Pengamat: PDIP Alami “Hilangnya Magis” Partai Juara

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Jika dilakukan analisa, PDI Perjuangan sebenarnya sedang mengalami apa yang secara simbolik disebut sebagai “hilangnya magis” partai juara, karena hingga kini belum mempunyai jago yang jelas untuk diusung pada pemilu gubermur (pilgub) Nusa Tenggara Timur (NTT) 2018 mendatang.

Pengamat Sosial Politik Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, Maikel Raja Bataona sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Kamis (23/11/2017).

Menurut Bataona, belum memiliki jago untuk diusung dalam pilgub, bukan soal strategi politik. Memang politik injury time juga bisa menjadi sebuah opsi PDIP dalam Pilgub kali ini. Tapi aspek yang paling penting adalah soal kaderisasi. Apabila kader tersedia, PDIP tentu tidak butuh menunda penetapan calon.

Karena potensi konflik dan pertarungan antar faksi di internal partai menjadi semakin kuat dn bahkan akan memburuk pasca penetapan calon nanti. Inilah mengapa, kaderisasi itu menjadi krusial untuk PDIP. Sebagai pemenang tiga kali Pilgub di NTT dalam kurun waktu hampir dua dekade ini, PDIP seharusnya sudah lebih matang dan punya persiapan yag lebih sistematis dan tertata dengan baik.

“Dengan melihat situasi saat ini, saya berpandangan PDIP bisa saja “pecah” dan tidak powerfull dalam memenangkan figur yang kelak ditetapkan,” tandas Bataona.

Terkait nama- nama calon yang mencuat, Bataona menyatakan, di internal PDIP terdapat banyak faksi dengan jagonya masing- masing. Jika diidentifikasi dari nama-nama yang muncul, bisa terbaca bahwa nama-nama itu punya tarikan dengan semacam gerbong tertentu. Mulai dari Marianus Sae yang ditegaskan sendiri oleh Herman Hery. Lalu nama Hugo Parera dan Adinda Dua Nurak yang disebut oleh Gubernur Frans. Juga nama Ray Fernandes yang muncul dengan nama Kristo Blasin.

“Dalam bacaan saya, secara simbolik, publik sebenarnya sudah membaca seperti apa kondisi internal PDIP. Bahwa PDIP sedang terbelah dan bimbang untuk menentukan calonnya. Soal siapa yang lebih pantas keluar dari pintu PDIP,” ujar Bataona.

Baca juga : PDIP Janjikan Kejutan di Pilgub NTT

Dia berpendapat, sebagai partai kader dan partai dengan model institusionalisasi politik terbaik selain PKS dn Golkar, PDIP perlu memprioritaskan kader partainya sendiri demi menjaga soliditas dan menguatkan sentimen kader di sluruh daerah. Artinya jika dikaji dari nama- nama itu maka PDIP bisa memilih antara Ray Fernandes atau Kristo Blasin.

Jika bukan Kader partai yang diusung maka risiko politiknya adalah PDIP akan lumpuh secara ke dalam dan akan kesulitan menghadapi partai dan poros politik lain secra keluar. Soliditas partai sangt dibutuhkan di pilgub kali ini.

Menyinggung soal peluang antara Ray Fernandes dan Marianus Sae, Bataona sampaikan, jika harus memilih diantara keduanya, PDIP sudah sepantasnya mengutamakan kader. Karena ini effect gandanya ke kader dan simpatisan. Sebagai partai kader, PDIP sudah mendidik seorang kader mulai dari jenjang yang paling bawah hingga ke jenjang yang paling atas. Artinya kader tersebut setelah menjadi bupati misalnya, sudah tentu layak didorong ke jenjang tanggungjawab yang lebih tinggi.

“Sebagai analis yang bekerja berbasiskan pengetahuan dan data, menurut saya yang paling rasional bagi PDIP adalah mengutamakan kader yang punya potensi. Jika Ray Fernandes dipandang punya kapasitas dan kompetensi untuk menjadi gubernur. Mengapa tidak?,” tanya Bataona retoris.

Dia menambahkan, itu menjadi kewajiban PDIP untuk mengorbitkan kader- kader terbaiknya. Minimal sebagai bupati, Ray Fernandes sudah cukup paham tentang pemerintahan dan masalah sosial kemasyarakatan. Juga yang paling penting adalah masalah pengentasan kemiskinan di NTT.

Pengamat politik lainnya dari Unwira Kupang, Urbanus Ola Hurek menyatakan, parpol sebagai wahana menyemai kader maka sejatinya parpol memiliki kader untuk siap diorbitkan. Tidak elegan ketika pada hajatan politik tidak memiliki kader yang siap diorbitkan bahkan tergadaikan. Ini mengindikasikan bahwa proses kaderisasi parpol mandek.

“Bila ada elit tertentu yang memiliki kapabilitas dan reputasi yang hebat dan memiliki elektabilitas yang tinggi serta diapresiasi publik, patut diakomodir parpol tersebut. Yang dikedepankan adalah keunggulan, bukan mengandalkan materi, dan uang,” ujarnya.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*