Bank Indonesia Menduniakan Sumba Lewat Tenun Ikat dan Fashion

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Berbagai komponen peduli dengan tenun ikat pulau Sumba di Prolinsi Nusa Tenggara Timur. Bank Indonesia melalui program pemberdayaan ekonominya membidik tenunan hasil karya masyarakat Sumba ke pentas nasional dan dunia.

Salah satu dedikasi yang dilakukan BI yakni memfasilitasi pameran tenun, fashion show dan pasar tenun Sumba bekerjasama dengan disigner nasional Biyan Wanaatmadja di Nusantara Foyr The Dharmawangsa Hotel Jakarta (15/11/2017)

Rilis yang diterima media ini, Jumat (17/11/2017) menyebutkan, event akbar bertajuk Humba Hamu Beautiful Sumba itu dibuka secara resmi oleh Deputy Gubernur Bank Indonesia Rosmayahadi, dihadiri Wakil Gubernur NTT Benny Litenoni dan Ny. Franssiska Litelnoni, Kepala BI Perwakilan NTT Naek Tigor, ratusan aktivis dan penikmat tenun ikat dari berbagai negara, komunitas fashion nasional, perwakilan dari berbagai rumah produksi, para seniman serta para pemangku kepentingan.

Puluhan model ternama dari berbagai dunia nampak anggun dan bangga memperagakan aneka gaun panjang design Biyan yg pernah sukses membawa karya fashion Indonesia ke pentas mancangara. Dalam balutan tenunan sumba para model nampak lenggang lenggok diatas chatwalk yg didesign khusus bangunan rumah adat Sumba. Mereka mampu menghipnotis ratusan pengunjung dan tamu undangan akan kekayaan motif koleksi dan tentux dengan aksesories khas Sumba malam itu.

Sebagaimana diketahui, mahakarya Biyan memang selalu terkenal hingga ke berbagai benua. Maklum sudah sejak lama dia terlibat dalam dunia modeling bahkan pernah menghabiskan study magister khusus modeling di Eropa dan Amerika.

Dalam event kali ini dia memadukan konsep tradisional dan moderen dengan tetap mengedepankan nilai estetika yang khas dan anggun. Tenun Sumba juga dieksplorasi Biyan menjadi menjadi bahan dasar gaun panjang, kemeja dan juga diolah bersama material lain dengan teknik pathwork yg menjadi ciri khasnya.

Bahkan tenun Sumba yang mempunyai karakteristik rustic terpadu ringan dengan bahan-bahan luxurious seperti silk lame jjackguard ataoun katun yg dibuat dengan beragam pieces seperti jacketcoat outerwear dan blouse sesuai kepribadian pemakainya. Semuanya termodifikasi dengan tetap memperhatikan minat pasar fashion nasional dan internasional.

Perkenalan dengan tenun ikat dari propinsi NTT dan Sumba khususnya memang tidak terlepas dari begitu kayanya motif khas daerah ini. Atas keinginan Bank Indonesia untuk meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian budaya dan warisan leluhur juga menyadari pentingnya peran pengrajin didaerah terpencil seperti Sumba maka designer nasional Biyan termotivasi sama-sama menghadirkan event Humba Hammu (Sumba yang cantik).

Baca juga : Kadis Sosial Jamin Program Rehab Rumah Tetap Berjalan

Biyan dipandang mampu menerjemahkan warisan budaya Indoenesia khususnya Sumba yang kaya menjadi karya busana yg menakjubkan. Karya ini didukung oleh karya arsitek ternama Yori Antar yang merupakan seorang pendiri Rumah Asuh, sebuah yayayasan yang melestarikan bangunan tradisional diseluruh nusantara. Di Sumba Yori Antar membangun sarana bagi pelatihan pengrajin setempat.

Humba Hamu ditujukan sebagai jembatan antara pengrajin di Sumba dengan konsumen masyarakat luas. Event ini membuka mata generasi muda dan dunia tentang sebuah tempat bernama Sumba. Tempat dimana ada gugusan pulau yang kaya akan keindahan alam, seni budaya khususnya ikat, hunian leluhur, pusara megalitikum, pantai dengan pasir yg indah dan hamparan sabana yang luas.

Deputy Gubernur Bank Indonesia Rosmayahadi dalam sambutanya ketika membuka kegiatan tersebut menegaskan, komitmen BI untuk terus mempromosikan berbagai potensi Indonesia termasuk kekayaan tenun ikat dari Sumba propinsi NTT.

Saat ini, kata dia, tenun ikat NTT begitu seksi dan menyedot perhatian nasional karena kekayaan motif corak dan bahan pembuatannya. Melalui program MMSE Bank Indonesia bekerjama dengan designer nasional ternama seperti Biyan Wanaatmadja untuk mengangkat sumba ke level yang lebih tinggi. Harap dia, tidak hanya ke level nasional tetapi juga kegiatan serupa akan difasilitasi juga dalam berbagai event promosi berkelas dunia.

Dia berharap, melalui event ini dapat memicu masyarakat NTT untuk melihat tenun ikat sebagai model bisnis baru yang bisa dikembangkan untuk peningkatan ekonomi keluarga, industri kreatif tenun ikat juga akan terus dikembangkan sehingga nantinya bisa menjadi warisan budaya bangsa yang berdampak ekonomi bagi pemiliknya.

Wakil Gubernur NTT Benny A.Litelnoni kepada awak media saat itu menyampaikan terima kasih kepada Bank Indonesia yang telah memfasilitasi event tersebut. Terima kasih juga kepada designer nasional Biyan Wanaatmadja yang telah memilih kain tenun Sumba sebagai media utama dalam pamshow, pasar tenun dan pagelaran fashion show kali ini.

Baginya banyak pihak yang peduli dan mau secara sukarela mempromosikan NTT dengan kekayaan tenun ikat NTT menunjukan bahwa NTT kaya akan potensi seni budaya dan kearifan lokal yang syarat nilai ekonominya. Melalui kegiatan tersebit juga kata Benny secara tidak langsumg mengangkat industri kreatif dan pembangunan pembangunan di provinsi NTT.

Sementara Kepala BI Perwakilan NTT, Naek Tigor menjelaskan, Sumba merupakan satu dari tiga kampung tenun yg selama ini jadi pilot project Bank Indoensia di NTT. Dua kabupaten lainnya yakni di Kabuapten Belu dan Kota Kupang. Program ini kedepan akan terus dikembangkan di kota- kota lain di NTT dengan fokus dibidang lain.