa segera bangkit.

Dalam rapat terbatas tersebut juga turut diundang Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, dan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir.

Empat hal yang diarahkan Presiden Joko Widodo saat itu, pertama, menyoal pembinaan sepak bola sejak usia dini. Kedua, Presiden minta dilakukan pembenahan total atas sistem dan tata kelola sepak bola nasional. Ketiga, Presiden juga menekankan pembinaan manajemen klub. Keempat, Presiden Jokowi mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur sepak bola, mulai dari stadion atau tempat latihan lain yang memenuhi standar.

Dampak dari arahan Presiden kita bisa melihat PSSI mulai mengedepankan pembinaan tim usia dini dengan mendatangkan pelatih yang mumpuni, memang belum ada hasil yang signifikan, butuh waktu untuk menuai apa yang dilakukan saat ini. Kunci kenerhasilan tersebut ada dipundak Asosiasi Kota (Askot), Asosiasi Kabupaten (Askab), dan Asosiasi Provinsi (Asprov) yang merupakan perpanjangan tangan PSSI di daerah.

Kepemimpinan Asprov NTT yang dijabat Gubernur NTT Frans Leburaya akan memasuki purna bakti, digendakan desembar ini akan ada pemilihan Ketua Asprov dan Exco Propinsi NTT. Sekelompok mantan pemain NTT di Jakarta yang tergabung dalam NTT All Star turut angkat suara menjelang suksesi pemilihan pemangku kebijakan sepakbola di NTT.

“kami mendukung figur yang mau mengurus sepakbola NTT, minimal ngerti sepakbola (mantan pemain), punya visi, bebas dari politisasi sepakbola dan yang terpenting punya hati, ujar Frans Watu Koordinator NTT All Star Jakarta. Kalau mau maju jangan mendaulat Gubernur karena catatan kami seorang Gubernur hampir tidak punya waktu untuk datang dan konkow bareng pengurus dan pemain di lapangan, begitu juga dengan Askab/Askot, berikan kepada mereka yang mau berkarya bagi NTT lewat sepakbola, the right man on the right job.

Laurens Fernandez mantan striker NTT di era 90-an turut angkat bicara, senada dengan koleganya para mantan pemain, dia berharap para mantan pemain dan penggiat sepakbola di NTT bisa mengisi jabatan di Aspro dan Exco PSSI NTT. Memang butuh campur tangan birokrasi tapi bukan campur tangan untuk kepentingan partai dan hajatan politik, jauhkan sepakbola dari politisasi dan onani politik, lanjut Lourens Ferandez.

Figur yang dinilai layak memimpin Asprov NTT saat ini cukup banyak, dari hasil diskusi para mantan pemain NTT All Star Jakarta, sebut saja nama-nama seperti Fahry Djemi Francis mantan penjaga gawang Bank Suma dan Persedil ini sudah memulai dengan pembinaan usia muda melalui pendirian SSB Bintang Timur dan Academy Sepakbola di tapal batas Timor Leste – Belu. Tokoh yang punya jaringan sponsor dan hubungan baik dengan sejumlah mantan pemain nasional ini punya visi dan totalitas dalam membangun pondasi sepakbola NTT. Banyak kalangan masih meragukan kesediaan beliau untuk turun gunung, namun dari hasil diskusi kami dengan beliau, kenapa tidak kalau masyarakat bola menginginkan kehadiran Ketua Sport Intelegent PSSI untuk mengendalikan Asprov NTT, intinya siap saja kalau dibutuhkan.

Selain Fary, ada nama David Fulbertus pemilik Swissbell Hotel Kristal Kupang, keseriusannya dalam mengembangkan talenta muda NTT lewat SSB dan Academy Sepakbola Bali United Kristal. Saya tidak begitu mengenal tokoh ini tapi dari rekam jejak dan informasi yang saya peroleh dari rekan-rekan “Mas Gibol” tokoh ini sangat total dalam mengembangkan pembangunan sepakbola di NTT. Kolaborasi Fary dan David bisa jadi kekuatan dibalik pembangunan pondasi sepakbola NTT.

Selain dua nama tersebut ada dua nama dari birokrasi yang punya hati dalam memimpin Asprov NTT, dr.Stefanus Bria Seran, MPH Bupati Malaka dan Thomas Ola Wakil Bupati Lembata mantan pemain PSK. Selain nama-nama diatas yang bisa memimpin Asprov NTT kita juga butuh orang-orang yang independen bebas dari tekanan birokrasi untuk mengisi posisi di Exco PSSI NTT sehingga kerja ketua Asprov lebih mudah dalam memacu pembangunan pondasi sepakbola NTT.

Kunci dari keterpurukan pembinaan usia dini dipicu oleh PSSI sendiri yang tidak dapat memaksimalkan fungsi dan kedudukan Asosiasi Kota (Askot), Asosiasi Kabupaten (Askab), dan Asosiasi Provinsi (Asprov) yang merupakan kepanjangan PSSI di Kota, Kabupaten, dan Provinisi di seluruh Indonesia. Masalah yang sangat klasik, tidak berkutiknya Askot, Askab, dan Asprov dalam mengemban tugas PSSI untuk melakukan pembinaan, pelatihan, hingga festival dan kompetisi.

Ketidakberdayaan Askot, Askab, dan Asprov langsung dimanfaatkan oleh penggiat sepak bola usia dini dengan membentuk wadah-wadah pembinaan. Akhirnya, wadah-wadah sangat mudah bermunculan ini seolah menjadi induk organisasi baru (rival) PSSI yang justru dengan mudah mengelola pembinaan mulai festival, hingga kompetisi usia dini.

Keberadaan Askot, Askab, dan Asprov seolah mandul. Bila PSSI berhasil memfungsikan Askot, Askab, dan Asprov maka persoalan pembinaan sepak bola akar rumput akan tuntas. Pastikan semua pembinaan usia dini melalui satu jalur yaitu di bawah naungan Askot, Askab, dan Asprov. Semetara, PSSI juga tetap mengiringi dan memantau kompetisi-kompetisi usia muda yang kini tengah bergulir dan dirintis oleh pihak swasta dan menjadikan mereka sebagai mitra.

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*