Tebang Pilih Penggerebekan Judi, Warga Pertanyakan Aturan Berjudi di Rumah Duka

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – AL, seorang Ibu Rumah Tangga didampingi sejumlah keluarga duka yang beralamat di Kampung Famili Kelurahan Kefa Tengah Kabupaten Timor Tengah Utara menyampaikan sikap protesnya terhadap sejumlah anggota Polres TTU atas peristiwa yang terjadi di rumah duka pada Sabtu malam (11/11/2017).

Pasalnya sejumlah anggota polisi yang disebut tergabung dalam Tim Rajawali telah melakukan aksi penggerebekan dengan merusak beberapa alat permainan judi Bola Guling (BG) milik beberapa bandar judi yang mana berdampak pada suasana rumah duka turut berubah kacau lantaran keributan akibat aksi protes keluarga duka.

“Polisi – polisi itu datang beramai – ramai menggunakan motor trail. Begitu turun dari motor langsung tanpa permisi lakukan penggerebekan. Suasana di rumah duka berubah kacau, ribut sementara jenasah masih terbaring di ruang depan. Tamu undangan pada berlarian ketakutan. Polisi ko gerebek judi pakai tebang pilih. Kami meminta Kapolres TTU AKBP Rishian Krisna Budhiaswanto mengarahkan lagi anggotanya untuk tidak brutal dalam mendatangi rumah duka. Hargai tuan rumah, ijin baik – baik dan bawa meja bola guling itu juga pemiliknya kemudian silahkan proses sesuai aturan yang berlaku”, protes Al dengan geram.

AL juga pertanyakan aturan penggerebakan, apakah hanya berlaku untuk rumah duka tertentu saja. “Di kampung famili, di Kampung Sabu, di Bansone dan di beberapa tempat lainnya dalam bulan ini saja banyak orang meninggal. Kami saksi mata, judi bebas digelar sampai pagi terang bahkan berlangsung berhari – hari. Kenapa di rumah duka keluarga tertentu judi tidak ditutup. Malah polisi ikut menonton dan terima uang. (Sambil menyebutkan lima alamat rumah duka lain yang bebas dibuka untuk berjudi).

Baca juga : Hujan Angin di Kefamenanu, Satu Unit Avanza Putih Tertindih Pohon Tumbang

Kenapa di sini harus digerebek dengan cara yang sangat brutal. Pak Kapolres tolong tertibkan anak buahnya. Mau berantas judi ya berantas, mau tutup judi ya tutup semua , kenapa di sana boleh di sini tidak boleh. Toh yang panen, yang dapat uang judi juga nanti polisi bukan keluarga duka. Kalian polisi yang berkoordinasi dengan para bandar judi bukan kami tuan rumah. Kami yakin Kapolres tidak tahu soal koordinasi itu makanya kami minta Kapolres tolong tertibkan anak buahnya”, sambung AL dengan nada tinggi.

Sebagian keluarga duka ikut protes dan menuntut Kapolres TTU untuk menunjukkan aturan penggerebakan perjudian khusus di rumah duka, “Dalam suasana duka biasa kan ada mete – mete, ada yang main bola guling, kuru – kuru dan itu semua terjadi selama ini. Di setiap rumah duka kalau buka judi polisi pasti ada. Kami tahu dan lihat polisi – polisi itu biasa tengah malam baru tunjuk muka di tenda duka ambil jatah reman. Ada lain yang hadir tapi pantau saja, pagi – pagi baru bosnya atau anak buah datang ke rumah duka ambil jatah reman. Bosan lihat muka polisi yang sama saja setiap mete. Abis terima jatah bangun jalan, memalukan sekali”, ungkap seorang ibu dengan suara teriakan setelah polisi – polisi itu berlalu.

Kaitan dengan ungkapan koordinasi jatah uang judi antara bandar judi dan anggota polisi, seorang bandar judi Bola Guling, BN yang berhasil dikonfirmasi Selasa (14/11) juga membenarkan meja BG miliknya dirusak anggota polisi. “Kami buka dua meja dan baru malam itu juga. Tapi tiba – tiba sekitar jam 22.00 wita Tim Rajawali datang ke rumah duka dan hancurkan meja BG kami kemudian dibawa ke kantor polisi”, aku BN.

Ia juga mengungkapkan kekesalannya atas sikap anggota polisi yang dipertontonkan malam itu. Menurutnya pihaknya dan seorang bandar lainnya berani buka judi di rumah duka karena sudah ada koordinasi sebelumnya dengan pihak kepolisian namun bukan Kapolres.

“Kami sudah ada koordinasi awal dengan pihak kepolisian tapi bukan Kapolres. Sehingga kami berani buka dua meja malam itu. Mungkin saja diantara mereka secara intern ada miskomunikasi sehingga kami yang jadi korban. Terus terang, selama ini kalau buka judi dan ada koordinasi berarti ada jatah uang juga yang disetor ke polisi. Memang bukan saya yang biasa langsung koordinasi tapi setahu saya, jika di arena judi sepi pengunjung berarti satu meja itu siapkan uang setoran ke polisi sekitar Rp.700.000. Kalau ramai sekali berarti satu meja setor Rp 1 juta bahkan lebih. Tinggal dikalikan satu malam itu ada berapa meja yang dibuka. Semua kami setor ke mereka dan mereka sendiri yang atur pembagiannya karena bukan untuk anggota yang jaga saja tapi untuk bosnya dan itu ada pembagiannya. Mungkin malam ini karena kami baru buka, belum dapat keuntungan sehingga belum bisa pastikan berapa yang harus kami setor makanya permainan judi yang sudah dibuka ditutup kembali dengan cara yang brutal. Dua meja BG kami dihancurkan dan dibawa ke kantor Polisi”, lanjut BN lebih jelas.

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*